Tips Packing Efektif

tumblr_static_filename_640_v2

 

Halo, Readers! Apa kabar? Lagi pada liburan ya? Atau lagi pada nyiapin buat liburan? Ya, bulan April-Mei ini banyak banget hari libur dan long weekend. Tiap liat instagram atau path pun isinya orang-orang pada liburan semua. Nah, pasti temen-temen pada setuju dong kalau packing adalah salah satu hal yang ngga bisa dipisahkan sama liburan, mau ke luar kota apalagi luar negeri? Banyak juga orang yang kadang suka males tiap harus packing, karena terkenal ribet. Temen-temen ku kadang suka heran sama bawaan aku yang paling simple setiap mau pergi ke luar kota.

Kali ini, aku mau berbagi gimana caranya packing yang simple tapi efektif dan ngga akan bikin kalian kekurangan baju atau perlengkapan apapun. Here it is..

  1. Pastikan dulu itenary liburan kita.

Ya, sebelum memutuskan apa aja yang akan dibawa, pastiin dulu semua itenary kita selama liburan atau kegiatan di luar kota itu (bisa juga perjalanan dinas kan). Kira-kira akan tinggal dimana selama disana, tempat mana aja yang akan kita datangi, dan tentunya kegiatan apa aja yang akan kita lakukan.

Kalau kita akan tinggal di hotel yang cukup bagus dan pasti nggak overperson, biasanya aku ngga akan bawa handuk dan sendal untuk di hotel, karena sudah mereka sediakan. Tapi kalau misalnya tempat tinggal kita nanti nggak menyediakan dua hal tersebut, sudah tentunya dua hal tersebut jadi hal wajib yang dibawa. Untuk handuk biasanya aku bawa yang nggak terlalu besar, dan nggak usah terlalu tebal, yang penting bisa ngeringin badan setelah mandi hehe.

Selain pastiin itenary kita, pastiin juga kita bawa barang yang memang akan kita dipakai disana, biar ngga mubazir aja gitu. Oh iya, kalau kita di luar kota cukup lama, kita bisa mempersiapkan diri buat nyuci baju disana daripada harus bawa banyak baju takutnya bagasi pesawat overweight, kan keluar uang lagi. Mending uangnya disimpen buat oleh-oleh hehehe.

  1. Bikin list apa aja yang mau dibawa.

13df35e567cef0d9f85e3a5a558f4ad4

Setelah memastikan itenary, baru deh kita buat list barang-barang apa aja yang akan dibawa. Berapa banyak baju, keperluan lain dan asesoris lainnya kalau kira-kira dibutuhkan. Aku sih biasanya mengecek list ini beberapa kali sebelum akhirnya list tersebut final. Hal ini biasanya dilakuin buat make sure aja kalau nggak ada yang kelupaan.

  1. Usahakan packing satu hari sebelum keberangkatan

tumblr_inline_nyevoeyhdp1tpzgz5_1280

Setelah udah pasti bawa apa aja, baru deh proses packing dimulai. Aku pribadi selalu dibiasain dari dulu kalau packing itu selalu sehari sebelum keberangkatan, ya paling telat malemnya. Sebenernya sih biar ngga buru-buru dan ada kesempatan buat cek ulang bawaan, biar ngga ada yang ketinggalan.

Terus kalau kita packing nya nggak buru-buru, kita bisa cari ide lagi biar barang bawaan masuk ke dalam tas seefektif mungkin, tanpa harus bawa banyak tas. Salah satu acaranya bisa dengan menggulung-gulung baju, atau bisa pakai plastik pakage gitu yang kayak dibawah ini. Nyarinya gampang kok, di supermarket gede gitu juga biasanya ada.

35-27CM-Free-shipping-wholesale-100pcs-lot-HIGH-QUALITY-Shopping-font-b-Packaging-b-font-font

Ini juga ada tips lain, biar proses packing lebih efisien. Here it is..

luggage-packing-f

  1. Pilih baju-baju yang kira-kira akan sesuai dengan itenary kita.

Dengan kita tau dengan jelas itenary liburan kita, kita jadi bisa memperkirakan baju kayak apa aja yang bakal kita bawa. Baju-baju yang dibawa liburan ke pantai, gunung, bahkan jalan-jalan di kota saja pasti berbeda. Dan oh iya, iklim di tempat kita berlibur pun kita harus tau seperti apa, siapa tau sangat berbeda dengan kota asal kita.

Aku biasanya setiap kemana pun pergi, biasanya mengusahakan membawa baju-baju anti kusut yang ngga usah kita setrika. Bahkan biasanya aku bawa baju yang simple dengan bahan yang nggak terlalu tebal, biar koper nggak gampang penuh. Cara menanggulanginya kalau ke tempat yang dingin ya dengan bawa satu jaket yang udah dipake dari berangkat, jadi nggak butuh tempat lagi di tas.

  1. Cek lagi barang bawaan kita.

15185075_aWkZ4

Setelah semua barang dimasukin ke dalam tas, sekarang waktunya membuat ceklist di list yang kita buat sebelumnya. Apakah semua barang udah masuk, atau masih ada yang ketinggalan. Apakah kita sudah siap berlibur atau masih harus ada yang disiapkan? Kalau sudah semua, here you go.. selamat berlibur!

 

Gimana cukup nggak tips-tipsnya? Sebenernya semua balik lagi ke pribadi masing-masing sih, cara packing yang efektif, dan bikin senyaman kalian. Percuma kalian bawa barang sedikit tapi cemas sepanjang liburan karena takut kekurangan baju lah, atau apa lah. Tapi siapa tau juga ada yang mau cobain tips sederhana ku ini juga, selamat mencoba. Semoga bermanfaat! 🙂

 

Picture from tumblr and pinterest..

Advertisements

Sepuluh Film Drama Indonesia Ter-Favorit

UPLOAD

Semakin kesini, film Indonesia mulai menunjukan kegarangannya di bioskop-bioskop tanah air. Siapa yang sangka film Ada Apa Dengan Cinta 2 bisa bersaing lawan Civil Wars, karena tanggal premier-nya yang berdekatan? Sebenernya yang kita tau, film Indonesia mulai booming lagi mulai tahun 2002, ketika Mira Lesmana dan Riri Riza membuat film ‘Ada Apa Dengan Cinta?’ Setelah itu pun mulai bermunculan film-film Indonesia dengan kualitas yang sangat beragam. Yang kualitasnya super-duper bagus sampai yang yagitudeh, ada semua di bioskop. Memang setelah AADC 1 ada masanya kualitas film Indonesia sangat jauh dari kata bagus, atau ada film bagus tapi pamornya kalah sama film yang ngga bisa dibilang bagus. Masa-masa ini juga yang membuat beberapa temanku terkesan enggan ketika diajak menonton Film Indonesia, dari mulai komentar, ‘nanti juga bentar lagi bakal ada di TV.’ Sampai ‘ah bayar mahal-mahal cuma buat nonton FTV doang.’

Jujur, aku sendiri agak miris mendengar pendapat-pendapat tersebut. Karena ntah kenapa sampai saat ini (meskipun beberapa kali kecewa sama film Indonesia) aku masih mau dan bersemangat untuk nonton film Indonesia langsung di bioskop, ya meskipun tetep rada pemilih sih, apalagi tiket XXI atau bioskop lainnya udah ngga semurah dulu kan, hehe.

Oke, dari pada lama-lama aku di sini mau coba kasih rekomendasi film Indonesia dengan genre drama, komedi, ataupun gabungan keduanya yang menurutku worthed untuk di tonton, sejauh ini. Ingat, ini pendapat penonton awam ya, yang nggak ngerti film apalagi teknik-teknik perfilman, hehe.

Yuk, dimulai.. oh iya, angka terkecil adalah yang paling favorit yaa..

  1. 7 hari 24 jam (2014)

00060430

Yang saya suka dari film ini sebenernya simple, saya suka kesederhanaan dari film ini. Hampir keseluruhan setting dilakukan di rumah sakit. Sentuhan komedi pun disampaikan secara pas dan tidak berlebihan. Untuk urusan acting nggak usah diragukan lagi lah ya, Dian Sastro dan Lukman Sardi sih aku rasa udah bisa memainkan perannya dengan baik. Oh iya, film ini juga memberikan pesan yang cukup baik, bahwa bagaimana pun keluarga itu tetap nomor satu. Kalau teman-teman lagi cari film drama keluarga yang cukup menyenangkan (bikin ketawa dan ngga terlalu baper) harus coba tonton film ini.

  1. Siapa Di Atas Presiden? (2014)

siapa-diatas-presdent

Siapa sangka Rizki Nazar yang selama ini kita lihat di sinetron atau FTV bisa menyeimbangi Ray Sahetapy dan Donny Damara di film ini? Yap. Acting Rizki Nazar menurutku pribadi oke banget di film ini. Aku pribadi jelas bukan penggembar Rizki, tapi setelah menyaksikan film ini, aku cukup dibuat penasaran sama film-film dia yang lain. Cerita yang cukup sensitif, nilai sosial, serta sindiran sosial yang ngena dengan keadaan Indonesia saat ini memang menjadi salah satu kekuatan film ini. Ini menjadi salah satu film yang cukup aku sesali karena tidak sempat menontonnya di bioskop.

  1. Sabtu Bersama Bapak (2016)

IMG-20160228-WA0002

Meskipun awalnya nonton film ini karena pengin liat Abimana, keluar bioskop yang diinget cuma Deva. Deva bener-bener jadi show stealer di film ini, dimana ada scene Deva, pasti ada tawa yang keluar dari mulutku. Memang tidak sedikit yang kecewa dengan filmnya karena mereka sudah membaca novelnya terlebih dulu, tapi buat ku yang memang belum baca bukunya, film ini sangat menghibur dan menyenangkan untuk di tonton!

  1. Ngenest (2015)

12232684_796766383765210_4454227513433115105_o

Kayaknya kemampuan Ernest dalam mengarahkan artis baru harus diacungi jempol sih. Berkatnya, Lala Karmela dan Kevin Anggara bisa memenangkan Pendatang Baru Terbaik di acara awards buat film-film. Seperti yang aku bilang di review film ini di sini kalau yang jadi salah satu daya tarik film ini adalah chemistry antara Ernest sebagai dirinya, dan Lala Karmela sebagai Meira (istri Ernest). Komedinya jelas dapet banget, tapi jangan salah, ada juga scene yang bikin baper dan berhasil membuatku nahan-nahan biar air mata ngga jatuh, hehe.

  1. Rectoverso (2013)

9f42152972d6cc1b40ead2974621fb0f

Ini kayaknya film dengan tahun keluar paling lama yang aku rekomendasiin. Kalau ditanya apa yang paling diinget dari film ini? Jelas acting Lukman Sardi. Kisah Malaikat Juga Tahu memang jadi yang paling kuat diantara cerita-cerita lain di film ini. Temenku (read : cowok) aja nangis sampai minta tisu ke temenku yang lain, canggih sih nih film. Buat temen-temen yang pengen nonton film super baper dan bikin nangis sesegukan, film ini bisa banget dijadiin referensi.

 

  1. Hijab (2015)

141870180726019_1000x1429

Colorful dan menyenangkan adalah dua kesan yang muncul setelah menonton film ini. Setelah membuat banyak film kontroversi, akhirnya Mas Hanung kembali dengan film persahabatan sederhana nan epic. Film yang cukup erat dengan sindiran sosial pun aku rasa cukup worthed untuk di tonton. Ya at least buat yang pengen ketawa-tawa doang, dan melihat chemistry antara keempat perempuan itu.

 

  1. Filosofi Kopi (2015)

poster-terbaru-filosofi-kopi-isyaratkan-konflik

Mata rasanya seger banget liat Rio Dewanto sama Chico Jericho ada di satu frame. Ditambah dengan naskah epic buatan Jenny Jusuf, dan chemistry yang oke antara mereka berdua menjadikan film ini layak untuk di tonton. Saking canggihnya naskah film ini, ada beberapa bagian yang bikin aku senyum tapi sambil meneteskan air mata.

 

  1. Kapan Kawin? (2015)

Kapan-Kawin-Poster-Film-Indonesia

Pantes aja sih kalau Reza Rahardian laku banget sekarang, dan di sebut-sebut salah satu aktor berbakat di Indonesia. Dia kayaknya bisa jadi siapapun (read : kecuali Dono, Abimana oke banget sih jadi Dono dan nggak bakal ada yang ngalahin). Film komedi-romantis ini menawan dengan segala kesederhanaan yang disajikan. Komedi yang disajikan tidak berlebihan, bahkan menurutku sangat simple, konfliknya pun konflik sehari-hari yang memang sering kita temui. Mungkin film ini terasa istimewa karena mereka tidak berusaha untuk menjadi film yang istimewa.

 

  1. Shy Shy Cat (2016)

poster-shy-shy-cats

Siapa sangka Acha Septriasa bisa ngalahin lucunya Nirina Zubir? Siapa sangka Titi Kamal bisa berlogat sunda dengan cukup baik? Yap. Film ini cukup ngasih banyak kejutan. Meskipun judulnya kurang menjual (menurutku), tapi kalau udah nonton, wow! Oh iya, yang aku suka lagi dari film ini, penggunaan Bahasa Sunda di film ini bener-bener diperhitungkan. Pemain-pemain yang diharuskan menggunakan Bahasa Sunda memang bisa berbicara Bahasa Sunda dengan baik, sehingga nggak kerasa ganggu ketika mereka ngomong.

 

  1. Moammar Emka’s : Jakarta Undercover (2017)

Jakarta Undercover poster

PECAH! Cuma satu komentar ku buat film yang satu ini. Alur cerita, acting para pemain, sampai konflik yang terjadi cukup membuat aku puas seketika keluar dari bioskop. Film ini emang pasti banyak kontroversinya, tapi asli bagus. Acting Baim Wong dan Bimo fix jadi favorit ku di film ini. Pesen nih ya, buat temen-temen yang berkesempatan nonton film ini, wajib nonton! Karena ku yakin kayaknya nggak bakalan di tayangin di TV Lokal, hehe.

#yangmudayangberkarya

image

“Selagi ada kesempatan, berkarya ya.” – Hamidiyawan

Kalau ngeliat gambar di atas, muncul satu pertanyaan untuk kita semua yang pengen ku tanyain, “kalian lebih memilih hidup sebentar tapi bermanfaat atau hidup lama tapi useless?” Hidup seperti kura-kura memang sangat menggoda, doing nothing, nggak punya beban apa-apa, nggak punya tanggungan apa-apa, dan kayaknya nggak pernah ngerasain cemas selama hidupnya. Tapi apakah kita akan cukup puas dengan hanya berdiam diri?

Saat ini banyak artis mudah maupun public figure ‘meneriakan’ agar anak-anak muda masa kini mulai berkarya, dalam hal apapun entah seni, bisnis, atau apapun. Liat deh instagram Chelsea Islan, dia sering banget posting dengan hastag #yangmudayangberkarya. Raditya Dika dan Pandji sering jadi pembicara di seminar Creativepeurner buat anak-anak muda.

Seperti yang kita tau, sebenarnya usia nggak bisa jadi patokan buat kita menghasilkan sebuah karya. Untuk contoh, Damien Chazelle (32 tahun) bisa menjadi sutradara termuda dalam sejarah perfilman Hollywood yang memenangkan Oscar. Mungkin ini juga bisa jadi sejarah dunia sih. Joko Anwar aja sampe bikin tweet, “Damien Chazelle diusia 32 udah berhasil dapet oscar, kita diumur 32 udah bikin apa?” yap. Kalau kita selalu berpikiran untuk nunggu umur yang tepat untuk berkarya, kita akan selalu kalah dari orang lain yang mungkin nggak punya pemikiran kayak gitu.

Selalu berhenti berkarya saat ngerasa karyanya nggak cukup bagus? Seperti yang dibilang sama Pandji, ‘semua karya awal tuh pasti alay.’ Ya aku rasa berkarya itu kayak belajar, kayak belajar jalan, kita kan ngga akan bisa langsung lari, pasti jatuh dulu. Begitu juga dengan karya, pertama kita nulis ya nggak bakal bisa dibandingin sama buku-bukunya Dewi Lestari atau Ika Natassa. Pertama kali kita bikin film juga nggak akan sebagus sama film-filmnya Hanung Bramantyo atau Fajar Nugros. Pertama kali kita open mic, ya nggak akan selucu Pandji Pragiwaksono dan Mo Sidik yang udah keliling dunia.

Semua itu butuh proses, butuh waktu dan pastinya butuh usaha. Aku tau kok, dan ngerasain juga, yang namanya maintance usaha dan niat itu nggak gampang. Banyak banget godaannya, banyak banget hal yang akan bikin kita rasanya pengen berenti aja, pengen nyerah aja. Bikin buku tapi nggak lolos publishing, coba ngelucu tapi nggak ada yang ketawa. Kayak yang disampaikan sama Coach Carter di film dengan judul sama ‘walaupun kita ditakdirkan untuk sukses, tapi terkadang kita harus merebut kesuksesaan tersebut.’

In the end, buat siapapun yang ingin berkarya, berkarya lah. Urusan bagus atau jelek itu urusan belakangan. Lagian dengan kita mencoba dan gagal, kita akan tau apa yang harus diperbaiki daripada kita sama sekali mencoba, ya kita nggak bakal tau apa yang kurang dari kita. So, what would you choose to live? Being a rabit, a dog, or a turtle? Its Your choice.

 

“Mulailah berkarya, lalu perbaiki hasil karya tersebut.” 

 

Hijab? Kenapa enggak?

“Ketika Jilbab mengetuk hati, tak ada yang akan mampu menghalangi.”

 

                Pernyataan dan pertanyaan umum yang muncul ketika aku memutuskan untuk memakai hijab adalah “Alhamdulillah, akhirnyaaa….” atau “Apa yang mendorong pakai kerudung?” Aku sendiri sebenarnya bingung kalau ditanya seperti itu, karena aku sendiri merasa tidak mendapatkan hidayah apa-apa sebelum akhirnya memutuskan untuk merubah penampilan. Orang tua ku tidak menyuruh, bahkan cenderung ‘melarang’ aku untuk menggunakan hijab sebelum bisa memperbaiki perilaku dan ibadah wajib lainnya. Teman-teman terdekatku beberapa kali mengajak teman-teman lainnya untuk berhijab, dan aku adalah satu-satunya yang tidak pernah menggubris ajakan itu. Orang terdekatku (pacar) pun tidak pernah menanyakan kapan aku akan menggunakan kerudung. Yang pasti, aku merasa ada yang mendesak diriku, dari dalam diri untuk segera merubah penampilan. Beberapa bulan terakhir aku selalu terpikir untuk menggunakan kerudung, namun ada saja yang akhirnya membuat ku tidak jadi menggunakan hijab, mungkin ke’tidaksetujuan’ ibu ku menjadi salah satu alasannya.

                 Ya. Saat ini hati ku sudah tersentuh, aku ingin menggunakan kerudung, no matter what. Aku tau aku masih banyak, bahkan sangat banyak kekurangan dari mulai shalat kadang masih suka ketinggalan, masih suka ngomongin orang lain, dan dosa-dosa kecil lainnya yang bahkan mungkin nggak kita sadari sebelumnya. Tapi di satu sisi, aku juga punya informasi bahwa wanita yang sudah akil baligh itu wajib menggunakan hijab, aku juga tau bahwa anak perempuan yang menggunakan hijab dapat memberikan sedikit pahala untuk ayahnya. Mungkin itu yang menjadi salah satu pendorong ku sampai akhirnya memutuskan untuk menggunakan hijab.

                Kalau aku diminta untuk refleksi lagi, ada salah satu alasan yang cukup pribadi untukku yang akhirnya membuat aku tergerak untuk berhijab. Aku merasa sudah diberikan banyak kemudahan oleh Yang Maha Kuasa, diberikan rejeki oleh-Nya, tapi kenapa aku selalu mencari alasan untuk tidak menjalankan salah satu kewajibannya? Alasan ini juga yang sebenarnya membuat shalat ku saat ini jauuuh lebih baik daripada dulu (meskipun belum sempurna sih, better but not perfect, yet). Aku juga nggak mau ketika aku memohon padaNya, dan Yang Maha Kuasa memberikan banyak alasan untuk tidak mengabulkan hal tersebut (meskipun hal ini sepertinya tidak mungkin sih, hehe.)

                Pada akhirnya kepada siapapun yang bertanya kenapa aku memutuskan untuk berhijab, jawabannya cuma satu, kenapa nggak? :”)

Media Social Generation

1052414

 

Semenjak tahun 2000, media sosial menjadi primadona di kalangan anak muda, beberapa ibu-ibu dan beberapa bapak-bapak. Semua orang berasa di berikan kebebasan untuk mengekpresikan diri mereka, bebas beperilaku seperti apa di media sosial, apa lagi setelah jaman orde baru selesai. Menurut Wikipedia, media sosial itu adalah suatu media online dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan. Semakin ke sini ragam media sosial juga semakin banyak, seperti yang kita tau dari jamannya yahoo, google, friendster, facebook, twitter sampai sekarang jamannya snapchat.

Seperti yang kita tau, salah satu alasan Mark Zuckerberg membuat facebook adalah untuk media komunikasi teman-teman mahasiswanya di Harvard University jadilah facebook, salah satu media sosial ter-favorite sedunia, kurang lebih ada 1,44 miliyar orang yang menggunakan facebook di dunia (Data tahun 2015). Jack Dorsey dan kawan-kawan, menciptakan twitter dengan awal tujuan agar orang-orang dapat berbagi pesan kepada semua teman-temannya dengan lebih mudah dan sekarang twitter menjadi salah satu media sosial terkenal yang based nya adalah media berita.

Nah, semakin kesini semakin banyak kan macam-macam dari media sosial itu. Disadari atau tidak, dengan adanya media sosial ini juga mempengaruhi kehidupan banyak individu. Memang dengan maraknya media sosial, kita sebagai individu muda dan modern (cie..) menjadi merasa lebih leluasa untuk mengungkapkan pendapat kita mengenai suatu hal. Dengan adanya media sosial itu juga, kita diberikan kesempatan untuk ‘menunjukan’ kepada dunia mengenai siapa diri kita, dari mulai kegemaran, kebiasaan, bahkan sampai kelas sosial. Di media sosial juga kita jadi bisa tau teman kita atau bahkan orang lain sudah mengerjakan tugas perkembangannya atau belum.

Tidak sedikit orang-orang mempublikasikan kehidupan sehari-hari mereka dari mulai hal yang wajar sampai terkadang berlebihan. Aku pernah membaca salah satu pendapat orang mengenai Awkarin, dia berpendapat bahwa dia bangga dengan Awkarin karena bisa dengan bebas mengungkapkan pada dunia siapa dirinya, tidak takut memperlihatkan gaya hidup dia yang pasti akan mendapatkan pro-kontra dari para netizen. Dia juga beranggapan bahwa orang-orang di luar sana juga banyak yang gaya hidupnya seperti Awkarin, hanya saja mereka tidak mempublikasikannya ke dunia. Mungkin memang benar, hal apa yang mau mereka publikasikan di media sosial adalah hak dari individu itu sendiri. Tapi apakah yang dia publikasikan itu cukup bermanfaat untuk banyak orang? Apalagi kalau mempublikasikannya via media sosial yang terbuka dan bisa dilihat oleh semua orang, seperti Youtube, Instagram, ataupun Blog.

Dengan adanya media sosial juga sebenarnya semakin meningkatkan tekanan sosial, misalnya teman-teman seangkatan kita sudah pada menikah bahkan punya anak sedangkan kita sendiri jangankan menikah, calonnya aja belum ada. Atau melihat temannya posting foto tunangan sama pacarnya, kita langsung pengen cepet-cepet dilamar sama pacar kita, padahal baru pacaran satu minggu. Hal lain yang lebih sederhana, misalnya melihat teman abis pulang nonton konser boyband Korea, terus kita ngerasa sebel karena kita nggak bisa ikutan nonton. Ngeliat temen kita posting foto mobil barunya, terus kita ngomongin. Ya hal-hal simple tapi berkontribusi nambah dosa gitu sebenernya.

 Sekarang-sekarang juga lagi banyak banget berita hoax yang ada di media sosial, banyaaaaaakkk banget malah. Aku pun kadang suka bingung, kenapa orang-orang sangat mudah percaya sama berita-berita yang sebenarnya website­-nya pun belum tentu credible. Semudah itu masyarakat Indonesia dibohongi? Kadang dengan adanya berita hoax juga semakin memanaskan keadaan, apalagi kalau berhubungan dengan dunia politik yang kayak gurun itu, selalu panas maksudnya. Yang awalnya situasi pilkada udah aman, tenang, eh gara-gara ada berita hoax jadi panas lagi, jubir dari setiap calon saling keras-kerasan berpendapat serasa calon pilihannya adalah pilihan terbaik. Duh, ini yang aku rasakan tiap buka twitter beberapa bulan terakhir, jadi pusing sendiri gitu bacanya, dan akhirnya membuat nggak nyaman. Mungkin hal ini juga dirasakan oleh banyak orang, bukan cuma aku sendiri.

Sebenarnya media sosial juga nawarin banyak manfaat sih, terutama untuk kegiatan promosi. Pasti kan buat mereka yang punya bisnis, media sosial ini ngasih banyak manfaat banget buat mereka. Mereka bisa promosiin bisnisnya tanpa harus bayar kayak koran ataupun radio. Buat yang seneng bikin video, foto dan tulisan pun dimudahkan untuk ‘’berbagi’ hasil karyanya di media sosial. Buat mahasiswa juga yang mau cari informasi pun sangat dimudahkan dengan adanya media sosial, tinggal tulis keyword di google, dan semuanya akan muncul di sana.

Semua balik lagi ke kita sebagai penikmat yang harus pintar memiliah, memilah apa yang kita baca, yang kita lihat dan yang terpenting memilah mana yang akan kita posting, yang kita akan ‘perlihatkan’ ke dunia.

Review : Moammar Emka’s Jakarta Undercover (2017)

jakarta-undercover-poster

“Pesta yang tak pernah usai.”

Film yang dibuat berdasarkan novel karya Moammar Emka ini menurutku harus diacungi jempol. Nama Jakarta Undercover pasti sudah tidak asing lagi dong buat teman-teman? Ya, novel ini sudah exists bertaun-taun lalu, bahkan kayaknya ketika saya SMP pun sudah ada. Cerita dari novel ini ya tidak jauh-jauh membahas kehidupan malam ‘yang tidak terlihat’ di Jakarta. Sebenarnya film yang tahun 2017 ini sendiri merupakan adaptasi dari novel Jakarta Undercover yang keempat.

Film ini disutradari oleh Fajar Nugros, sejauh ini kayaknya aku pribadi nggak pernah kecewa sih sama film hasil besutan Mas Fajar ini, dari mulai Queen Bee (2009), Cinta Brontosaurus (2013), sampai Refrain (2013). Dan rasa puas itu muncul lagi di film terbarunya ini. Bahkan saking puasnya, saat keluar bioskop aku bertanya ke temanku, ‘apa ya kekurangan dari film ini?’

ganindra-bimo-oka-antara-jakarta-undercover

 

Penulisan skenario dan adaptasi novel yang juga dilakukan oleh Fajar Nugros sendiri dan Piu Syarif terasa apik. Penyampaian konflik yang sebenarnya cukup berat beserta penyelesaiannya pun nggak terasa maksa. Dari awal, kita terasa ikut hanyut di kehidupan Pras (Oka Antara) dengan segala konflik yang dia alami. Anak desa baik-baik, yang memutuskan untuk menjadi wartawan di Jakarta dan berkenalan dengan semua kehidupan malam Jakarta yang sangat berbeda dengan kehidupannya dulu bahkan mungkin prinsip hidupnya.

Dipertengahan cerita, kita juga dibikin panik sama konflik yang mulai muncul satu-satu. Dari mulai usaha Pras mendapatkan infomasi mengenai kehidupan malam secara diam-diam, hubungannya dengan King Of Party-nya Jakarta, Yoga (Baim Wong) beserta asisten pribadinya Ricky (Richard Kyle), sampai hubungan dekat Pras dengan Laura (Tiara Eve) seorang super-model yang terpaksa menjadi PSK tingkat atas karena Ayahnya tersandung kasus korupsi, dan ternyata merupakan pacar dari Yoga.

oka-antara-moammar-emka-jakarta-undercover

Moammar Emka's Jakarta Undercover

Meskipun terkesan berat dan gelap banget, namun sisi komedi dapat dimunculkan oleh para tim ini. Dari mulai skenario yang mungkin sebenarnya nggak dimaksudkan untuk melucu tapi toh tetap memunculkan gelak tawa. Apalagi peran Awink, seorang banci yang dimainkan oleh Ganindra Bimo. Coba aja bayangin, Bimo dengan badannya yang gagah, tegap, dan tattoan tapi harus memerankan peran laki-laki super gemulai. Menurutku sendiri Bimo bisa dibilang jadi show stealer­-nya di film ini sih. Akting pemain yang lain juga nggak bisa diragukan lagi sih, Oka Antara, Baim Wong, bahkan Tiara Eve sebagai pemain baru pun menurutku sangat mumpuni. Oh iya! Kalau kalian mengira akan melihat Baim Wong seperti di sinetron-sinetron televisi, salah besar! Akting Baim Wong jadi salah satu daya tarik film ini juga menurut ku.

Akhirnya, aku dan teman-teman yang ikut nonton juga setuju bahwa kekurangan dari film ini adalah keputusan tim untuk menggunakan ‘blue screen’ di beberapa adegan. Memang mungkin tujuannya untuk memberi tau penonton bahwa itu hanya mimpi, tapi tetep aja cukup  mengganggu.

Overall, aku suka dan puas banget sama film ini. Fajar Nugros dan tim berhasil menjadikan film ini jadi salah satu film Indonesia favorit ku.

Score : 8/10

Review : Bio-True ONEday Lenses

sam_0553

 

Hai Readers, apa kabar?

Maaf ya sebulan ini hilang dari dunia blogging, karena lagi sibuk sama tugas kuliah dan project-an buku Chrysanthemum hehehe. Sebenernya saya udah lama pengen review produk ini, tapi nggak sempet terus dan baru keingetan sekarang.

sam_0554

Jadi awalnya saya bisa dapet produk ini gara-gara nemu websitenya, terus regristrasi dan langsung dikirimkan 2 paket lensa kontak yang berisi 5 pasang secara gratis. Sepertinya sih ini memang produk baru, karena sampai saat ini saya kesulitan nyari, keliling optik pun belum berhasil nemuin. Untuk yang tau beli barang ini dimana boleh komen yaa, terimakasih 🙂

Setelah saya pakai, apa hasilnya? ENAK BANGET! Produk ini hampir ngalahin lensa kontak dari acuve yang juga memang nyaman di pakai. Masangnya gampang banget ke mata, sekali sentuh langsung nempel. Rasanya juga nggak ganjel gitu, jadi nggak berasa kalau lagi pake lensa kontak. Lensa kontak ini juga ngga gampang bikin mata kering, saya paling lama pakai ini selama 12 jam, dan selama itu saya cuma 2x pakai tetes mata. Waktu mau ngelepas juga gampang banget, sekali cabut langsung keambil. Pokoknya enak! Buat saya pribadi malah lebih cocok pakai yang ini daripada acuve, hehehe.

Masalahnya, agak susah nyari barangnya. Kayak yang udah saya bilang tadi, nyari ke berbagai macam optik ngga nemu terus. Dari mulai optik beneran, sampai toko jual lensa kontak biasa. Saya malah nemu cairannya, sedangkan lensa kontaknya sendiri nggak ada. Padahal saya akan dan mau beli lagi barang ini, enak banget deh! Buat temen-temen yang membutuhkan lensa kontak harian dengan warna bening wajib banget cobain produk dari Bio-True ini, dan kemungkinan kalian nggak akan menyesal, hehe.

 

 

PS : buat temen-temen yang tau beli lensa kontak Bio-True dimana harap komen ya. Eh yang lain juga boleh komen deng hehe :””)

 

Terima kasih 2016. Selamat datang 2017

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Chrysanthemum

Tahun 2016 ini kayaknya jadi tahun yang paling ngga kerasa, cepet banget rasanya. Perasaan baru awal tahun, eh tau-tau udah akhir taun lagi aja. Sebenarnya cukup banyak hal yang terjadi di tahun 2016. Awal tahun dimulai dengan saya masuk penjurusan Klinis Dewasa di kampus. Jurusan ini memang sesuai dengan keinginan saya dari awal sih. Setelah itu perkuliahan di lalui seperti biasa, ke kampus, ngerangkum buku, lalu ditutup dengan presentasi, nggak ada yang spesial sebenernya. Sampai tengah tahun, kami semua berkesempatan untuk Kerja Praktek di salah satu RSJ di Lawang, Malang. Di sana kami (jurusan KLD) bertugas selama 2 minggu, ya 10hari sih totalnya, kami diberi kesempatan buat berkomunikasi langsung dengan ODS (orang dengan Schizophrenia), ngobrol-ngobrol sama mereka, ngasih terapi-terapi sederhana buat mereka, dan juga kami diberi kesempatan buat belajar bagaimana kerja di rumah sakit.

 

img_5943
Foto kami di RSJ :”)

Yap. Pengalaman saya di RSJ ini memang yang paling berkesan dari keseluruhan tahun 2016. Di bulan itu juga, akhirnya saya mengakhiri ‘kesendirian’ hehehhe (ini ngga usah dibahas lebih lanjut ya, udah ada di postingan sebelumnya) hihihihi.

Tahun 2016 juga jadi salah satu tahun yang sering sekali saya keluar Bandung, dari mulai sekedar main ke Jakarta, di Malang selama dua minggu, sampai ke nikahan teman di Jogja. Saya sebenarnya lupa pada awal tahun membuat resolusi atau tidak, tapi sejauh ini saya cukup puas dengan keadaan di tahun 2016. Kurangnya saya hanya kurang ‘pintar’ mengelola uang sendiri, jadinya sering keteteran gitu hehehe. Oh, akhir tahun 2016 ini saya dibikin hectic sama semua tugas kuliah, apalagi dengan ‘tuntutan’ dari orang tua (read: ayah) dengan ditanya ‘kapan lulus?’ ‘kapan atuh ngasilin uang sendiri?’ sampai ‘nanti udah lulus mau ngapain?’ Sebenarnya semua pertanyaan itu cukup bikin saya terbebani sih. Tapi ya gimana lagi, ini udah jadi keputusan saya untuk kuliah lagi, mau nggak mau harus dijalanin kan? Intinya tetap berdoa dan berikhtiar. Semoga semuanya diberikan kelancaran dan kekuatan.

Terima kasih 2016. Terima kasih untuk semuanya, untuk semua kenangan dan pembelajaran yang kamu berikan :”””)

Selamat datang 2017…

Cukup banyak hal yang saya ingin lakukan di tahun 2017 ini. Dari mulai pengin lulus S2, kerja, kembali menyelesaikan buku (insyaAllah yang ketiga hehe), dan mungkin nikah? eh hehehe.

Oh iya, awal tahun ini saya berhasil kembali menerbitkan buku saya yang kedua via self-publishing, judulnya diambil dari nama latinnya Bunga Seruni, yaitu Chrysanthemum. Sebenarnya dulu agak sulit untuk menentukan judul untuk Novel Antalogi fiksi pertama saya, sampai akhirnya saya memiliki keinginan untuk mencari nama bunga yang bagus dan memiliki makna yang sesuai dengan tema cerita-cerita yang saya buat, dan ditemukan lah Chrysanthemum yang kebetulan merupakan nama latin dari bunga Seruni juga.

Maka dari itu, tahun ini saya ingin membuat novel lagi yang full satu cerita dan menyisipi ilmu Psikologi yang saya dapat dari kampus. Semoga mulai bulan Februari sudah mulai bisa saya kerjakan yaa. Aamiin..

Keinginan saya yang lainnya adalah punya website sendiri. Ini sedang proses sih, saya masih harus membereskan layoutnya dulu sebelum launching websitenya, Mohon ditunggu saja yaa…

Nah berhubungan dengan keinginan yang ini, akhirnya saya memutuskan untuk pindah domain ke wordpress.com, karena nguliknya lebih gampang hehehe. Maaf ya teman-teman yang sudah keburu follow blog ini, mulai akhir bulan nanti accountnya akan saya hapus dan resmi pindah ke wordpress. Nanti di sana akan digabung semua kategori yang pernah saya buat, dari mulai curhatan biasa, tulisan corat-coret saya, segala macam review (tempat, film, buku) sampai akan ada kategori baru yaitu tips tentang makanan dan minuman buat teman-teman semua. Semoga nanti lebih bermanfaat yaa, bukan cuma postingan nggak jelas hehehe.

Sekali lagi. Selamat Tahun Baru 2017 yaa!!! Tetap bermimpi dan terus berusaha untuk tetap jadi manusia terbaik bagi manusia lain, lingkungan, dan Tuhan. 🙂

Tips : Bikin Kopi ‘rasa cafe’ Dengan Hemat

Hai Reader, Halo Coffee lover…

Ini postingan pertama saya tentang tips-tips. yang mungkin lebih manfaat daripada postingan-postingan saya biasanya, hehehe..

Semenjak coffee shop bertebaran dimana-mana, saya yang awalnya biasa aja sama kopi sekarang jadi suka banget. kayaknya tiap hari ‘harus’ minum kopi. Untung kesadaran saya akan gula darah masih cukup baik, jadi kadang kalau lagi ‘sadar’ saya bertahan untuk tidak minum kopi. Semenjak suka banget kopi saya jadi lebih bisa bedain rasa kopi instan biasa dengan kopi-kopi yang dijual di coffee shop (yang jelas harganya lebih mahal).

Setelah melihat tips yang pernah di share Sitta Karina di Blognya, saya akhirnya menemukan cara buat bikin kopi rasa coffee shop tersebut namun masih sesuai dengan harga kopi instan biasa. Di blog nya Mba Sitta memang diberitahukan mengenai bahan-bahan yang bisa digunakan, yang menurut saya masih cukup agak mahal untuk mahasiswa, hehe. Akhirnya saya bereksperimen dengan bahan-bahan yang jelas lebih murah. dan ternyata hasilnya pun cukup memuaskan.

untuk Kopinya, saya memakai kopi instan dari nescafe classic, dibawah ini tampilannya ya, harganya kalau ngga salah sekitar 6000-7000 dapet 10 saset harga berubah tergantung tempat belinya, mungkin kalau beli di pasar akan lebih murah. Kalau ingin mendapatkan rasa lebih enak dengan harga yang terjangkau, teman-teman bisa coba pakai kopi Aroma. Saya belum sempat coba karena belum sempat beli, namun sepertinya untuk kopi Aroma, pada akhirnya perlu di saring terlebih dahulu karena biasanya dia menyisakan ampas kopi.

 

Di blog Mba Sitta, dikatakan usahakan jangan pakai creamer, tapi di ganti pake susu UHT. dan ternyata memang benar, enaaak! untuk susu UHT nya saya pakai Ultra, karena harga yang lebih murah dari greenfield (yang memang menghasilkan kopi lebih enak). Harganya pun tergantung tempat membeli, untuk ukuran yang kecil seperti ini harganya sekitar 4500-5000. dan bisa dipakai 2-3 kali sesuai dengan selera masing-masing.

untuk pemanis, karena di rumah tidak ada sirop apapun, dan untuk membeli pun harganya cukup mahal, akhirnya saya memilih untuk menggunakan gula putih yang sebelumnya dicairkan dulu menggunakan air panas, banyaknya gula pun tergantung selera masing-masing yaaa..

Cara pembuatan :

1. tuang kopi di dalam gelas.

2. didihkan susu UHT.

3. cairkan gula putih menggunakan air panas.

4. campurkan semuanya.

5. Silahkan menikmati kopi hasil sendiriii.

Kalau ada yang punya cara lain, boleh share di sini atau email ke yuniartiruni@gmail.com yaaa…

SELAMAT MENCOBAAA!!

Salam kopi.