review

Review : Moammar Emka’s Jakarta Undercover (2017)

jakarta-undercover-poster

“Pesta yang tak pernah usai.”

Film yang dibuat berdasarkan novel karya Moammar Emka ini menurutku harus diacungi jempol. Nama Jakarta Undercover pasti sudah tidak asing lagi dong buat teman-teman? Ya, novel ini sudah exists bertaun-taun lalu, bahkan kayaknya ketika saya SMP pun sudah ada. Cerita dari novel ini ya tidak jauh-jauh membahas kehidupan malam ‘yang tidak terlihat’ di Jakarta. Sebenarnya film yang tahun 2017 ini sendiri merupakan adaptasi dari novel Jakarta Undercover yang keempat.

Film ini disutradari oleh Fajar Nugros, sejauh ini kayaknya aku pribadi nggak pernah kecewa sih sama film hasil besutan Mas Fajar ini, dari mulai Queen Bee (2009), Cinta Brontosaurus (2013), sampai Refrain (2013). Dan rasa puas itu muncul lagi di film terbarunya ini. Bahkan saking puasnya, saat keluar bioskop aku bertanya ke temanku, ‘apa ya kekurangan dari film ini?’

ganindra-bimo-oka-antara-jakarta-undercover

 

Penulisan skenario dan adaptasi novel yang juga dilakukan oleh Fajar Nugros sendiri dan Piu Syarif terasa apik. Penyampaian konflik yang sebenarnya cukup berat beserta penyelesaiannya pun nggak terasa maksa. Dari awal, kita terasa ikut hanyut di kehidupan Pras (Oka Antara) dengan segala konflik yang dia alami. Anak desa baik-baik, yang memutuskan untuk menjadi wartawan di Jakarta dan berkenalan dengan semua kehidupan malam Jakarta yang sangat berbeda dengan kehidupannya dulu bahkan mungkin prinsip hidupnya.

Dipertengahan cerita, kita juga dibikin panik sama konflik yang mulai muncul satu-satu. Dari mulai usaha Pras mendapatkan infomasi mengenai kehidupan malam secara diam-diam, hubungannya dengan King Of Party-nya Jakarta, Yoga (Baim Wong) beserta asisten pribadinya Ricky (Richard Kyle), sampai hubungan dekat Pras dengan Laura (Tiara Eve) seorang super-model yang terpaksa menjadi PSK tingkat atas karena Ayahnya tersandung kasus korupsi, dan ternyata merupakan pacar dari Yoga.

oka-antara-moammar-emka-jakarta-undercover

Moammar Emka's Jakarta Undercover

Meskipun terkesan berat dan gelap banget, namun sisi komedi dapat dimunculkan oleh para tim ini. Dari mulai skenario yang mungkin sebenarnya nggak dimaksudkan untuk melucu tapi toh tetap memunculkan gelak tawa. Apalagi peran Awink, seorang banci yang dimainkan oleh Ganindra Bimo. Coba aja bayangin, Bimo dengan badannya yang gagah, tegap, dan tattoan tapi harus memerankan peran laki-laki super gemulai. Menurutku sendiri Bimo bisa dibilang jadi show stealer­-nya di film ini sih. Akting pemain yang lain juga nggak bisa diragukan lagi sih, Oka Antara, Baim Wong, bahkan Tiara Eve sebagai pemain baru pun menurutku sangat mumpuni. Oh iya! Kalau kalian mengira akan melihat Baim Wong seperti di sinetron-sinetron televisi, salah besar! Akting Baim Wong jadi salah satu daya tarik film ini juga menurut ku.

Akhirnya, aku dan teman-teman yang ikut nonton juga setuju bahwa kekurangan dari film ini adalah keputusan tim untuk menggunakan ‘blue screen’ di beberapa adegan. Memang mungkin tujuannya untuk memberi tau penonton bahwa itu hanya mimpi, tapi tetep aja cukup  mengganggu.

Overall, aku suka dan puas banget sama film ini. Fajar Nugros dan tim berhasil menjadikan film ini jadi salah satu film Indonesia favorit ku.

Score : 8/10

review

Review : Bio-True ONEday Lenses

sam_0553

 

Hai Readers, apa kabar?

Maaf ya sebulan ini hilang dari dunia blogging, karena lagi sibuk sama tugas kuliah dan project-an buku Chrysanthemum hehehe. Sebenernya saya udah lama pengen review produk ini, tapi nggak sempet terus dan baru keingetan sekarang.

sam_0554

Jadi awalnya saya bisa dapet produk ini gara-gara nemu websitenya, terus regristrasi dan langsung dikirimkan 2 paket lensa kontak yang berisi 5 pasang secara gratis. Sepertinya sih ini memang produk baru, karena sampai saat ini saya kesulitan nyari, keliling optik pun belum berhasil nemuin. Untuk yang tau beli barang ini dimana boleh komen yaa, terimakasih 🙂

Setelah saya pakai, apa hasilnya? ENAK BANGET! Produk ini hampir ngalahin lensa kontak dari acuve yang juga memang nyaman di pakai. Masangnya gampang banget ke mata, sekali sentuh langsung nempel. Rasanya juga nggak ganjel gitu, jadi nggak berasa kalau lagi pake lensa kontak. Lensa kontak ini juga ngga gampang bikin mata kering, saya paling lama pakai ini selama 12 jam, dan selama itu saya cuma 2x pakai tetes mata. Waktu mau ngelepas juga gampang banget, sekali cabut langsung keambil. Pokoknya enak! Buat saya pribadi malah lebih cocok pakai yang ini daripada acuve, hehehe.

Masalahnya, agak susah nyari barangnya. Kayak yang udah saya bilang tadi, nyari ke berbagai macam optik ngga nemu terus. Dari mulai optik beneran, sampai toko jual lensa kontak biasa. Saya malah nemu cairannya, sedangkan lensa kontaknya sendiri nggak ada. Padahal saya akan dan mau beli lagi barang ini, enak banget deh! Buat temen-temen yang membutuhkan lensa kontak harian dengan warna bening wajib banget cobain produk dari Bio-True ini, dan kemungkinan kalian nggak akan menyesal, hehe.

 

 

PS : buat temen-temen yang tau beli lensa kontak Bio-True dimana harap komen ya. Eh yang lain juga boleh komen deng hehe :””)

 

review

Review Buku : Menemukan Indonesia by Pandji Pragiwaksono

Siapa yang tidak kenal Pandji Pragiwaksono? Dulu pertama kali saya tau Mas Pandji ini ketika nonton acara ‘Kena Deh’ di salah satu stasiun TV swasta, dari situ juga saya tau kalau Mas Pandji ini adalah (mantan) pacarnya teman kerja Kakak saya –oke yang ini nggak penting.–
Balik lagi ke karya-karyanya Pandji, lulusan dari FSRD ITB ini bisa dikatakan berjibun, dimulai dari acara tv, penyiar, lagu rap, buku, sampai stand-up comedy. Dia juga jadi komika pertama dari Indonesia yang melakukan tur dunia. Dan buku Menemukan Indonesia inilah yang menjadi salah satu bukti dari perjalanannya seorang Pandji Pragiwaksono keliling dunia.
Sebenarnya saya pribadi bukan penikmat setia Pandji dari lama, saya mulai mengikuti karya dia setelah nonton Provoactive Proactive di Metro TV. Nggak lama dari situ saya mulai rajin nontonin video Stand-Up comedy nya dari Youtube, dan  follow twitternya.
Buku pertama dan satu-satunya saya baca sebelum yang ini adalah Nasional.Is.Me, singkatnya buku itu menceritakan bagaimana optimisme Pandji tentang Indonesia, dan saya akui buku itu banyak membuka pandangan saya mengenai Indonesia, ya kurang banyak cukup mengurangi penilaian negatif saya tentang negara sendiri lah. Kemudian, selang berapa tahun diterbitkanlah buku ini, Menemukan Indonesia, waktu saya tau ada Pre-Ordernya, saya langsung dengan semangat dan sigap memesan buku ini. Karena saya tau, saya tidak akan pernah kecewa dengan semua karya Mas Pandji.
Dugaan saya benar, membaca buku ini membuat saya ikut merasakan hadir diantara Tim Mesakke Bangsaku World Tour (MBWT),  ikut merasakan kegembiraan mereka, ikut tertawa ketika ada yang dirasa lucu, atau ikut menyeringit ketika ada sesuatu yang diluar ekspektasi saya tentang suatu Negara. Penuturan Pandji sangat enak untuk diikuti, dan rasanya menjadi sangat dekat dengan figur Pandji sendiri.
Buku ini juga menjadi tamparan untuk saya pribadi, ada satu bagian yang rasanya sangat mengena untuk saya. Pandji mencoba mengajak kita lagi untuk berbuat sesuatu yang ditujukan untuk Indonesia, gaya pembahasaan yang persuasif tidak terkesan menggurui dan buat saya pribadi sih cukup terajak, meskipun sampai saat ini masih tidak tau mau melakukan apa.
Buat para penikmat karya-karya Pandji (dan belum kebagian PO buku ini), orang-orang yang memiliki optimisme mengenai Indonesia tapi don’t know what to do, atau untuk mereka yang pesimis atau ‘benci’ sama Indonesia, saya sarankan untuk beli dan baca buku ini sesegera mungkin setelah dijual di toko buku, kalau saya tidak salah mulai 18 Maret 2016 nanti.
PS :  kalau Mas Pandji baca ini, saya sangat tidak sabar menunggu film Dokumenter Menemukan Indonesia, dan tur Stand-up Juru Bicara. Semoga saya bisa datang ke Jakarta dan menontonnya secara langsung. Terima kasih Mas, atas Inspirasi yang sudah dibagikan pada kami. 🙂
review

Review : BC’ Cone Pantai Indah Kapuk

 

“Without ice cream, there would be darkness and chaos.”
― Don Kardong

 

Weekend akhir Agustus kemarin, saya dan beberapa teman berlibur sebentar atau refreshing ke salah satu tempat paling hits di Jakarta, yaitu Pantai Indah Kapuk. Di sana, selain ada Waterboom nomor 2 se-Indonesia itu namun juga terdapat sangat-banyak cafe-cafe yang ‘in’ dan jadi tempat nongkrong untuk banyak AGJ (Anak Gaul Jakarta) hehehe.
Setelah coba meminta bantuan google untuk menentukan pilihan, kami masih tetap bingung mau menjelajahi tempat yang mana saking banyaknya. Cafe yang menyajikan Ice Cream pun beragam, salah satu yang juga hits adalah Northpole. Namun akhirnya kami memutuskan untuk ke BC’ Cone ini karena gambar hasil googling kami lebih meyakinkan. Setelah selesai berenang dan bersih-bersih berangkat lah kami kesana.
Lokasi BC’ Cone ini tidak begitu jauh dari Waterboom PIK, kalau readers datang dari Tol Meruya posisinya ada di sebelah kanan sebelum Waterboom PIK. Dari luar memang tempatnya terlihat sangat kecil, namun ternyata dibagian belakangnya ada kursi-kursi lagi yang cukup banyak. Dan kebetulan sabtu itu kami masih kebagian kursi hehe, lucky us.
Sewaktu menu dikasih sama mba-mba berseragam hitam (saat itu) dengan gesit kami semua membukanya dan mulai memilih ice cream yang kami mau. Dari harganya tidak terlalu memberatkan untuk mahasiswa kok, termasuk mahasiswa dari Bandung. Karena range harganya tidak jauh berbeda dengan harga-harga cafe di Bandung. Dengan tujuan ‘beli yang banyak aja, kita saling coba-coba’ akhirnya pilihan kita jatuh ke empat menu ini : Rocky Hockey, Mug Lava Cake, Cream Soda, dan Taro Ice Cream. Beriku saya masukan fotonya yaaaa…
Rocky Hockey with Ovaltine Ice Cream
Mug Lava Cake with Strawberry Candy Ice Cream

 

Taro and Cream Soda Ice Cream, with Charcoal and Redvelvet Cone
Dari keempat menu itu, yang JUARA menurut kita adalah yang Mug Lava Cake. Itu enaaaakkkk banget! Jadi di gelas itu selain ada Ice Cream, tapi juga ada Nutella cake yang di dalamnya ada melted Nutella, yuuummm. Sebenernya waktu pesan, kami ditawari cream Nutella atau cheese. WOHOOOO I CANT IMAGINE MORE hahahaaha maafin ya kalau terdengar berlebihan, tapi serius menu itu enak banget! Kalau 3 yang lainnya sih standar Ice Cream gitu.
Setelah semua Ice Cream itu habis disantap oleh kami berdelapan HAHA dan kami belum puas, akhirnya kami kembali memesan satu Ice Cream yang penampilannya lucuu banget, yaitu Candyland Vacation, nih fotonya..
Candyland Vacation with Cream Soda-Strawberry Candy Ice Cream and Mango Cone

 

Rasanya? Memang tidak seenak Mug Lava cake, namun Mango conenya yummy jugaa. Saya rasa untuk newbie yang berniat mencoba lebih baik datang dengan teman-teman, jadi bisa membeli banyak menu dengan harga yang jadi lebih murah, dan tidak menjadi enek karena makan banyak Ice Cream.
Salah satu kekurangan dari ice cream-ice cream disini adalah sangat mudah lumer, namun begitu saya cukup paham karena ice cream-ice cream ini homemade (BTW, saya hampir selalu menemukan ice cream homemade yang mudah lumer). Tapi nggak ada salahnya dong buat pemilik BC’ Cone memutar otak bagaimana caranya agar ice creamnya tidak selumer sekarang? hihihi. Goodluck!
Salam dari kami pelanggan jauh yang (selalu) ingin kembali lagi,

 

review

Bandung : Wisata Taman (PART II)

“Demikian pula halnya, hanya ketidakbahagiaan yang memiliki makna. Itulah sebabnya mengapa kita merasa terpaksa membicarakannya dan punya banyak kata untuk melukiskannya. Kebahagiaan tidak membutuhkan kata-kata.” –  Eric WeinerThe Geography of Bliss

haiiiii aduh maaf banget project wisata tamannya molor abis. internet yang biasa di pakai tiba-tiba gangguan terus, dan sama sekali nggak bisa dipake buat posting di blog, buka email aja kesabarannya sudah hampir habis. ini pun nyuri-nyuri ngerjain sambil nunggu les di tempat yang ada wifi-nya.

oke, kita mulai aja yaaa.
setelah dari Taman Pusaka Bunga, saya dan risma menuju Taman Film Bandung, setau saya (untuk pastinya temen-temen bisa googling sendiri) Taman Film ini adalah taman tematik pertama di Indonesia yang mengambil tema film. Taman Film ini berada di Taman Pasopati, daerah Cikapayang tepat di bawah jembatan layang Pasopati. Jadi, di Taman Pasopati ini terdiri dari beberapa taman lagi, yang paling depan dan paling deket sama jalan ada Taman Jomblo, terus kalau masuk lagi ke dalem ada Taman Skate Board, nah Taman Film ini letaknya setelah taman Skate Board tadi. Setelah Taman Film juga masih ada tempat buat main futsal, mungkin namanya juga Taman Futsal, hehe. Di Taman Film ini terdapat layar besar, jadi setiap sore mulai jam 4 di sini di puter film-film, tempat ini juga bisa dipake buat temen-temen yang mau nonton bareng bola. Malah sih ada rencana pemutaran Film akan di jadwalkan dan taman ini dijadikan buat para sineas muda untuk menunjukan karyanya, ya semoga rencana ini cepat terlaksana ya.
yang kurang dari tempat ini sebenernya cuma jalan menuju tamannya aja sih, Namanya juga kolong jembatan ya, jadi memang engga disaranin buat perempuan jalan menuju tempat ini malem-malem sendirian, untuk keamanan aja sih. oh iya, untuk mempermudah buat yang bawa kendaraan terutama mobil bisa di parkir di Balubur Town Square (Baltos) terus jalan dikit deh menuju Taman Film. untuk jelasnya saya kasih liat foto aja ya..

 

 

 

Dari Taman Film, perjalanan dilanjutkan ke Taman Superheroes di daerah jalan Bengawan. Taman ini sih kayaknya khusus dibuat untuk anak-anak, karena di taman ini banyak banget patung Superheroes, ada Spiderman, Superman, Batman jadi buat para orang tua, kalau bingung mau ajak anaknya main kemana, Taman ini bisa dijadikan rekomendasi, hemat dan anak pasti happy. Selain patung-patung tadi, ada juga ayunan dan beberapa mainan anak-anak (bagian ini lupa saya foto), untuk jelasnya saya liatin fotonya aja ya. (waktu saya kesana belum ada patung Superman, tapi sekarang sudah ada kok, bisa di check langsung ke sana)

 

 

Lanjut lagi, setelah dari Taman Superheroes, kita dateng ke Taman Foto. sebenernya rada bingung sih buat ngedeskripsiin taman ini, sebenernya saya suka Taman foto, karena disana nggak sepenuh taman-taman lainnya, untuk lebih jelasnya saya tampilkan fotonya saja ya..

 

 

salah satu koleksi Foto di Taman Foto

 

Nah, beres dari Taman Foto, Saya dan Risma melanjutkan perjalanan menuju Taman Musik. Letak taman ini di Jalan Belitung, depan Restoran Centrum dan sebelah SMA 5 Bandung. Sebenarnya taman ini sudah eksis dari jaman dulu kala, namun baru di resmikan menjadi Taman Musik beberapa tahun lalu. Dulu taman ini sering digunakan oleh anak-anak SMA 5, entah untuk nongkrong biasa ataupun kegiatan sekolah lainnya. Kalau saya nggak salah, taman ini digunakan para Musisi Indie Bandung untuk berkumpul. untuk lebih jelasnya saya tampilin fotonya aja ya,

 

 

Setelah selesai dari Taman Musik, akhirnya saya dan Risma berhasil menyambangi tempat ter-hits saat ini di Bandung, yaitu Alun-Alun Bandung! yeaaaayyy! Walaupun hari itu Alun-Alun Bandung lagi penuuuuh banget, karena weekend, tapi rasanya tetap senang banget, hawa yang sejuk, rumput sintesis yang empuk, dan melihat orang-orang yang juga bahagia disana. Ada yang sekedar duduk dan foto-foto (kayak saya sama Risma), beberapa orang yang piknik serta bawa makanan, dan yang paling membahagiakan adalah anak-anak kecil lari-larian kesana-kemari atau bermain bola. Ternyata pembuatan taman seperti ini cukup efektif buat menjauhkan anak-anak kecil dengan gadget-nya. Nih, saya kasih bayangan ya gimana penuhnya hari itu di Alun-Alun Bandung,

 

 

 

 

Sempat ada berita yang mengatakan bahwa Indeks Kebahagiaan warga Bandung meningkat setelah mempunyai Walikota Pak Ridwan Kamil, saya memang Sarjana Psikologi, tapi sampai saat ini belum pernah ngukur Indeks Kebahagiaan seseorang. Ya semoga apa yang diharapkan Kang Emil, bisa selaras dengan kebutuhan masyarakat Bandung sendiri. Semoga warga Bandung bisa terus menjaga kota Bandung tercinta, Paris Van  Javanya-nya kita. Satu lagi pesan untuk Kang Emil, nggak usah teralu musingin orang-orang yang suka nggak suka Bapak, kalau kata Bill Cosby : “I don’t know the key to success, but the key to failure is trying to please everybody.”
 
 
“Happiness is not a noun or a verb. It’s a conjunction. Connective tissue.” 

 

― Eric Weiner, The Geography of Bliss

 

P.S : Semoga tulisan yang masih acak-acakan bisa membantu semua ya, entah warga Bandung yang pengen tau lebih mengenai kotanya, ataupun warga luar Bandung yang mau berlibur di Bandung 🙂

 

 

review

Bandung : Wisata Taman (PART I)

 
 
 
Di Bandung sekarang lagi banyak banget tempat hits. Bukan Mall-mall, bukan juga cafe-cafe. Saat ini, semenjak pemerintahan Pak Ridwan Kamil, atau lebih dikenal dengan panggilan Kang Emil, banyak lahan-lahan di Kota Bandung dimanfaatkan untuk ruang rakyat dalam bentuk Taman Tematik. Akhirnya, setelah berapa kali gagal untuk keliling taman, saya dan teman berhasil mendatangi beberapa Taman Tematik yang ada di Kota tercinta ini.
Rencana awalnya saya dan Risma (teman perjalanan saya) mau dateng ke Taman Alun-Alun Bandung dulu, dan naik Bandros (itu loh bis 2 lantai yang bisa dipakai buat keliling Bandung, untuk jelasnya bisa googling, hehe). Namun rencana tersebut terpaksa kami gagalkan karena cuaca yang kurang mendukung.
Perjalanan kedua kita mendatangi Taman Balai Kota yang ada di Jalan Merdeka, sekaligus tempat kerjanya Pak Walikota. Namun, lagi-lagi karena parkiran penuh, akhirnya saya dan Risma memutuskan untuk parkir di Baltos (Balubur Town Square) dan naik angkot menuju Balkot. Untuk kalian yang mau naik angkot juga, bisa naik angkot Panghegar-Dipati ukur dari depan Baltos, lalu turun di Wastukencana, lalu lanjut naik angkot Kelapa-Ledeng, turun di stopan Balkot, jalan dikit ke Balkot, sampai deh.  Nah, di Taman Balkot ini ada patung Badak bercula satu, Gembok Cinta (itu loh yang kayak di Korea dan Paris), Taman Balkot sudah bisa dibilang Taman yang cukup bersih, di Taman Balkot juga banyak pengunjung yang lagi Latihan, dari latihan modern dance, marching Band, sampai Bela diri. Spot favorit saya disini mungkin tempat duduk yang berhadapan langsung sama Patung Badak dan air mancur, kayaknya asik aja buat baca buku atau cari inspirasi, hehe.
berasa di Seoul ya? atau Paris?

Seneng sih di Bandung udah ada tempat gembok cinta ini. Tapi berhubung saya nggak lagi punya pacar (oke curhat), jadi numpang foto punya yang lain aja yaa haha.

Kalau tiba-tiba kehausan bisa langsung minum air dari keran. Cool Right?
Keluar dari Balkot saya nemu barang kayak diatas, bentuknya mirip sama lampu lalu lintas yang ada di perempatan dll. Awalnya saya dan Risma nggak paham apa gunanya itu, eh ternyata berhubung di Jalan Balkot (Wastukencana) ini nggak ada stopan dan sering banget dilewatin orang, jadi alat ini berfungsi buat membantu kita menyebrang, tinggal pencet tombolnya, selang berapa detik lampu merah nyala yang berarti kendaraan (mobil, motor, beca, dan sepeda sekalipun) harus berhenti dan mempersilahkan para pejalan kaki untuk menyebrang.
Seselesainya dari Balkot, perjalanan di lanjutkan ke Taman Lansia, di daerah Cisangkuy. Taman ini letaknya tepat di sebelah kanan Gedung Sate. Sebenarnya rencana Pak Ridwan Kamil untuk taman ini keren banget sih, tapi sayang kayaknya renovasinya belum selesai 100%, bahkan banyak ikan-ikan yang ada di kolamnya mati   😦 semoga renovasinya cepat selesai dan perawatannya bisa dilakukan maksimal, karena saya yakin kalau udah selesai 100% pasti hasilnya bagus banget
ceritanya ini adalah jalan terapi, banyak loh bapak-bapak atau ibu-ibu yang jalan-jalan di sini tanpa alas kaki.
sedih banget airnya hijau :((((
Di deket taman Lansia ini ada juga Taman Pustaka Bunga, di sini menurut saya sih lebih bagus daripada Taman Lansia, mungkin karena proses renovasinya yang udah selesai dari jaman kapan tau. Selain bunga, di taman ini juga ada banyak yang bisa kita lihat, ada bengkuang dengan ukuran raksasa, yaitu 26kg, dan juga ada kandang ayam beserta ayam-ayamnya hehe.

 

 

Sebenernya setelah dari kita ke tiga tempat itu, kita masih mengunjungi 5 taman lagi, wohoooooo! yes di Bandung memang lagi banyak banget taman tematik kayak gini. Awalnya mau saya satuin disatu postingan, tapi karena terlalu banyak foto dan takutnya berat, akhirnya malah nggak bisa dibuka, jadi saya putuskan untuk membagi menjadi 2 bagian. untuk part I cukup sekian yaaa. Tunggu postingan saya yang selanjutnyaaa. Semoga bermanfaat! 🙂
 
“Some places are like family. They annoy us to no end, especially during the holidays, but we keep coming back for more because we know, deep in our hearts, that our destinies are intertwined.”
–  Eric WeinerThe Geography of Bliss

 

cerita pribadi · review

Ujung Genteng, yang Bener-Bener di Ujung

Bulan Desmber ini memang jadi musim liburan penghujung tahun, dan kesempatan ini digunakan oleh banyak orang (termasuk saya) untuk berlibur, ceritanya sih buat me-refresh pikiran setelah kurang-lebih satu tahun dipakai untuk bekerja. Dengan persiapan yang mendadak dan cukup pas-pasan saya dan beberapa teman memutuskan untuk pergi berlibur ke Pantai. Pilihan awal kami ada dua, yaitu Pantai Batu Karas di daerah Ciamis Jawa Barat, atau Ujung Genteng di Sukabumi Jawa Barat. Akhirnya, dengan perkiraan di Batu Karas akan banyak banget orang (karena musim liburan) kami memutuskan untuk berangkat ke Ujung Genteng, ya lumayan cari pengalaman baru juga, karena kebetulan diantara kami bertujuh belum pernah ada yang ke sana.
Seminggu sebelum keberangkatan, kami booking hotel, awalnya sih takut kehabisan. Setelah liat-liat di Internet, akhirnya kita memutuskan untuk nginep di hotel ini, http://www.turtlebeachesresort.com/. Harganya sih nggak bisa dibilang murah, range harganya mulai dari Rp1.000.000/Malam kalau weekdays, dan Rp1.300.000/Malam kalau Weekends. Sebenernya yang bedain harga cuma view kamarnya aja sih, ada yang pantai sama halaman. Tipe kamarnya pun kayak apartemen, jadi satu apartemen itu terdiri dari 2 kamar tidur, satu kamar mandi, sama satu ruang TV. Oh ya, dan free breakfast untuk 4 orang (kecuali kalau nambah ekstra bed, ya dapet lagi sarapannya).
Akhirnya, kami berangkat dari Bandung tanggal 24 Desember 2014, sekitar pukul 22.30, selesai menjemput semua personil, membeli bekal buat diperjalanan, dan ngambil uang ke ATM (karena menurut orang-orang yang sudah pernah kesana, di sana tidak ada ATM sama sekali). Kami keluar tol Padalarang sekitar pukul 23.30, perjalanan pun dilanjutkan ke Cianjur-Sukabumi-Surade-Ujung Genteng. Berhubung, diantara kami belum pernah ada yang kesana, jadi perjalanan kali itu kami serahkan sepenuhnya ke Google Maps, dan Waze. Dan kalian harus tau, jalan ke Ujung Genteng jauuuuuuhhhhhhhhh banget, selain jauh, sepanjang perjalanan kami hanya ditemani oleh pohon, tebing, jurang, kebun teh, dan beberapa rumah penduduk. Rasanya setiap melihat rumah penduduk, atau mobil, seneeenggg banget. Setelah berenti beberapa kali, untuk ke Toilet, Istirahat, dan Solat Subuh, akhirnya kami sampai juga ke Ujung Genteng. Ternyata benar, pantai disini masih sepi dan cukup bersih, ada sampah sih, tapi kebanyakan sampah laut, kayak karang, kelapa, atau ranting-ranting. Biar lebih jelas saya posting foto disini yaa,

 

maafkan fotonya gagal 😦
Di Ujung Genteng itu, banyak garis pantai yang di tengah-tengah, jadi pengunjung bisa jalan sampai ke tengah pantai. Selain itu, di sana airnya jernih banget, bagus deh. Pengunjung jadi bisa liat karang, rumput laut, ikan kecil-kecil sambil jalan menyusuri pantai. Awalnya kami sempat mau jalan sampai nemu ombak di pantai foto terakhir (yang ada saya narsis) tapi nggak jadi karena langit mulai gelap (mendung) dan kedua teman saya nemu ular laut, serem banget! Nih saya kasih fotonya biar percaya,
hiiiiii…..
Sebenernya di Ujung Genteng banyak tempat wisata laut yang bisa didatangi. Namun apa daya karena cuaca lagi nggak begitu bagus, dan waktu terbatas, akhirnya kami cuma bisa dateng ke beberapa tempat aja. Tapi tenang, kami tetap sempat liat sunset kok, (bukti fotonya dibawah yaa). Oh iya, kami sempat lihat Biawak yang super-duper gede banget, saking gedenya kami sempat nyangka kalau itu Komodo loh, bukan Biawak. Dari semua pantai yang kami datangi, saya pribadi paling suka pantai di daerah Pangumbahan, yang juga jadi tempat penangkaran penyu. Di sana pengunjung bisa ikut ngelepasin anak-anak penyu ke Laut, bahkan pada malam hari pengunjung bisa liat induk-induknya bertelur. Namun lagi-lagi karena hujan, kami nggak jadi ikut melepaskan anak-anak penyu itu. Tapi walaupun gitu rasa penasaran sama penyu terobati karena bisa foto sama mereka, hihihi. Biar sirik nih saya kasih fotonya yaaa, tapi mohon diabaikan muka kucelnya :D.
keliatan nggak sih Tukik-nya?
sama Penyu Albino

Penjaga disana baik banget, saya sempat nanya-nanya mengenai umur dari Penyu-Penyu ini. Penyu yang saya pegang itu umurnya sudah 3 tahun, ada lagi yang berumur 15 tahun, tapi saking besarnya saya nggak berani megang, kata temen saya sih berat banget. Rentang umur Penyu kata akang penjaganya sih bisa sampai ratusan tahun, wohoooooo~ dan oh iya! Penyu juga kayak manusia loh, itu buktinya ada yang kelainan kulit alias Albino hehe.

 

 

Beautiful Sunset in Ujung Genteng 

Di luar semua kekurangan fasilitas yang mereka punya, saya pribadi dan teman-teman senang bisa menyambangi wisata pantai-santai-dingin yang ada di Jawa Barat. Jarak 250KM Bandung-Ujung Genteng terbayar penuh saat kami sampai dan melihat keindahan, kebersihan, dan sepi-nya Pantai-Pantai di sana. Intinya, Ujung Genteng berhasil menutup tahun 2014 saya jadi sesuatu yang lebih Hidup dan Indah, 🙂

P.S : Terimakasih teman perjalanan semuaaaaa!

review

Review : Hujan Matahari by Kurniawan Gunadi

sebenernya jarang-jarang saya buat postingan tentang review sesuatu. tapi kali ini rasanya harus dan wajib aja buat berbagi sama pembaca. awalnya saya tau buku ini dari seorang teman. dia mengatakan bahwa sedang menunggu buku Mas Gun. jujur waktu itu saya sama sekali tidak tau siapa itu Mas Gun, malah karena waktu itu kami sedang membahas mengenai Politik, saya sempat mengira kalau Kurniawan Gunadi adalah seorang politikus. dengan rasa penasaran saya Googling deh namanya, dan berlabuh di kurniawangunadi.tumblr.com  dan pendapat saya saat pertama kali buka Tumblrnya, “oke juga nih tulisannya. ‘ngena’ hati banget.” singkat cerita akhirnya saya memutuskan untuk memesan buku Hujan Matahari tersebut, karena memang kebetulan bukunya tidak akan terjual di toko buku. setelah beberapa hari, akhirnya saya coba membuka soundcloud-nya di ‘suaracerita,’ walaupun waktu itu saya hanya mendengarkan satu cerita (sinyal terbatas) saya langsung jatuh cinta sama tulisannya, dan semakin tidak sabar untuk cepat membaca bukunya.

setelah menunggu cukup lama, sekitar 1 bulan lebih, buku yang ditunggu-tunggu datang juga. rasanya Happy banget, dan tidak sabar untuk cepet-cepet baca itu buku, kalau bisa sih langsung tamat aja. tapi berhubung saat itu saya sedang membaca buku lain, jadi aja di-pending dulu.

ini tampilan buku yang saya tunggu lebih dari 1 bulan.
akhirnya waktu membaca buku itu datang juga, hal pertama yang langsung bisa saya simpulkan adalah, tulisan-tulisan yang simple, ringan, enak dibaca, tapi pesan yang ada di dalamnya juga tidak main-main. cerita di dalam buku ini dibagi jadi tiga bab, Gerimis, Hujan, dan Reda. setiap bab terdiri dari beberapa prosa dan cerpen, sebenernya inti cerita-ceritanya sih tidak jauh dari kehidupan sehari-hari, yaitu ‘cinta.’ entah cinta yang tak tersampaikan, cinta kepada sahabat, sampai cinta orang tua ke anaknya, dan masiiiih banyak lagi. pemilihan bahasa yang mudah dimengerti menurut saya jadi kelebihan tersendiri, apalagi di buku ini cukup banyak pandangan Agama mengenai Cinta itu sendiri, dan Mas Gun berhasil menyajikannya dengan bahasa yang enak dan tidak terkesan menggurui.
nah, sekarang kenapa sampai saya membuat review mengenai buku ini? semua ini sesuai dengan foto pertama pada postingan ini, yap. this book change my life. atau setidaknya buku ini bisa ngerubah diri saya, yang jelas sih bisa membuat saya tersadar. banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil dari buku ini. seperti yang saya bilang sebelumnya, Kurniawan Gunadi berhasil menyajikan ‘tamparan-tamparan’ buat para perempuan atau bahkan semua orang yang suka kelewatan dalam bergaul atau sering membuat dosa tanpa disadari namun tidak dengan cara menggurui. dari buku ini saya belajar bagaimana seharusnya perilaku kita saat kita menyukai orang lain, seperti apa sikap yang benar ketika cinta kita di tolak orang lain, dan yang lebih penting dari buku ini saya belajar untuk jadi orang yang lebih baik, ya walaupun semua itu belum bisa terjadi pada diri saya 100%, tapi setidaknya saya mencoba dan mau belajar untuk jadi orang yang lebih baik.
ada beberapa hal yang bisa saya simpulkan dari beberapa Prosa dan Cerpen dalam buku tersebut,
1. sebaik-baiknya hubungan perempuan dan laki-laki adalah ketika mereka berdua sudah memutuskan untuk menikah, mengucapkan Ijab Qobul.
2. sebaik-baiknya cinta, adalah cinta kita terhadap Tuhan. yang artinya, ketika kita mencintai seseorang, cintailah mereka karena Allah, karena dijamin cinta itu akan membawa berkah.
mungkin setiap orang yang membaca akan memiliki pendapat yang berbeda, namun setidaknya itulah hal-hal yang muncul di pikiran saya saat selesai membaca buku tersebut.
“When we read the right book  generously, it can change the way think about the world around us” 
– John Green. 
 

ps : yang penasaran dan belum sempet baca bukunya, bisa order lagi mulai tanggal 1 November 2014 ini. untuk jelasnya bisa buka kurniawangunadi.tumblr.com

cerita pribadi · review

I LOVE YOU, MALANG!

setelah penantian panjang, akhirnya saya dan beberapa teman melakukan perjalanan ke Malang, Jawa Timur Indonesia. akhirnya setelah batal ke Bali taun lalu, dan beberapa masalah yang hampir-hampir membuat rencana ke Malang gagal lagi, kami berangkat juga ke Malang tanggal 10 September 2013.
ini kali pertama saya dan teman-teman melakukan perjalanan jauh tanpa sanak saudara, pengetahuan kami mengenai Malang pun dapat dikatakan sangat minim. kita cuma tau beberapa tempat –tanpa tau jalan– pengetahuan yang seharusnya di ketahui oleh semua orang, apalagi dengan adanya mbah google, yang selalu memberikan kita jalan keluar apapun.
dengan perencanaan dan persiapan yang dapat dikatakan matang, tiket kereta pulang pergi, travel menuju gunung bromo, rental mobil, dan terakhir penginapan, hari yang ditunggupun tiba. pukul 15.00 kami sudah berkumpul di Stasiun Bandung, sebelum berangkat kami menyempatkan untuk foto-foto. tepat pukul 15.35 kereta pun berangkat menuju Malang. perjalanan kurang lebih 17 jam tidak menyurutkan semangat dan fisik kita yang sudah sangat mengharapkan liburan ini. kegiatan semester akhir memang tidak dapat dikatakan mudah, fisik, batin, pikiran semua menjadi satu saling membantu untuk menyelesaikan tugas akhir atau skripsi. liburan kali ini memang menjadi hadiah bagi kami berlima yang kebetulan semuanya sudah dapat menyelesaikan kuliahnya tepat waktu.
sekitar pukul 08.00 kami sudah sampai di Stasiun Kota Malang, turun dari kereta kita langsung mencari sarapan sebelum berangkat ke penginapan. kesan pertama saya tentang Malang yaitu cuacanya yang tidak jauh berbeda dengan Bandung. penginapan yang kita pilih adalah Wisma Bhayangkara, di jalan Pahlawan Trip. perjalanan Stasiun menuju penginapan pun mudah dan dekat, cukup naik angkutan umum satu kali. dengan harga yang murah, penginapan ini cukup recomended untuk para backpacker yang berniat ke Malang, ya buat tidur+mandi doang sih penginapan ini bisa banget di katakan layak.
setelah merasa cukup untuk istirahat, kami memutuskan untuk mencari makan siang dan membeli beberapa keperluan bersama, salah satunya air mineral 1 liter. dengan pengetahuan jalan yang sangat buruk kami berlima terus berjalan mengintari daerah penginapan, hingga akhirnya menemukan tempat makan yang sangat sederhana, saya memutuskan untuk membeli ayam penyet dan segelas juice semangka, total yang saya keluarkan pada hari itu hanya 14ribu rupiah, murah bukan?

selesai solat magrib dan isya, kami di jemput oleh tour guide bromo kami, untuk mencari makan malam dan berangkat ke bromo. kami makan nasi kucing, yang juga menjadi tempat nongkrong anak-anak muda Malang. setelah kenyang makan, kami pun berangkat menuju bromo. perjalanan Malang-Bromo mencapai 3 jam. setelah sampai pun kita masih harus naik jeep untuk mencapai tempat melihat sunrise, cuaca dingin di Bromo cukup membuatku ragu, jaket dua lapis, sarung tangan, dan penutup telinga masih kurang rasanya untuk menghangatkan badan,  namun semua perjuangan itu sangat terbayarkan dengan pemandangan yang diberikan oleh Gunung Bromo, ini saya tampilkan beberapa fotonya ya..

 

indahnya sunruse di Bromo
 
berdiri dikelilingi oleh gunung-gunung
salah satu pemandangan yang bikin speechless
 
setelah lelah dari Bromo, kami, saya, teman-teman dan mas Hamid (tour guide kami) berbincang di perjalanan pulang, dan man tebak-tebakan konyol yang selalu membuat kami semua tertawa. mas Hamid ini bisa dibilang sempurna untuk jadi tour guide, dia orangnya well-informed banget! selain itu dia juga nice, bisa menempatkan diri, dan yang penting dia melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. untuk teman-teman yang mau ke Malang atau tempat lainnya, bisa coba hubungi kesini :
Fanpage facebook Panorama Holiday : PanoramaHoliday
keesokan harinya, saya dan teman-teman (tanpa mas Hamid) melanjutkan perjalanan ke kota Baru, kata mas Hamid, kota Batu itu awalnya kabupaten Malang, namun akhirnya dia memberanikan diri untuk memisahkan diri dari Malang, dan menjadi kota mandiri. perjalanan Malang-Batu cukup di tempuh kira-kira 2 jam perjalanan. di Batu kami berencana mendatangi Jatim Park 1, Jatim Park 2, dan BNS (Batu Night Spectacular). beruntungnya kami, hanya dengan 150ribu rupiah, kami sudah dapat masuk ke 5 tempat wisata, yaitu Museum Satwa, Batu Secret Zoo, Eco Green Park, Jatim Park 1, dan BNS. dan kesan pertama dari tempat-tempat itu adalah, BERSIH, TERTIB, dan mulut selalu berucap Syukur dan tidak berhenti memuji betapa bagusnya tempat itu. untuk lebih jelasnya saya masukin beberapa foto ya, keindahan yang saya lihat disana tidak dapat dituliskan. intinya selama di tempat wisata, mata selalu dimanjakan dengan pemandangan yang indah.
tampak luar Museum Satwa
tampak luar Batu Secret Zoo
salah satu koleksi di Museum Satwa di bagian insecta
akhirnya ketemu sama beruang kutub! haha
di Indonesia pun ada flamingo. hidup loh ini.
miniatur binatang unyu-unyu di Batu Secret Zoo
replika padang savana
“what are you looking at?” tiger said.
salah satu koleksi unik di Eco Green Park
 
 di Eco, kita bisa puas foto sama burung merak, gratis! asal berani hehe
di BNS sendiri, tempatnya lebih seperti pasar malam, namun lebih rapih tertib dan mainannya lebih bagus, hehehe. mungkin yang agak aneh dari BNS cuma Lampion Garden, untuk lebih jelasnya saya masukin beberapa foto yaa..
sayang waktu itu lupa engga pake gaun, jadinya gak bisa masuk ke rumah sendiri.
waktu 3 hari setengah memang kurang rasanya buat merasakan keindahan Kota Malang, apalagi merasakan keindahan Indonesia yang terpencar di seluruh daerah. Thank you Malang, you make me more grateful and make me love Indonesia much more! :*
ps : tentang apa aja yang di dapat selama trip, menyusul yaa…. di postingan selanjutnya 🙂