prosa

Our Story

348_the-new-rules-of-the-engagement-ring-1038678-TwoByOne

For other people quantity is a key, but not for me.

For other people distance could be a problem, but not for me.

For me quality is a key.

For me trust each other is important.

Thank you for keeping it right.

Thank you for believe in me.

Thank you for make one step closer to our dreams.

Thank you for make our dreams come true.

I know we have problem(s), every couple have problems.

I know our story is not perfect.

But, whatever it is, with you, it feel perfect.

Ya, I love our story.

And, I love you, I do. ❤

 

 

ps : Picture from google :”)

prosa

Selamat Ulang Tahun, Bandung!

“meskipun kau telah banyak berubah, kau tetap bunga di hati ku”
Perasaanku campur aduk melihatmu berkembang dengan pesatnya.
Aku bangga padamu,
Aku senang,
Aku ikut menikmati perkembanganmu, sama seperti semua orang. Baik yang mengenalmu maupun tidak.
Dengan perubahanmu sekarang,
Semakin banyak orang yang ingin mengenalmu.
Semakin banyak orang yang penasaran dengan mu, dengan perjalananmu, sejarahmu.
Semua orang dari seluruh pelosok dunia datang,
Datang untuk mendekatimu, berkenalan dengan mu, ikut merasakan perkembanganmu saat ini.
Di balik mereka semua, ada aku yang ikut tersenyum, menangis.
Terharu sekaligus bangga atas pencapaianmu saat ini.
Aku senang jerih payahmu membuahkan hasil.
Aku ingat saat kau berusaha jatuh bangun untuk sampai seperti ini.
Aku ingat banyak orang yang meragukan mu,
Menyangsikan kehebatan mu, namun kau tetap yakin dan terus berusaha.
Namun di hati kecilku aku khawatir,
Khawatir kau akan berubah sepenuhnya,
Tidak seperti yang ku kenal dulu.
Aku takut,
Takut ketika aku pergi meninggalkanmu untuk sesaat, aku akan kehilangan dirimu sepenuhnya.
Aku takut kalau sisi keunikan mu hilang,
Tergantikan oleh semua jenis perkembangan yang canggih itu.
Semoga dengan perubahanmu saat ini, aku harap semakin banyak orang yang menyayangimu.
Semakin banyak yang ikut merawatmu.
Menjaga semua yang menjadi milik dan keunikanmu,
Terima kasih Bandung,
Terima kasih sudah mengizinkanku untuk lahir di sini,
Terima kasih sudah mengizinkanku untuk berkembang di sini.
Aku harap kau akan menciptakan sejarah baru,
Aku harap julukan Kota Kembang akan selalu melekat padamu.
Aku harap kau tetap menjadi Tanah Pasundan yang ku kenal selama ini.

 

“Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi.” – Pidi Baiq
prosa

Percakapan Logika dan Hati

“ketika menerima adalah jalan terbaik”
“kamu kok lemah sih? Katanya gak pernah mau kalah dari aku?” tanya hati sontak setelah mata ini membaca beberapa tulisan di layar komputer.
“baiklah, hati yang tidak pernah mau kalah. Untuk kali ini aku mengaku kalah, dan tidak bisa menandingi kekuatanmu.” Jawab logika, pasrah.
“gimana sih, kamu yang dulu keras kepala tidak mau aku kalahkan. Sekarang, udah gini kamu angkat tangan. Bantu aku untuk mencapai kestabilan lagi dong.” pinta hati.
“aku harus berbuat apa? Dari dulu aku sudah bilang, jaga dirimu, jangan jatuh terlalu dalam. Susah untuk kembali. Sekarang semua itu terjadi kan?”
“lalu aku harus bagaimana? Rasanya sangat tidak menyenangkan. Walaupun semua ini belum pasti, tapi aku selalu merasa ada yang janggal. Duh jadi aku gak enak, too sensitive.”
 
“ya itu lah dirimu, sifat dasarmu itu bisa menjadi hal terbaik darimu, atau sebaliknya. Semua tergantung bagaimana kamu menuangkannya. Sudah lah, mungkin saat ini memang sudah saatnya untukmu menerima. Karena jika kamu terus berusaha mengelak itu semua, kamu akan semakin lemah dan sakit.”
“tapi bagaimana jika semua itu hanya karena sifatku yang terlalu sensitif ini?”
“itu semua hanya waktu yang bisa menjawabnya, pasrahkan saja pada waktu dan aku akan tetap membantu untuk mencari jawaban dari semua pertanyaan ini.”
Andaikan kedua hal terpenting dalam diri manusia ini bisa saling menyalahkan, saling mengeluarkan semua ‘unek-unek,’ pasti mereka sering banget berceloteh. Hidup kita akan lebih berwarna, mungkin kejadian-kejadian seperti diatas nggak akan terjadi lagi, karena mereka berdua sudah melakukan koordinasi.
Ah sudahlah, kenapa berharap hati dan logika bisa berkoordinasi dan mencari jalan tengah? Ini sama saja kita berharap mendapat jawaban dengan bertanya pada rumput atau bahkan anak bayi yang belum bisa bicara sama sekali.
Mungkin ini semua ada tujuannya, ya, kita dipaksa untuk menerima. Ketika kita udah nggak bisa complain ke siapa-siapa, udah nggak tau harus ngomong ke siapa, udah nggak tau harus curhat bahkan marah ke siapa, memang menerima lah jalan yang terbaik.

 

“menerima itu sulit, tapi terus berharap pada hal yang salah itu lebih sulit.”