review

Review : Bio-True ONEday Lenses

sam_0553

 

Hai Readers, apa kabar?

Maaf ya sebulan ini hilang dari dunia blogging, karena lagi sibuk sama tugas kuliah dan project-an buku Chrysanthemum hehehe. Sebenernya saya udah lama pengen review produk ini, tapi nggak sempet terus dan baru keingetan sekarang.

sam_0554

Jadi awalnya saya bisa dapet produk ini gara-gara nemu websitenya, terus regristrasi dan langsung dikirimkan 2 paket lensa kontak yang berisi 5 pasang secara gratis. Sepertinya sih ini memang produk baru, karena sampai saat ini saya kesulitan nyari, keliling optik pun belum berhasil nemuin. Untuk yang tau beli barang ini dimana boleh komen yaa, terimakasih 🙂

Setelah saya pakai, apa hasilnya? ENAK BANGET! Produk ini hampir ngalahin lensa kontak dari acuve yang juga memang nyaman di pakai. Masangnya gampang banget ke mata, sekali sentuh langsung nempel. Rasanya juga nggak ganjel gitu, jadi nggak berasa kalau lagi pake lensa kontak. Lensa kontak ini juga ngga gampang bikin mata kering, saya paling lama pakai ini selama 12 jam, dan selama itu saya cuma 2x pakai tetes mata. Waktu mau ngelepas juga gampang banget, sekali cabut langsung keambil. Pokoknya enak! Buat saya pribadi malah lebih cocok pakai yang ini daripada acuve, hehehe.

Masalahnya, agak susah nyari barangnya. Kayak yang udah saya bilang tadi, nyari ke berbagai macam optik ngga nemu terus. Dari mulai optik beneran, sampai toko jual lensa kontak biasa. Saya malah nemu cairannya, sedangkan lensa kontaknya sendiri nggak ada. Padahal saya akan dan mau beli lagi barang ini, enak banget deh! Buat temen-temen yang membutuhkan lensa kontak harian dengan warna bening wajib banget cobain produk dari Bio-True ini, dan kemungkinan kalian nggak akan menyesal, hehe.

 

 

PS : buat temen-temen yang tau beli lensa kontak Bio-True dimana harap komen ya. Eh yang lain juga boleh komen deng hehe :””)

 

cerita pribadi

Terima kasih 2016. Selamat datang 2017

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Chrysanthemum

Tahun 2016 ini kayaknya jadi tahun yang paling ngga kerasa, cepet banget rasanya. Perasaan baru awal tahun, eh tau-tau udah akhir taun lagi aja. Sebenarnya cukup banyak hal yang terjadi di tahun 2016. Awal tahun dimulai dengan saya masuk penjurusan Klinis Dewasa di kampus. Jurusan ini memang sesuai dengan keinginan saya dari awal sih. Setelah itu perkuliahan di lalui seperti biasa, ke kampus, ngerangkum buku, lalu ditutup dengan presentasi, nggak ada yang spesial sebenernya. Sampai tengah tahun, kami semua berkesempatan untuk Kerja Praktek di salah satu RSJ di Lawang, Malang. Di sana kami (jurusan KLD) bertugas selama 2 minggu, ya 10hari sih totalnya, kami diberi kesempatan buat berkomunikasi langsung dengan ODS (orang dengan Schizophrenia), ngobrol-ngobrol sama mereka, ngasih terapi-terapi sederhana buat mereka, dan juga kami diberi kesempatan buat belajar bagaimana kerja di rumah sakit.

 

img_5943
Foto kami di RSJ :”)

Yap. Pengalaman saya di RSJ ini memang yang paling berkesan dari keseluruhan tahun 2016. Di bulan itu juga, akhirnya saya mengakhiri ‘kesendirian’ hehehhe (ini ngga usah dibahas lebih lanjut ya, udah ada di postingan sebelumnya) hihihihi.

Tahun 2016 juga jadi salah satu tahun yang sering sekali saya keluar Bandung, dari mulai sekedar main ke Jakarta, di Malang selama dua minggu, sampai ke nikahan teman di Jogja. Saya sebenarnya lupa pada awal tahun membuat resolusi atau tidak, tapi sejauh ini saya cukup puas dengan keadaan di tahun 2016. Kurangnya saya hanya kurang ‘pintar’ mengelola uang sendiri, jadinya sering keteteran gitu hehehe. Oh, akhir tahun 2016 ini saya dibikin hectic sama semua tugas kuliah, apalagi dengan ‘tuntutan’ dari orang tua (read: ayah) dengan ditanya ‘kapan lulus?’ ‘kapan atuh ngasilin uang sendiri?’ sampai ‘nanti udah lulus mau ngapain?’ Sebenarnya semua pertanyaan itu cukup bikin saya terbebani sih. Tapi ya gimana lagi, ini udah jadi keputusan saya untuk kuliah lagi, mau nggak mau harus dijalanin kan? Intinya tetap berdoa dan berikhtiar. Semoga semuanya diberikan kelancaran dan kekuatan.

Terima kasih 2016. Terima kasih untuk semuanya, untuk semua kenangan dan pembelajaran yang kamu berikan :”””)

Selamat datang 2017…

Cukup banyak hal yang saya ingin lakukan di tahun 2017 ini. Dari mulai pengin lulus S2, kerja, kembali menyelesaikan buku (insyaAllah yang ketiga hehe), dan mungkin nikah? eh hehehe.

Oh iya, awal tahun ini saya berhasil kembali menerbitkan buku saya yang kedua via self-publishing, judulnya diambil dari nama latinnya Bunga Seruni, yaitu Chrysanthemum. Sebenarnya dulu agak sulit untuk menentukan judul untuk Novel Antalogi fiksi pertama saya, sampai akhirnya saya memiliki keinginan untuk mencari nama bunga yang bagus dan memiliki makna yang sesuai dengan tema cerita-cerita yang saya buat, dan ditemukan lah Chrysanthemum yang kebetulan merupakan nama latin dari bunga Seruni juga.

Maka dari itu, tahun ini saya ingin membuat novel lagi yang full satu cerita dan menyisipi ilmu Psikologi yang saya dapat dari kampus. Semoga mulai bulan Februari sudah mulai bisa saya kerjakan yaa. Aamiin..

Keinginan saya yang lainnya adalah punya website sendiri. Ini sedang proses sih, saya masih harus membereskan layoutnya dulu sebelum launching websitenya, Mohon ditunggu saja yaa…

Nah berhubungan dengan keinginan yang ini, akhirnya saya memutuskan untuk pindah domain ke wordpress.com, karena nguliknya lebih gampang hehehe. Maaf ya teman-teman yang sudah keburu follow blog ini, mulai akhir bulan nanti accountnya akan saya hapus dan resmi pindah ke wordpress. Nanti di sana akan digabung semua kategori yang pernah saya buat, dari mulai curhatan biasa, tulisan corat-coret saya, segala macam review (tempat, film, buku) sampai akan ada kategori baru yaitu tips tentang makanan dan minuman buat teman-teman semua. Semoga nanti lebih bermanfaat yaa, bukan cuma postingan nggak jelas hehehe.

Sekali lagi. Selamat Tahun Baru 2017 yaa!!! Tetap bermimpi dan terus berusaha untuk tetap jadi manusia terbaik bagi manusia lain, lingkungan, dan Tuhan. 🙂

Tips

Tips : Bikin Kopi ‘rasa cafe’ Dengan Hemat

Hai Reader, Halo Coffee lover…

Ini postingan pertama saya tentang tips-tips. yang mungkin lebih manfaat daripada postingan-postingan saya biasanya, hehehe..

Semenjak coffee shop bertebaran dimana-mana, saya yang awalnya biasa aja sama kopi sekarang jadi suka banget. kayaknya tiap hari ‘harus’ minum kopi. Untung kesadaran saya akan gula darah masih cukup baik, jadi kadang kalau lagi ‘sadar’ saya bertahan untuk tidak minum kopi. Semenjak suka banget kopi saya jadi lebih bisa bedain rasa kopi instan biasa dengan kopi-kopi yang dijual di coffee shop (yang jelas harganya lebih mahal).

Setelah melihat tips yang pernah di share Sitta Karina di Blognya, saya akhirnya menemukan cara buat bikin kopi rasa coffee shop tersebut namun masih sesuai dengan harga kopi instan biasa. Di blog nya Mba Sitta memang diberitahukan mengenai bahan-bahan yang bisa digunakan, yang menurut saya masih cukup agak mahal untuk mahasiswa, hehe. Akhirnya saya bereksperimen dengan bahan-bahan yang jelas lebih murah. dan ternyata hasilnya pun cukup memuaskan.

untuk Kopinya, saya memakai kopi instan dari nescafe classic, dibawah ini tampilannya ya, harganya kalau ngga salah sekitar 6000-7000 dapet 10 saset harga berubah tergantung tempat belinya, mungkin kalau beli di pasar akan lebih murah. Kalau ingin mendapatkan rasa lebih enak dengan harga yang terjangkau, teman-teman bisa coba pakai kopi Aroma. Saya belum sempat coba karena belum sempat beli, namun sepertinya untuk kopi Aroma, pada akhirnya perlu di saring terlebih dahulu karena biasanya dia menyisakan ampas kopi.

 

Di blog Mba Sitta, dikatakan usahakan jangan pakai creamer, tapi di ganti pake susu UHT. dan ternyata memang benar, enaaak! untuk susu UHT nya saya pakai Ultra, karena harga yang lebih murah dari greenfield (yang memang menghasilkan kopi lebih enak). Harganya pun tergantung tempat membeli, untuk ukuran yang kecil seperti ini harganya sekitar 4500-5000. dan bisa dipakai 2-3 kali sesuai dengan selera masing-masing.

untuk pemanis, karena di rumah tidak ada sirop apapun, dan untuk membeli pun harganya cukup mahal, akhirnya saya memilih untuk menggunakan gula putih yang sebelumnya dicairkan dulu menggunakan air panas, banyaknya gula pun tergantung selera masing-masing yaaa..

Cara pembuatan :

1. tuang kopi di dalam gelas.

2. didihkan susu UHT.

3. cairkan gula putih menggunakan air panas.

4. campurkan semuanya.

5. Silahkan menikmati kopi hasil sendiriii.

Kalau ada yang punya cara lain, boleh share di sini atau email ke yuniartiruni@gmail.com yaaa…

SELAMAT MENCOBAAA!!

Salam kopi.

cerita pribadi

16 yang Ke-lima (Still Counting)

 

Seorang kerabat pernah berkata, “jodoh mah jorok, kita bisa ketemu mereka di mana aja.” Dulu aku tidak begitu memikirkan hal tersebut, sampai pada akhirnya aku mengalaminya sendiri.

Tiga tahun lalu, seperti yang teman-teman (read : yang suka baca blog ini) tau, aku dan beberapa teman berlibur ke Malang. Nah di sana, kami bertemu dengan orang yang berada di foto atas, kenalkan namanya Hamidiyawan, dia waktu itu jadi tourgide kami selama di Bromo (yang kami extend selama di Malang) akibat sikap dia yang friendly dan charming hehehe.

Singkat cerita, aku dan mas Hamid ini masih intens komunikasi meskipun aku sudah di Bandung, kedekatan kami saat itu cukup menimbulkan beberapa drama di hidupku (yang nggak akan aku bahas di sini). Kurang lebih kami intens komunikasi selama 1 tahun, setelah itu kami sama sekali tidak pernah berkomunikasi, aku dan dia seperti dua orang yang tidak pernah bertemu sebelumnya, seperti dua orang yang tidak pernah saling mengenal. Oh iya, saat itu pun akhirnya dia memiliki kekasih.

Pada tahun 2015, setelah lebaran (aku lupa tepatnya hari ke berapa), tiba-tiba tanpa ada angin apa-apa mas Hamid menelfon ke handphone ku yang bahkan saat itu sudah tidak ada nama dia di contact ku. Hari itu aku bercerita bahwa aku akan melanjutkan sekolah dan kemungkinan akan kembali datang ke Malang untuk melakukan kerja praktek. Setelah hari itu, mas Hamid mulai sering terlihat lagi di media sosial ku, ntah hanya posting biasa atau mengomentari postinganku.

Bulan-bulan selanjutnya berlalu tanpa ada kejadian apapun, sampai akhirnya pada sekitar bulan April-Mei 2016, aku menghubunginya kembali untuk bilang kalau aku jadi berangkat ke Malang, saat itu tujuannya memang karena ya hanya untuk memberi info dan meminta bantuan untuk acara liburan ku dan teman-teman selama di Malang. Saat itu aku sama sekali tidak (mau) berharap aneh-aneh, ya jujur drama-drama di tahun 2013-2014 cukup membuatku belajar dan menjadi lebih waspada, hehe.

Sampai lah saatnya aku berada di Malang, selama dua minggu di sana, aku dan dia sempat bertemu sebanyak 3 kali. Komunikasi selama di Malang pun terjaga dengan baik. Beberapa teman yang mengetahui cerita lengkapnya pun memberikan pendapat yang berbeda, ada yang mendukung namun ada juga yang mengingatkanku untuk berhati-hati. Setelah 2 minggu berada di Malang, akhirnya sampai pada hari untuk aku kembali ke Bandung, ketakutan itu muncul lagi. Aku yang sudah kembali nyaman dengan keberadaan dia di keseharianku, di hidup ku harus bersiap kalau-kalau someday kami akan kembali menjadi dua orang asing dan tanpa ada kejelasan apapun sebelumnya.

Namun mungkin Allah berkata lain, Mas Hamid akhirnya menyampaikan niat nya untuk menikah denganku. Apa perasaan ku saat itu? Jelas kaget, dan mungkin sedikit tidak yakin. Ya aku tidak yakin dengan apa yang dia ungkapkan, aku takut dia berkata seperti itu hanya karena sedang terbawa suasana (karena kami sedang sama-sama sendiri dan habis bertemu secara cukup intens di Malang). Dalam keadaan itu aku selalu berdoa untuk diberikan kejelasan, diberikan keyakinan jika iya memang dia orang yang tepat untuk ku, memang orang yang selama ini aku tunggu.

Ternyata Allah menjawab doa ku, makin ke sini aku semakin yakin tentang dia, tentang kami. Kami memang sangat jarang bertemu, untuk bertemu satu bulan sekali saja rasanya sudah bersyukur. Komunikasi pun tidak seintens aku dengan mantan-mantanku dulu. Tapi rasa yakin itu tetap ada, rasa percaya ku pada dia juga datang begitu saja. Keyakinan ku ini pun akhirnya membuatku mudah untuk menceritakan hubungan kami secara detail pada orang tua, mengenai niat kami yang memang serius dan memang sudah terpikirkan untuk melangkah lebih jauh. Keyakinan ini juga yang membuatku lebih percaya diri untuk menjalin komunikasi dengan keluarganya, dengan adik-adiknya, bahkan dengan ibunya. Keyakinan ini membuatku melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan dengan mantan-mantanku sebelumnya.

Hubungan kami memang baru seumur jagung, kami masih harus banyak sama-sama belajar mengenai diri masing-masing. Kami masih harus sama-sama beradaptasi dengan hubungan jarak jauh ini, masih harus belajar untuk memahami perbedaan karakter kami masing-masing. Namun di balik itu semua, aku bersyukur dipertemukan dengannya, diberikan kesempatan kedua untuk bertemu dengannya. Kami memang belum tau kedepannya akan seperti apa, kami hanya bisa berdoa semoga niat baik kami diberikan jalan oleh Allah.

Terima kasih sudah meluangkan waktu sampai akhirnya kita bisa bertemu.

Terima kasih sudah meluangkan dan melakukan perjalanan 390km hanya untuk bertemu denganku.

Terima kasih sudah percaya dan menjaga kepercayaan ku selama ini.

Maaf kalau aku masih banyak kurangnya.

Maaf kalau aku masih bandel dan susah di bilangin.

Mohon untuk terus mengingatkan,

Saling mengingatkan, untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Menjadi pasangan yang lebih baik lagi. Membuat hubungan ini menjadi hubungan yang lebih baik dan lebih kuat.

Terima kasih, A Iya.

I miss you.

With Love,

Seruni.

 

cerita pribadi

Pengalaman : Mengikuti Workshop Menulis dengan Sitta Karina

 

 

 

Sabtu malam kemarin saya mendapatkan informasi dari twitter kalau bakal ada workshop creative writing bersama Sitta Karina di Ciwalk, Bandung yang . Akhirnya aku ikut mendaftarkan diri di workshop tersebut. Hari minggunya, tanggal 25 September 2016 workshop ini di laksanakan di Ciwalk Bandung. Workshopnya sendiri mulai dari jam 16.30 sampai 18.00, dan oh iya workshop ini gratis loh!

Workshop ini terbagi menjadi dua sesi, sesi pertama adalah pemberian materi dari Sitta Karina, dan sesi kedua adalah mini challenge. Mba Sitta menjelaskan materi mengenai pembuatan premis hingga outline dari suatu cerita. Setelah sesi penjelasan materi dan sesi tanya jawab selesai, akhirnya dimulai lah sesi terakhir dari workshop yaitu mini challenge. Para peserta diminta untuk menuliskan tema, target pembaca, hingga premis dari cerita yang akan atau sedang dibuat. Setelah itu, peserta juga diminta untuk upload inti dari premis tersebut di media sosial twitter, sehingga Mba Sitta dapat menilai dari tweet tersebut. Dari semua peserta yang mengikuti workshop akan di pilih 5 besar oleh Mba Sitta sebelum menentukan pemenangnya.

Karena bingung mau bikin outline cerita apa, akhirnya saya memutuskan untuk membuat outline dari salah satu cerita yang rencananya bakal ada di buku Antalogi Kumpulan Cerita yang InsyaAllah akan selesai akhir tahun ini. Jujur saat itu saya nothing to lose banget, jangankan jadi pemenang buat masuk 5 besar aja nggak kepikiran sama sekali. Dapet notebook gratis aja udah alhamdulillah, hehehe. Setelah lima belas menit, akhirnya Mba Sitta mengumumkan nama peserta yang masuk 5 besar dan akan diminta untuk membacakan keseluruhan outlinenya di panggung. Tanpa disangka-sangka, nama saya jadi nama dua yang dipanggil. Akhirnya dengan badan gemetar dan tangan dingin saya naik ke atas panggung dan membacakan apa yang saya tulis, seadanya, hehe.

Setelah kelima peserta membacakan premis dari setiap ceritanya, akhirnya tiba saatnya untuk Mba Sitta menyebutkan pemenangnya. Sepertinya dewi fortuna belum berpihak pada saya, yang menjadi pemenang adalah Sekar, yang memang ceritanya lebih unik dan imajinasinya jauh diatas saya, hehehe. Maklum, saya kan spesialis bikin cerita sehari-hari bukan cerita fantasi gitu, hehehe.
Di akhir acara aku akhirnya memberanikan diri untuk minta ttd dan foto dengan Mba Sitta, mumpung ketemu hehe. Mba Sitta juga memberi pesan buat kita semua untuk terus menulis dan tetap bersabar jika ingin menerbitkan buku di penerbit besar.
Di luar menang atau nggak nya saya pribadi sangat bersyukur bisa dateng ke acara workshop ini. Masuk 5 besar dari semua peserta yang dateng (sekitar 30) orang merupakan suatu hal yang cukup membuat saya senang dan bersyukur. Masuk 5 besar juga cukup jadi pecutan buat saya pribadi buat terus menulis dan harus siap dengan semua tantangan dan masalahnya. Seperti yang dibilang sama Mba Sitta, “keep writing” aku dengan senang hati akan menjawab, “yes, I will, Mba.”
Terimakasih atas kesempatan dan inspirasinya ya, Mba Sitta Karina :’)