cerita pribadi

Hijab? Kenapa enggak?

“Ketika Jilbab mengetuk hati, tak ada yang akan mampu menghalangi.”

 

                Pernyataan dan pertanyaan umum yang muncul ketika aku memutuskan untuk memakai hijab adalah “Alhamdulillah, akhirnyaaa….” atau “Apa yang mendorong pakai kerudung?” Aku sendiri sebenarnya bingung kalau ditanya seperti itu, karena aku sendiri merasa tidak mendapatkan hidayah apa-apa sebelum akhirnya memutuskan untuk merubah penampilan. Orang tua ku tidak menyuruh, bahkan cenderung ‘melarang’ aku untuk menggunakan hijab sebelum bisa memperbaiki perilaku dan ibadah wajib lainnya. Teman-teman terdekatku beberapa kali mengajak teman-teman lainnya untuk berhijab, dan aku adalah satu-satunya yang tidak pernah menggubris ajakan itu. Orang terdekatku (pacar) pun tidak pernah menanyakan kapan aku akan menggunakan kerudung. Yang pasti, aku merasa ada yang mendesak diriku, dari dalam diri untuk segera merubah penampilan. Beberapa bulan terakhir aku selalu terpikir untuk menggunakan kerudung, namun ada saja yang akhirnya membuat ku tidak jadi menggunakan hijab, mungkin ke’tidaksetujuan’ ibu ku menjadi salah satu alasannya.

                 Ya. Saat ini hati ku sudah tersentuh, aku ingin menggunakan kerudung, no matter what. Aku tau aku masih banyak, bahkan sangat banyak kekurangan dari mulai shalat kadang masih suka ketinggalan, masih suka ngomongin orang lain, dan dosa-dosa kecil lainnya yang bahkan mungkin nggak kita sadari sebelumnya. Tapi di satu sisi, aku juga punya informasi bahwa wanita yang sudah akil baligh itu wajib menggunakan hijab, aku juga tau bahwa anak perempuan yang menggunakan hijab dapat memberikan sedikit pahala untuk ayahnya. Mungkin itu yang menjadi salah satu pendorong ku sampai akhirnya memutuskan untuk menggunakan hijab.

                Kalau aku diminta untuk refleksi lagi, ada salah satu alasan yang cukup pribadi untukku yang akhirnya membuat aku tergerak untuk berhijab. Aku merasa sudah diberikan banyak kemudahan oleh Yang Maha Kuasa, diberikan rejeki oleh-Nya, tapi kenapa aku selalu mencari alasan untuk tidak menjalankan salah satu kewajibannya? Alasan ini juga yang sebenarnya membuat shalat ku saat ini jauuuh lebih baik daripada dulu (meskipun belum sempurna sih, better but not perfect, yet). Aku juga nggak mau ketika aku memohon padaNya, dan Yang Maha Kuasa memberikan banyak alasan untuk tidak mengabulkan hal tersebut (meskipun hal ini sepertinya tidak mungkin sih, hehe.)

                Pada akhirnya kepada siapapun yang bertanya kenapa aku memutuskan untuk berhijab, jawabannya cuma satu, kenapa nggak? :”)

Advertisements
opini

Media Social Generation

1052414

 

Semenjak tahun 2000, media sosial menjadi primadona di kalangan anak muda, beberapa ibu-ibu dan beberapa bapak-bapak. Semua orang berasa di berikan kebebasan untuk mengekpresikan diri mereka, bebas beperilaku seperti apa di media sosial, apa lagi setelah jaman orde baru selesai. Menurut Wikipedia, media sosial itu adalah suatu media online dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan. Semakin ke sini ragam media sosial juga semakin banyak, seperti yang kita tau dari jamannya yahoo, google, friendster, facebook, twitter sampai sekarang jamannya snapchat.

Seperti yang kita tau, salah satu alasan Mark Zuckerberg membuat facebook adalah untuk media komunikasi teman-teman mahasiswanya di Harvard University jadilah facebook, salah satu media sosial ter-favorite sedunia, kurang lebih ada 1,44 miliyar orang yang menggunakan facebook di dunia (Data tahun 2015). Jack Dorsey dan kawan-kawan, menciptakan twitter dengan awal tujuan agar orang-orang dapat berbagi pesan kepada semua teman-temannya dengan lebih mudah dan sekarang twitter menjadi salah satu media sosial terkenal yang based nya adalah media berita.

Nah, semakin kesini semakin banyak kan macam-macam dari media sosial itu. Disadari atau tidak, dengan adanya media sosial ini juga mempengaruhi kehidupan banyak individu. Memang dengan maraknya media sosial, kita sebagai individu muda dan modern (cie..) menjadi merasa lebih leluasa untuk mengungkapkan pendapat kita mengenai suatu hal. Dengan adanya media sosial itu juga, kita diberikan kesempatan untuk ‘menunjukan’ kepada dunia mengenai siapa diri kita, dari mulai kegemaran, kebiasaan, bahkan sampai kelas sosial. Di media sosial juga kita jadi bisa tau teman kita atau bahkan orang lain sudah mengerjakan tugas perkembangannya atau belum.

Tidak sedikit orang-orang mempublikasikan kehidupan sehari-hari mereka dari mulai hal yang wajar sampai terkadang berlebihan. Aku pernah membaca salah satu pendapat orang mengenai Awkarin, dia berpendapat bahwa dia bangga dengan Awkarin karena bisa dengan bebas mengungkapkan pada dunia siapa dirinya, tidak takut memperlihatkan gaya hidup dia yang pasti akan mendapatkan pro-kontra dari para netizen. Dia juga beranggapan bahwa orang-orang di luar sana juga banyak yang gaya hidupnya seperti Awkarin, hanya saja mereka tidak mempublikasikannya ke dunia. Mungkin memang benar, hal apa yang mau mereka publikasikan di media sosial adalah hak dari individu itu sendiri. Tapi apakah yang dia publikasikan itu cukup bermanfaat untuk banyak orang? Apalagi kalau mempublikasikannya via media sosial yang terbuka dan bisa dilihat oleh semua orang, seperti Youtube, Instagram, ataupun Blog.

Dengan adanya media sosial juga sebenarnya semakin meningkatkan tekanan sosial, misalnya teman-teman seangkatan kita sudah pada menikah bahkan punya anak sedangkan kita sendiri jangankan menikah, calonnya aja belum ada. Atau melihat temannya posting foto tunangan sama pacarnya, kita langsung pengen cepet-cepet dilamar sama pacar kita, padahal baru pacaran satu minggu. Hal lain yang lebih sederhana, misalnya melihat teman abis pulang nonton konser boyband Korea, terus kita ngerasa sebel karena kita nggak bisa ikutan nonton. Ngeliat temen kita posting foto mobil barunya, terus kita ngomongin. Ya hal-hal simple tapi berkontribusi nambah dosa gitu sebenernya.

 Sekarang-sekarang juga lagi banyak banget berita hoax yang ada di media sosial, banyaaaaaakkk banget malah. Aku pun kadang suka bingung, kenapa orang-orang sangat mudah percaya sama berita-berita yang sebenarnya website­-nya pun belum tentu credible. Semudah itu masyarakat Indonesia dibohongi? Kadang dengan adanya berita hoax juga semakin memanaskan keadaan, apalagi kalau berhubungan dengan dunia politik yang kayak gurun itu, selalu panas maksudnya. Yang awalnya situasi pilkada udah aman, tenang, eh gara-gara ada berita hoax jadi panas lagi, jubir dari setiap calon saling keras-kerasan berpendapat serasa calon pilihannya adalah pilihan terbaik. Duh, ini yang aku rasakan tiap buka twitter beberapa bulan terakhir, jadi pusing sendiri gitu bacanya, dan akhirnya membuat nggak nyaman. Mungkin hal ini juga dirasakan oleh banyak orang, bukan cuma aku sendiri.

Sebenarnya media sosial juga nawarin banyak manfaat sih, terutama untuk kegiatan promosi. Pasti kan buat mereka yang punya bisnis, media sosial ini ngasih banyak manfaat banget buat mereka. Mereka bisa promosiin bisnisnya tanpa harus bayar kayak koran ataupun radio. Buat yang seneng bikin video, foto dan tulisan pun dimudahkan untuk ‘’berbagi’ hasil karyanya di media sosial. Buat mahasiswa juga yang mau cari informasi pun sangat dimudahkan dengan adanya media sosial, tinggal tulis keyword di google, dan semuanya akan muncul di sana.

Semua balik lagi ke kita sebagai penikmat yang harus pintar memiliah, memilah apa yang kita baca, yang kita lihat dan yang terpenting memilah mana yang akan kita posting, yang kita akan ‘perlihatkan’ ke dunia.

review

Review : Moammar Emka’s Jakarta Undercover (2017)

jakarta-undercover-poster

“Pesta yang tak pernah usai.”

Film yang dibuat berdasarkan novel karya Moammar Emka ini menurutku harus diacungi jempol. Nama Jakarta Undercover pasti sudah tidak asing lagi dong buat teman-teman? Ya, novel ini sudah exists bertaun-taun lalu, bahkan kayaknya ketika saya SMP pun sudah ada. Cerita dari novel ini ya tidak jauh-jauh membahas kehidupan malam ‘yang tidak terlihat’ di Jakarta. Sebenarnya film yang tahun 2017 ini sendiri merupakan adaptasi dari novel Jakarta Undercover yang keempat.

Film ini disutradari oleh Fajar Nugros, sejauh ini kayaknya aku pribadi nggak pernah kecewa sih sama film hasil besutan Mas Fajar ini, dari mulai Queen Bee (2009), Cinta Brontosaurus (2013), sampai Refrain (2013). Dan rasa puas itu muncul lagi di film terbarunya ini. Bahkan saking puasnya, saat keluar bioskop aku bertanya ke temanku, ‘apa ya kekurangan dari film ini?’

ganindra-bimo-oka-antara-jakarta-undercover

 

Penulisan skenario dan adaptasi novel yang juga dilakukan oleh Fajar Nugros sendiri dan Piu Syarif terasa apik. Penyampaian konflik yang sebenarnya cukup berat beserta penyelesaiannya pun nggak terasa maksa. Dari awal, kita terasa ikut hanyut di kehidupan Pras (Oka Antara) dengan segala konflik yang dia alami. Anak desa baik-baik, yang memutuskan untuk menjadi wartawan di Jakarta dan berkenalan dengan semua kehidupan malam Jakarta yang sangat berbeda dengan kehidupannya dulu bahkan mungkin prinsip hidupnya.

Dipertengahan cerita, kita juga dibikin panik sama konflik yang mulai muncul satu-satu. Dari mulai usaha Pras mendapatkan infomasi mengenai kehidupan malam secara diam-diam, hubungannya dengan King Of Party-nya Jakarta, Yoga (Baim Wong) beserta asisten pribadinya Ricky (Richard Kyle), sampai hubungan dekat Pras dengan Laura (Tiara Eve) seorang super-model yang terpaksa menjadi PSK tingkat atas karena Ayahnya tersandung kasus korupsi, dan ternyata merupakan pacar dari Yoga.

oka-antara-moammar-emka-jakarta-undercover

Moammar Emka's Jakarta Undercover

Meskipun terkesan berat dan gelap banget, namun sisi komedi dapat dimunculkan oleh para tim ini. Dari mulai skenario yang mungkin sebenarnya nggak dimaksudkan untuk melucu tapi toh tetap memunculkan gelak tawa. Apalagi peran Awink, seorang banci yang dimainkan oleh Ganindra Bimo. Coba aja bayangin, Bimo dengan badannya yang gagah, tegap, dan tattoan tapi harus memerankan peran laki-laki super gemulai. Menurutku sendiri Bimo bisa dibilang jadi show stealer­-nya di film ini sih. Akting pemain yang lain juga nggak bisa diragukan lagi sih, Oka Antara, Baim Wong, bahkan Tiara Eve sebagai pemain baru pun menurutku sangat mumpuni. Oh iya! Kalau kalian mengira akan melihat Baim Wong seperti di sinetron-sinetron televisi, salah besar! Akting Baim Wong jadi salah satu daya tarik film ini juga menurut ku.

Akhirnya, aku dan teman-teman yang ikut nonton juga setuju bahwa kekurangan dari film ini adalah keputusan tim untuk menggunakan ‘blue screen’ di beberapa adegan. Memang mungkin tujuannya untuk memberi tau penonton bahwa itu hanya mimpi, tapi tetep aja cukup  mengganggu.

Overall, aku suka dan puas banget sama film ini. Fajar Nugros dan tim berhasil menjadikan film ini jadi salah satu film Indonesia favorit ku.

Score : 8/10

review

Review : Bio-True ONEday Lenses

sam_0553

 

Hai Readers, apa kabar?

Maaf ya sebulan ini hilang dari dunia blogging, karena lagi sibuk sama tugas kuliah dan project-an buku Chrysanthemum hehehe. Sebenernya saya udah lama pengen review produk ini, tapi nggak sempet terus dan baru keingetan sekarang.

sam_0554

Jadi awalnya saya bisa dapet produk ini gara-gara nemu websitenya, terus regristrasi dan langsung dikirimkan 2 paket lensa kontak yang berisi 5 pasang secara gratis. Sepertinya sih ini memang produk baru, karena sampai saat ini saya kesulitan nyari, keliling optik pun belum berhasil nemuin. Untuk yang tau beli barang ini dimana boleh komen yaa, terimakasih 🙂

Setelah saya pakai, apa hasilnya? ENAK BANGET! Produk ini hampir ngalahin lensa kontak dari acuve yang juga memang nyaman di pakai. Masangnya gampang banget ke mata, sekali sentuh langsung nempel. Rasanya juga nggak ganjel gitu, jadi nggak berasa kalau lagi pake lensa kontak. Lensa kontak ini juga ngga gampang bikin mata kering, saya paling lama pakai ini selama 12 jam, dan selama itu saya cuma 2x pakai tetes mata. Waktu mau ngelepas juga gampang banget, sekali cabut langsung keambil. Pokoknya enak! Buat saya pribadi malah lebih cocok pakai yang ini daripada acuve, hehehe.

Masalahnya, agak susah nyari barangnya. Kayak yang udah saya bilang tadi, nyari ke berbagai macam optik ngga nemu terus. Dari mulai optik beneran, sampai toko jual lensa kontak biasa. Saya malah nemu cairannya, sedangkan lensa kontaknya sendiri nggak ada. Padahal saya akan dan mau beli lagi barang ini, enak banget deh! Buat temen-temen yang membutuhkan lensa kontak harian dengan warna bening wajib banget cobain produk dari Bio-True ini, dan kemungkinan kalian nggak akan menyesal, hehe.

 

 

PS : buat temen-temen yang tau beli lensa kontak Bio-True dimana harap komen ya. Eh yang lain juga boleh komen deng hehe :””)

 

cerita pribadi

Terima kasih 2016. Selamat datang 2017

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Chrysanthemum

Tahun 2016 ini kayaknya jadi tahun yang paling ngga kerasa, cepet banget rasanya. Perasaan baru awal tahun, eh tau-tau udah akhir taun lagi aja. Sebenarnya cukup banyak hal yang terjadi di tahun 2016. Awal tahun dimulai dengan saya masuk penjurusan Klinis Dewasa di kampus. Jurusan ini memang sesuai dengan keinginan saya dari awal sih. Setelah itu perkuliahan di lalui seperti biasa, ke kampus, ngerangkum buku, lalu ditutup dengan presentasi, nggak ada yang spesial sebenernya. Sampai tengah tahun, kami semua berkesempatan untuk Kerja Praktek di salah satu RSJ di Lawang, Malang. Di sana kami (jurusan KLD) bertugas selama 2 minggu, ya 10hari sih totalnya, kami diberi kesempatan buat berkomunikasi langsung dengan ODS (orang dengan Schizophrenia), ngobrol-ngobrol sama mereka, ngasih terapi-terapi sederhana buat mereka, dan juga kami diberi kesempatan buat belajar bagaimana kerja di rumah sakit.

 

img_5943
Foto kami di RSJ :”)

Yap. Pengalaman saya di RSJ ini memang yang paling berkesan dari keseluruhan tahun 2016. Di bulan itu juga, akhirnya saya mengakhiri ‘kesendirian’ hehehhe (ini ngga usah dibahas lebih lanjut ya, udah ada di postingan sebelumnya) hihihihi.

Tahun 2016 juga jadi salah satu tahun yang sering sekali saya keluar Bandung, dari mulai sekedar main ke Jakarta, di Malang selama dua minggu, sampai ke nikahan teman di Jogja. Saya sebenarnya lupa pada awal tahun membuat resolusi atau tidak, tapi sejauh ini saya cukup puas dengan keadaan di tahun 2016. Kurangnya saya hanya kurang ‘pintar’ mengelola uang sendiri, jadinya sering keteteran gitu hehehe. Oh, akhir tahun 2016 ini saya dibikin hectic sama semua tugas kuliah, apalagi dengan ‘tuntutan’ dari orang tua (read: ayah) dengan ditanya ‘kapan lulus?’ ‘kapan atuh ngasilin uang sendiri?’ sampai ‘nanti udah lulus mau ngapain?’ Sebenarnya semua pertanyaan itu cukup bikin saya terbebani sih. Tapi ya gimana lagi, ini udah jadi keputusan saya untuk kuliah lagi, mau nggak mau harus dijalanin kan? Intinya tetap berdoa dan berikhtiar. Semoga semuanya diberikan kelancaran dan kekuatan.

Terima kasih 2016. Terima kasih untuk semuanya, untuk semua kenangan dan pembelajaran yang kamu berikan :”””)

Selamat datang 2017…

Cukup banyak hal yang saya ingin lakukan di tahun 2017 ini. Dari mulai pengin lulus S2, kerja, kembali menyelesaikan buku (insyaAllah yang ketiga hehe), dan mungkin nikah? eh hehehe.

Oh iya, awal tahun ini saya berhasil kembali menerbitkan buku saya yang kedua via self-publishing, judulnya diambil dari nama latinnya Bunga Seruni, yaitu Chrysanthemum. Sebenarnya dulu agak sulit untuk menentukan judul untuk Novel Antalogi fiksi pertama saya, sampai akhirnya saya memiliki keinginan untuk mencari nama bunga yang bagus dan memiliki makna yang sesuai dengan tema cerita-cerita yang saya buat, dan ditemukan lah Chrysanthemum yang kebetulan merupakan nama latin dari bunga Seruni juga.

Maka dari itu, tahun ini saya ingin membuat novel lagi yang full satu cerita dan menyisipi ilmu Psikologi yang saya dapat dari kampus. Semoga mulai bulan Februari sudah mulai bisa saya kerjakan yaa. Aamiin..

Keinginan saya yang lainnya adalah punya website sendiri. Ini sedang proses sih, saya masih harus membereskan layoutnya dulu sebelum launching websitenya, Mohon ditunggu saja yaa…

Nah berhubungan dengan keinginan yang ini, akhirnya saya memutuskan untuk pindah domain ke wordpress.com, karena nguliknya lebih gampang hehehe. Maaf ya teman-teman yang sudah keburu follow blog ini, mulai akhir bulan nanti accountnya akan saya hapus dan resmi pindah ke wordpress. Nanti di sana akan digabung semua kategori yang pernah saya buat, dari mulai curhatan biasa, tulisan corat-coret saya, segala macam review (tempat, film, buku) sampai akan ada kategori baru yaitu tips tentang makanan dan minuman buat teman-teman semua. Semoga nanti lebih bermanfaat yaa, bukan cuma postingan nggak jelas hehehe.

Sekali lagi. Selamat Tahun Baru 2017 yaa!!! Tetap bermimpi dan terus berusaha untuk tetap jadi manusia terbaik bagi manusia lain, lingkungan, dan Tuhan. 🙂

Tips

Tips : Bikin Kopi ‘rasa cafe’ Dengan Hemat

Hai Reader, Halo Coffee lover…

Ini postingan pertama saya tentang tips-tips. yang mungkin lebih manfaat daripada postingan-postingan saya biasanya, hehehe..

Semenjak coffee shop bertebaran dimana-mana, saya yang awalnya biasa aja sama kopi sekarang jadi suka banget. kayaknya tiap hari ‘harus’ minum kopi. Untung kesadaran saya akan gula darah masih cukup baik, jadi kadang kalau lagi ‘sadar’ saya bertahan untuk tidak minum kopi. Semenjak suka banget kopi saya jadi lebih bisa bedain rasa kopi instan biasa dengan kopi-kopi yang dijual di coffee shop (yang jelas harganya lebih mahal).

Setelah melihat tips yang pernah di share Sitta Karina di Blognya, saya akhirnya menemukan cara buat bikin kopi rasa coffee shop tersebut namun masih sesuai dengan harga kopi instan biasa. Di blog nya Mba Sitta memang diberitahukan mengenai bahan-bahan yang bisa digunakan, yang menurut saya masih cukup agak mahal untuk mahasiswa, hehe. Akhirnya saya bereksperimen dengan bahan-bahan yang jelas lebih murah. dan ternyata hasilnya pun cukup memuaskan.

untuk Kopinya, saya memakai kopi instan dari nescafe classic, dibawah ini tampilannya ya, harganya kalau ngga salah sekitar 6000-7000 dapet 10 saset harga berubah tergantung tempat belinya, mungkin kalau beli di pasar akan lebih murah. Kalau ingin mendapatkan rasa lebih enak dengan harga yang terjangkau, teman-teman bisa coba pakai kopi Aroma. Saya belum sempat coba karena belum sempat beli, namun sepertinya untuk kopi Aroma, pada akhirnya perlu di saring terlebih dahulu karena biasanya dia menyisakan ampas kopi.

 

Di blog Mba Sitta, dikatakan usahakan jangan pakai creamer, tapi di ganti pake susu UHT. dan ternyata memang benar, enaaak! untuk susu UHT nya saya pakai Ultra, karena harga yang lebih murah dari greenfield (yang memang menghasilkan kopi lebih enak). Harganya pun tergantung tempat membeli, untuk ukuran yang kecil seperti ini harganya sekitar 4500-5000. dan bisa dipakai 2-3 kali sesuai dengan selera masing-masing.

untuk pemanis, karena di rumah tidak ada sirop apapun, dan untuk membeli pun harganya cukup mahal, akhirnya saya memilih untuk menggunakan gula putih yang sebelumnya dicairkan dulu menggunakan air panas, banyaknya gula pun tergantung selera masing-masing yaaa..

Cara pembuatan :

1. tuang kopi di dalam gelas.

2. didihkan susu UHT.

3. cairkan gula putih menggunakan air panas.

4. campurkan semuanya.

5. Silahkan menikmati kopi hasil sendiriii.

Kalau ada yang punya cara lain, boleh share di sini atau email ke yuniartiruni@gmail.com yaaa…

SELAMAT MENCOBAAA!!

Salam kopi.

cerita pribadi

16 yang Ke-lima (Still Counting)

 

Seorang kerabat pernah berkata, “jodoh mah jorok, kita bisa ketemu mereka di mana aja.” Dulu aku tidak begitu memikirkan hal tersebut, sampai pada akhirnya aku mengalaminya sendiri.

Tiga tahun lalu, seperti yang teman-teman (read : yang suka baca blog ini) tau, aku dan beberapa teman berlibur ke Malang. Nah di sana, kami bertemu dengan orang yang berada di foto atas, kenalkan namanya Hamidiyawan, dia waktu itu jadi tourgide kami selama di Bromo (yang kami extend selama di Malang) akibat sikap dia yang friendly dan charming hehehe.

Singkat cerita, aku dan mas Hamid ini masih intens komunikasi meskipun aku sudah di Bandung, kedekatan kami saat itu cukup menimbulkan beberapa drama di hidupku (yang nggak akan aku bahas di sini). Kurang lebih kami intens komunikasi selama 1 tahun, setelah itu kami sama sekali tidak pernah berkomunikasi, aku dan dia seperti dua orang yang tidak pernah bertemu sebelumnya, seperti dua orang yang tidak pernah saling mengenal. Oh iya, saat itu pun akhirnya dia memiliki kekasih.

Pada tahun 2015, setelah lebaran (aku lupa tepatnya hari ke berapa), tiba-tiba tanpa ada angin apa-apa mas Hamid menelfon ke handphone ku yang bahkan saat itu sudah tidak ada nama dia di contact ku. Hari itu aku bercerita bahwa aku akan melanjutkan sekolah dan kemungkinan akan kembali datang ke Malang untuk melakukan kerja praktek. Setelah hari itu, mas Hamid mulai sering terlihat lagi di media sosial ku, ntah hanya posting biasa atau mengomentari postinganku.

Bulan-bulan selanjutnya berlalu tanpa ada kejadian apapun, sampai akhirnya pada sekitar bulan April-Mei 2016, aku menghubunginya kembali untuk bilang kalau aku jadi berangkat ke Malang, saat itu tujuannya memang karena ya hanya untuk memberi info dan meminta bantuan untuk acara liburan ku dan teman-teman selama di Malang. Saat itu aku sama sekali tidak (mau) berharap aneh-aneh, ya jujur drama-drama di tahun 2013-2014 cukup membuatku belajar dan menjadi lebih waspada, hehe.

Sampai lah saatnya aku berada di Malang, selama dua minggu di sana, aku dan dia sempat bertemu sebanyak 3 kali. Komunikasi selama di Malang pun terjaga dengan baik. Beberapa teman yang mengetahui cerita lengkapnya pun memberikan pendapat yang berbeda, ada yang mendukung namun ada juga yang mengingatkanku untuk berhati-hati. Setelah 2 minggu berada di Malang, akhirnya sampai pada hari untuk aku kembali ke Bandung, ketakutan itu muncul lagi. Aku yang sudah kembali nyaman dengan keberadaan dia di keseharianku, di hidup ku harus bersiap kalau-kalau someday kami akan kembali menjadi dua orang asing dan tanpa ada kejelasan apapun sebelumnya.

Namun mungkin Allah berkata lain, Mas Hamid akhirnya menyampaikan niat nya untuk menikah denganku. Apa perasaan ku saat itu? Jelas kaget, dan mungkin sedikit tidak yakin. Ya aku tidak yakin dengan apa yang dia ungkapkan, aku takut dia berkata seperti itu hanya karena sedang terbawa suasana (karena kami sedang sama-sama sendiri dan habis bertemu secara cukup intens di Malang). Dalam keadaan itu aku selalu berdoa untuk diberikan kejelasan, diberikan keyakinan jika iya memang dia orang yang tepat untuk ku, memang orang yang selama ini aku tunggu.

Ternyata Allah menjawab doa ku, makin ke sini aku semakin yakin tentang dia, tentang kami. Kami memang sangat jarang bertemu, untuk bertemu satu bulan sekali saja rasanya sudah bersyukur. Komunikasi pun tidak seintens aku dengan mantan-mantanku dulu. Tapi rasa yakin itu tetap ada, rasa percaya ku pada dia juga datang begitu saja. Keyakinan ku ini pun akhirnya membuatku mudah untuk menceritakan hubungan kami secara detail pada orang tua, mengenai niat kami yang memang serius dan memang sudah terpikirkan untuk melangkah lebih jauh. Keyakinan ini juga yang membuatku lebih percaya diri untuk menjalin komunikasi dengan keluarganya, dengan adik-adiknya, bahkan dengan ibunya. Keyakinan ini membuatku melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan dengan mantan-mantanku sebelumnya.

Hubungan kami memang baru seumur jagung, kami masih harus banyak sama-sama belajar mengenai diri masing-masing. Kami masih harus sama-sama beradaptasi dengan hubungan jarak jauh ini, masih harus belajar untuk memahami perbedaan karakter kami masing-masing. Namun di balik itu semua, aku bersyukur dipertemukan dengannya, diberikan kesempatan kedua untuk bertemu dengannya. Kami memang belum tau kedepannya akan seperti apa, kami hanya bisa berdoa semoga niat baik kami diberikan jalan oleh Allah.

Terima kasih sudah meluangkan waktu sampai akhirnya kita bisa bertemu.

Terima kasih sudah meluangkan dan melakukan perjalanan 390km hanya untuk bertemu denganku.

Terima kasih sudah percaya dan menjaga kepercayaan ku selama ini.

Maaf kalau aku masih banyak kurangnya.

Maaf kalau aku masih bandel dan susah di bilangin.

Mohon untuk terus mengingatkan,

Saling mengingatkan, untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Menjadi pasangan yang lebih baik lagi. Membuat hubungan ini menjadi hubungan yang lebih baik dan lebih kuat.

Terima kasih, A Iya.

I miss you.

With Love,

Seruni.