Senter.id dan Story of Chrysanthemum

IMG_6706

 

Halo readers! Lagi pada sibuk apa sekarang? Masih pada bersedia baca blog ini kan?

Setelah kemarin-kemarin isi blog ini diramaikan oleh review, tips, bahkan sampai resep, kali ini saya cuma mau bercerita tentang kerjaan pribadi saya. Kita mulai saja ya…

Continue reading “Senter.id dan Story of Chrysanthemum”

Advertisements

#yangmudayangberkarya

image

“Selagi ada kesempatan, berkarya ya.” – Hamidiyawan

Kalau ngeliat gambar di atas, muncul satu pertanyaan untuk kita semua yang pengen ku tanyain, “kalian lebih memilih hidup sebentar tapi bermanfaat atau hidup lama tapi useless?” Hidup seperti kura-kura memang sangat menggoda, doing nothing, nggak punya beban apa-apa, nggak punya tanggungan apa-apa, dan kayaknya nggak pernah ngerasain cemas selama hidupnya. Tapi apakah kita akan cukup puas dengan hanya berdiam diri?

Saat ini banyak artis mudah maupun public figure ‘meneriakan’ agar anak-anak muda masa kini mulai berkarya, dalam hal apapun entah seni, bisnis, atau apapun. Liat deh instagram Chelsea Islan, dia sering banget posting dengan hastag #yangmudayangberkarya. Raditya Dika dan Pandji sering jadi pembicara di seminar Creativepeurner buat anak-anak muda.

Seperti yang kita tau, sebenarnya usia nggak bisa jadi patokan buat kita menghasilkan sebuah karya. Untuk contoh, Damien Chazelle (32 tahun) bisa menjadi sutradara termuda dalam sejarah perfilman Hollywood yang memenangkan Oscar. Mungkin ini juga bisa jadi sejarah dunia sih. Joko Anwar aja sampe bikin tweet, “Damien Chazelle diusia 32 udah berhasil dapet oscar, kita diumur 32 udah bikin apa?” yap. Kalau kita selalu berpikiran untuk nunggu umur yang tepat untuk berkarya, kita akan selalu kalah dari orang lain yang mungkin nggak punya pemikiran kayak gitu.

Selalu berhenti berkarya saat ngerasa karyanya nggak cukup bagus? Seperti yang dibilang sama Pandji, ‘semua karya awal tuh pasti alay.’ Ya aku rasa berkarya itu kayak belajar, kayak belajar jalan, kita kan ngga akan bisa langsung lari, pasti jatuh dulu. Begitu juga dengan karya, pertama kita nulis ya nggak bakal bisa dibandingin sama buku-bukunya Dewi Lestari atau Ika Natassa. Pertama kali kita bikin film juga nggak akan sebagus sama film-filmnya Hanung Bramantyo atau Fajar Nugros. Pertama kali kita open mic, ya nggak akan selucu Pandji Pragiwaksono dan Mo Sidik yang udah keliling dunia.

Semua itu butuh proses, butuh waktu dan pastinya butuh usaha. Aku tau kok, dan ngerasain juga, yang namanya maintance usaha dan niat itu nggak gampang. Banyak banget godaannya, banyak banget hal yang akan bikin kita rasanya pengen berenti aja, pengen nyerah aja. Bikin buku tapi nggak lolos publishing, coba ngelucu tapi nggak ada yang ketawa. Kayak yang disampaikan sama Coach Carter di film dengan judul sama ‘walaupun kita ditakdirkan untuk sukses, tapi terkadang kita harus merebut kesuksesaan tersebut.’

In the end, buat siapapun yang ingin berkarya, berkarya lah. Urusan bagus atau jelek itu urusan belakangan. Lagian dengan kita mencoba dan gagal, kita akan tau apa yang harus diperbaiki daripada kita sama sekali mencoba, ya kita nggak bakal tau apa yang kurang dari kita. So, what would you choose to live? Being a rabit, a dog, or a turtle? Its Your choice.

 

“Mulailah berkarya, lalu perbaiki hasil karya tersebut.”