opini

Sepuluh Film Drama Indonesia Ter-Favorit

UPLOAD

Semakin kesini, film Indonesia mulai menunjukan kegarangannya di bioskop-bioskop tanah air. Siapa yang sangka film Ada Apa Dengan Cinta 2 bisa bersaing lawan Civil Wars, karena tanggal premier-nya yang berdekatan? Sebenernya yang kita tau, film Indonesia mulai booming lagi mulai tahun 2002, ketika Mira Lesmana dan Riri Riza membuat film ‘Ada Apa Dengan Cinta?’ Setelah itu pun mulai bermunculan film-film Indonesia dengan kualitas yang sangat beragam. Yang kualitasnya super-duper bagus sampai yang yagitudeh, ada semua di bioskop. Memang setelah AADC 1 ada masanya kualitas film Indonesia sangat jauh dari kata bagus, atau ada film bagus tapi pamornya kalah sama film yang ngga bisa dibilang bagus. Masa-masa ini juga yang membuat beberapa temanku terkesan enggan ketika diajak menonton Film Indonesia, dari mulai komentar, ‘nanti juga bentar lagi bakal ada di TV.’ Sampai ‘ah bayar mahal-mahal cuma buat nonton FTV doang.’

Jujur, aku sendiri agak miris mendengar pendapat-pendapat tersebut. Karena ntah kenapa sampai saat ini (meskipun beberapa kali kecewa sama film Indonesia) aku masih mau dan bersemangat untuk nonton film Indonesia langsung di bioskop, ya meskipun tetep rada pemilih sih, apalagi tiket XXI atau bioskop lainnya udah ngga semurah dulu kan, hehe.

Oke, dari pada lama-lama aku di sini mau coba kasih rekomendasi film Indonesia dengan genre drama, komedi, ataupun gabungan keduanya yang menurutku worthed untuk di tonton, sejauh ini. Ingat, ini pendapat penonton awam ya, yang nggak ngerti film apalagi teknik-teknik perfilman, hehe.

Yuk, dimulai.. oh iya, angka terkecil adalah yang paling favorit yaa..

  1. 7 hari 24 jam (2014)

00060430

Yang saya suka dari film ini sebenernya simple, saya suka kesederhanaan dari film ini. Hampir keseluruhan setting dilakukan di rumah sakit. Sentuhan komedi pun disampaikan secara pas dan tidak berlebihan. Untuk urusan acting nggak usah diragukan lagi lah ya, Dian Sastro dan Lukman Sardi sih aku rasa udah bisa memainkan perannya dengan baik. Oh iya, film ini juga memberikan pesan yang cukup baik, bahwa bagaimana pun keluarga itu tetap nomor satu. Kalau teman-teman lagi cari film drama keluarga yang cukup menyenangkan (bikin ketawa dan ngga terlalu baper) harus coba tonton film ini.

  1. Siapa Di Atas Presiden? (2014)

siapa-diatas-presdent

Siapa sangka Rizki Nazar yang selama ini kita lihat di sinetron atau FTV bisa menyeimbangi Ray Sahetapy dan Donny Damara di film ini? Yap. Acting Rizki Nazar menurutku pribadi oke banget di film ini. Aku pribadi jelas bukan penggembar Rizki, tapi setelah menyaksikan film ini, aku cukup dibuat penasaran sama film-film dia yang lain. Cerita yang cukup sensitif, nilai sosial, serta sindiran sosial yang ngena dengan keadaan Indonesia saat ini memang menjadi salah satu kekuatan film ini. Ini menjadi salah satu film yang cukup aku sesali karena tidak sempat menontonnya di bioskop.

  1. Sabtu Bersama Bapak (2016)

IMG-20160228-WA0002

Meskipun awalnya nonton film ini karena pengin liat Abimana, keluar bioskop yang diinget cuma Deva. Deva bener-bener jadi show stealer di film ini, dimana ada scene Deva, pasti ada tawa yang keluar dari mulutku. Memang tidak sedikit yang kecewa dengan filmnya karena mereka sudah membaca novelnya terlebih dulu, tapi buat ku yang memang belum baca bukunya, film ini sangat menghibur dan menyenangkan untuk di tonton!

  1. Ngenest (2015)

12232684_796766383765210_4454227513433115105_o

Kayaknya kemampuan Ernest dalam mengarahkan artis baru harus diacungi jempol sih. Berkatnya, Lala Karmela dan Kevin Anggara bisa memenangkan Pendatang Baru Terbaik di acara awards buat film-film. Seperti yang aku bilang di review film ini di sini kalau yang jadi salah satu daya tarik film ini adalah chemistry antara Ernest sebagai dirinya, dan Lala Karmela sebagai Meira (istri Ernest). Komedinya jelas dapet banget, tapi jangan salah, ada juga scene yang bikin baper dan berhasil membuatku nahan-nahan biar air mata ngga jatuh, hehe.

  1. Rectoverso (2013)

9f42152972d6cc1b40ead2974621fb0f

Ini kayaknya film dengan tahun keluar paling lama yang aku rekomendasiin. Kalau ditanya apa yang paling diinget dari film ini? Jelas acting Lukman Sardi. Kisah Malaikat Juga Tahu memang jadi yang paling kuat diantara cerita-cerita lain di film ini. Temenku (read : cowok) aja nangis sampai minta tisu ke temenku yang lain, canggih sih nih film. Buat temen-temen yang pengen nonton film super baper dan bikin nangis sesegukan, film ini bisa banget dijadiin referensi.

 

  1. Hijab (2015)

141870180726019_1000x1429

Colorful dan menyenangkan adalah dua kesan yang muncul setelah menonton film ini. Setelah membuat banyak film kontroversi, akhirnya Mas Hanung kembali dengan film persahabatan sederhana nan epic. Film yang cukup erat dengan sindiran sosial pun aku rasa cukup worthed untuk di tonton. Ya at least buat yang pengen ketawa-tawa doang, dan melihat chemistry antara keempat perempuan itu.

 

  1. Filosofi Kopi (2015)

poster-terbaru-filosofi-kopi-isyaratkan-konflik

Mata rasanya seger banget liat Rio Dewanto sama Chico Jericho ada di satu frame. Ditambah dengan naskah epic buatan Jenny Jusuf, dan chemistry yang oke antara mereka berdua menjadikan film ini layak untuk di tonton. Saking canggihnya naskah film ini, ada beberapa bagian yang bikin aku senyum tapi sambil meneteskan air mata.

 

  1. Kapan Kawin? (2015)

Kapan-Kawin-Poster-Film-Indonesia

Pantes aja sih kalau Reza Rahardian laku banget sekarang, dan di sebut-sebut salah satu aktor berbakat di Indonesia. Dia kayaknya bisa jadi siapapun (read : kecuali Dono, Abimana oke banget sih jadi Dono dan nggak bakal ada yang ngalahin). Film komedi-romantis ini menawan dengan segala kesederhanaan yang disajikan. Komedi yang disajikan tidak berlebihan, bahkan menurutku sangat simple, konfliknya pun konflik sehari-hari yang memang sering kita temui. Mungkin film ini terasa istimewa karena mereka tidak berusaha untuk menjadi film yang istimewa.

 

  1. Shy Shy Cat (2016)

poster-shy-shy-cats

Siapa sangka Acha Septriasa bisa ngalahin lucunya Nirina Zubir? Siapa sangka Titi Kamal bisa berlogat sunda dengan cukup baik? Yap. Film ini cukup ngasih banyak kejutan. Meskipun judulnya kurang menjual (menurutku), tapi kalau udah nonton, wow! Oh iya, yang aku suka lagi dari film ini, penggunaan Bahasa Sunda di film ini bener-bener diperhitungkan. Pemain-pemain yang diharuskan menggunakan Bahasa Sunda memang bisa berbicara Bahasa Sunda dengan baik, sehingga nggak kerasa ganggu ketika mereka ngomong.

 

  1. Moammar Emka’s : Jakarta Undercover (2017)

Jakarta Undercover poster

PECAH! Cuma satu komentar ku buat film yang satu ini. Alur cerita, acting para pemain, sampai konflik yang terjadi cukup membuat aku puas seketika keluar dari bioskop. Film ini emang pasti banyak kontroversinya, tapi asli bagus. Acting Baim Wong dan Bimo fix jadi favorit ku di film ini. Pesen nih ya, buat temen-temen yang berkesempatan nonton film ini, wajib nonton! Karena ku yakin kayaknya nggak bakalan di tayangin di TV Lokal, hehe.

opini

#yangmudayangberkarya

image

“Selagi ada kesempatan, berkarya ya.” – Hamidiyawan

Kalau ngeliat gambar di atas, muncul satu pertanyaan untuk kita semua yang pengen ku tanyain, “kalian lebih memilih hidup sebentar tapi bermanfaat atau hidup lama tapi useless?” Hidup seperti kura-kura memang sangat menggoda, doing nothing, nggak punya beban apa-apa, nggak punya tanggungan apa-apa, dan kayaknya nggak pernah ngerasain cemas selama hidupnya. Tapi apakah kita akan cukup puas dengan hanya berdiam diri?

Saat ini banyak artis mudah maupun public figure ‘meneriakan’ agar anak-anak muda masa kini mulai berkarya, dalam hal apapun entah seni, bisnis, atau apapun. Liat deh instagram Chelsea Islan, dia sering banget posting dengan hastag #yangmudayangberkarya. Raditya Dika dan Pandji sering jadi pembicara di seminar Creativepeurner buat anak-anak muda.

Seperti yang kita tau, sebenarnya usia nggak bisa jadi patokan buat kita menghasilkan sebuah karya. Untuk contoh, Damien Chazelle (32 tahun) bisa menjadi sutradara termuda dalam sejarah perfilman Hollywood yang memenangkan Oscar. Mungkin ini juga bisa jadi sejarah dunia sih. Joko Anwar aja sampe bikin tweet, “Damien Chazelle diusia 32 udah berhasil dapet oscar, kita diumur 32 udah bikin apa?” yap. Kalau kita selalu berpikiran untuk nunggu umur yang tepat untuk berkarya, kita akan selalu kalah dari orang lain yang mungkin nggak punya pemikiran kayak gitu.

Selalu berhenti berkarya saat ngerasa karyanya nggak cukup bagus? Seperti yang dibilang sama Pandji, ‘semua karya awal tuh pasti alay.’ Ya aku rasa berkarya itu kayak belajar, kayak belajar jalan, kita kan ngga akan bisa langsung lari, pasti jatuh dulu. Begitu juga dengan karya, pertama kita nulis ya nggak bakal bisa dibandingin sama buku-bukunya Dewi Lestari atau Ika Natassa. Pertama kali kita bikin film juga nggak akan sebagus sama film-filmnya Hanung Bramantyo atau Fajar Nugros. Pertama kali kita open mic, ya nggak akan selucu Pandji Pragiwaksono dan Mo Sidik yang udah keliling dunia.

Semua itu butuh proses, butuh waktu dan pastinya butuh usaha. Aku tau kok, dan ngerasain juga, yang namanya maintance usaha dan niat itu nggak gampang. Banyak banget godaannya, banyak banget hal yang akan bikin kita rasanya pengen berenti aja, pengen nyerah aja. Bikin buku tapi nggak lolos publishing, coba ngelucu tapi nggak ada yang ketawa. Kayak yang disampaikan sama Coach Carter di film dengan judul sama ‘walaupun kita ditakdirkan untuk sukses, tapi terkadang kita harus merebut kesuksesaan tersebut.’

In the end, buat siapapun yang ingin berkarya, berkarya lah. Urusan bagus atau jelek itu urusan belakangan. Lagian dengan kita mencoba dan gagal, kita akan tau apa yang harus diperbaiki daripada kita sama sekali mencoba, ya kita nggak bakal tau apa yang kurang dari kita. So, what would you choose to live? Being a rabit, a dog, or a turtle? Its Your choice.

 

“Mulailah berkarya, lalu perbaiki hasil karya tersebut.” 

 

opini

Media Social Generation

1052414

 

Semenjak tahun 2000, media sosial menjadi primadona di kalangan anak muda, beberapa ibu-ibu dan beberapa bapak-bapak. Semua orang berasa di berikan kebebasan untuk mengekpresikan diri mereka, bebas beperilaku seperti apa di media sosial, apa lagi setelah jaman orde baru selesai. Menurut Wikipedia, media sosial itu adalah suatu media online dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan. Semakin ke sini ragam media sosial juga semakin banyak, seperti yang kita tau dari jamannya yahoo, google, friendster, facebook, twitter sampai sekarang jamannya snapchat.

Seperti yang kita tau, salah satu alasan Mark Zuckerberg membuat facebook adalah untuk media komunikasi teman-teman mahasiswanya di Harvard University jadilah facebook, salah satu media sosial ter-favorite sedunia, kurang lebih ada 1,44 miliyar orang yang menggunakan facebook di dunia (Data tahun 2015). Jack Dorsey dan kawan-kawan, menciptakan twitter dengan awal tujuan agar orang-orang dapat berbagi pesan kepada semua teman-temannya dengan lebih mudah dan sekarang twitter menjadi salah satu media sosial terkenal yang based nya adalah media berita.

Nah, semakin kesini semakin banyak kan macam-macam dari media sosial itu. Disadari atau tidak, dengan adanya media sosial ini juga mempengaruhi kehidupan banyak individu. Memang dengan maraknya media sosial, kita sebagai individu muda dan modern (cie..) menjadi merasa lebih leluasa untuk mengungkapkan pendapat kita mengenai suatu hal. Dengan adanya media sosial itu juga, kita diberikan kesempatan untuk ‘menunjukan’ kepada dunia mengenai siapa diri kita, dari mulai kegemaran, kebiasaan, bahkan sampai kelas sosial. Di media sosial juga kita jadi bisa tau teman kita atau bahkan orang lain sudah mengerjakan tugas perkembangannya atau belum.

Tidak sedikit orang-orang mempublikasikan kehidupan sehari-hari mereka dari mulai hal yang wajar sampai terkadang berlebihan. Aku pernah membaca salah satu pendapat orang mengenai Awkarin, dia berpendapat bahwa dia bangga dengan Awkarin karena bisa dengan bebas mengungkapkan pada dunia siapa dirinya, tidak takut memperlihatkan gaya hidup dia yang pasti akan mendapatkan pro-kontra dari para netizen. Dia juga beranggapan bahwa orang-orang di luar sana juga banyak yang gaya hidupnya seperti Awkarin, hanya saja mereka tidak mempublikasikannya ke dunia. Mungkin memang benar, hal apa yang mau mereka publikasikan di media sosial adalah hak dari individu itu sendiri. Tapi apakah yang dia publikasikan itu cukup bermanfaat untuk banyak orang? Apalagi kalau mempublikasikannya via media sosial yang terbuka dan bisa dilihat oleh semua orang, seperti Youtube, Instagram, ataupun Blog.

Dengan adanya media sosial juga sebenarnya semakin meningkatkan tekanan sosial, misalnya teman-teman seangkatan kita sudah pada menikah bahkan punya anak sedangkan kita sendiri jangankan menikah, calonnya aja belum ada. Atau melihat temannya posting foto tunangan sama pacarnya, kita langsung pengen cepet-cepet dilamar sama pacar kita, padahal baru pacaran satu minggu. Hal lain yang lebih sederhana, misalnya melihat teman abis pulang nonton konser boyband Korea, terus kita ngerasa sebel karena kita nggak bisa ikutan nonton. Ngeliat temen kita posting foto mobil barunya, terus kita ngomongin. Ya hal-hal simple tapi berkontribusi nambah dosa gitu sebenernya.

 Sekarang-sekarang juga lagi banyak banget berita hoax yang ada di media sosial, banyaaaaaakkk banget malah. Aku pun kadang suka bingung, kenapa orang-orang sangat mudah percaya sama berita-berita yang sebenarnya website­-nya pun belum tentu credible. Semudah itu masyarakat Indonesia dibohongi? Kadang dengan adanya berita hoax juga semakin memanaskan keadaan, apalagi kalau berhubungan dengan dunia politik yang kayak gurun itu, selalu panas maksudnya. Yang awalnya situasi pilkada udah aman, tenang, eh gara-gara ada berita hoax jadi panas lagi, jubir dari setiap calon saling keras-kerasan berpendapat serasa calon pilihannya adalah pilihan terbaik. Duh, ini yang aku rasakan tiap buka twitter beberapa bulan terakhir, jadi pusing sendiri gitu bacanya, dan akhirnya membuat nggak nyaman. Mungkin hal ini juga dirasakan oleh banyak orang, bukan cuma aku sendiri.

Sebenarnya media sosial juga nawarin banyak manfaat sih, terutama untuk kegiatan promosi. Pasti kan buat mereka yang punya bisnis, media sosial ini ngasih banyak manfaat banget buat mereka. Mereka bisa promosiin bisnisnya tanpa harus bayar kayak koran ataupun radio. Buat yang seneng bikin video, foto dan tulisan pun dimudahkan untuk ‘’berbagi’ hasil karyanya di media sosial. Buat mahasiswa juga yang mau cari informasi pun sangat dimudahkan dengan adanya media sosial, tinggal tulis keyword di google, dan semuanya akan muncul di sana.

Semua balik lagi ke kita sebagai penikmat yang harus pintar memiliah, memilah apa yang kita baca, yang kita lihat dan yang terpenting memilah mana yang akan kita posting, yang kita akan ‘perlihatkan’ ke dunia.

opini

Indonesia vs Korea Selatan

“Budaya adalah satu-satunya harta karun yang tidak akan pernah hilang akibat berjalannya waktu”
Pandji Pragiwaksono pernah bilang gini, “kenapa artis Korea, ntah musik ataupun dramanya lebih mudah ‘go international‘ daripada artis Indonesia?” Masih kata Pandji, dulu ketika dia menjalani World Tour pertamanya, Messake Bangsaku banyak yang nanya “Mas kenapa nggak pake Bahasa Inggris? Kan keliling dunia?” terus Pandji jawab, “apakah kalau orang Korea keliling dunia lirik lagunya harus di ganti ke Bahasa Inggris?” tentu jawabannya tidak. Terus kenapa Budaya Indonesia rasanya tidak semudah itu masuk ke Negara lain? Let me try to explain. 
Sebelum membahas lebih lanjut, maaf-maaf nih buat para fangirl atau fanboy Korea. Postingan kali ini sama sekali tidak bermaksud buat menjelek-jelekan mereka, bahkan saya berharap Indonesia bisa belajar dari mereka. Kalau ada kata-kata yang dianggap kurang pas atau salah, maafkan saya ya Adik-Adik, saya bukan fans mereka soalnya, jadi ngga terlalu ‘mengenal’ mereka.

Pertama saya akan coba bahas dari drama-drama Korea, seorang teman pernah berkata, “sebenernya cerita-cerita Korea yang sekarang, yang cowoknya jutek padahal suka udah ada dari dulu di Indonesia, liat aja itu Tita sama Adit di  Eiffel I’m in Love.” Saya pun langsung teringat dan berkata “iya juga yaaa,” lalu langsung berpikir, kenapa Indonesia saat ini terkesan ‘tertinggal’ dari Negara Gingseng itu?  Jawabannya mungkin dulu sudah pernah saya bahas disini, kalau Korea buat karya itu tidak penah setengah-setengah, saya akui ide-idenya pun terkadang lebih bagus dari Indonesia, terutama bila dibandingkan dengan Sinetron Indonesia. Lalu, yang terlihat jelas, jadwal ditayangkan di televisi juga jauh berbeda, di Indonesia sendiri hampir semua Sinetron itu kejar tayang which is tayang setiap hari, dan tidak tanggung-tanggung sekali tayang bisa sampai 2 jam! Itu sih ngalahin film. Jadi, sangat wajar apabila ceritanya makin kesini makin terlihat monoton dan tidak masuk akal, para tim juga pusing kali lama-lama bikin karya yang kesannya ‘dituntut’ oleh rating, stasiun TV, dan pasar itu. Mungkin karena hal itu ke-idealis-an mereka lama-lama hilang begitu saja. 
Hal lainnya yang mungkin mempengaruhi adalah promosi, atau apa ya saya tidak menemukan kata-kata lainnya yang bisa menggambarkan maksud saya. Intinya, karya Indonesia itu banyaaaaakkkk banget yang bagus, musik, film, buku, bahkan mungkin sinetron dan sitkom. Akses orang Indonesia untuk ‘mengetahui’ hal-hal tersebut yang agak sulit, lebih sulit daripada musik dan drama-drama Korea. Ada yang tau film What They Don’t Talk About When They Talk About Love karya Mouly Surya? Itu adalah salah satu film Indonesia yang bisa masuk Sundance Festival, salah satu festival film yang berkelas di Dunia. Dan kalian tau? Film ini cuma ditayangkan di beberapa Bioskop, seinget saya Blitz dan hanya dalam waktu singkat, ditambah tidak ada penanyangan di televisi. Padahal film ini juga cukup banyak menghasilkan prestasi di ajang Indonesian Movie Awards 2014. Salah satunya Ayushita yang memenangkan the best actris of the year kalau tidak salah.
Dari sisi sinetron, atau oke serial televisi, hmmm…. agak susah memang cari serial televisi sekarang yang masih bermutu. Hmmmm…. Sejauh ini agak berbeda dan sebenarnya mungkin bagus adalah Halfworlds karya Joko Anwar, yang hanya tayang di HBO dan TV kabel lainnya. Kenapa? Saya juga tidak tau, apakah memang konsep Joko Anwar yang hanya ingin ditayangkan di HBO, atau memang sudah kontrak dengan HBO, atau stasiun lokal tidak sanggup membayar atau lebih parahnya tidak mau membeli karena tidak sesuai dengan pasar?

Untuk musik, coba sebutkan musisi Indonesia siapa saja yang sudah berhasil buat konser di Luar Negeri? Banyak! Orkestra-nya Adie MS, musisi dari Elfa’s dan Yovie kayaknya sudah tidak perlu kita masukan dalam hitungan. Maliq D’essenstial dan D’massive pun bahkan sudah pernah melaksanakan konser di luar Negeri, kalau tidak salah di Australia. Lalu kenapa musisi Indonesia ‘dirasa’ masih kalah dengan Musisi yang berasal dari Negeri Gingseng itu? Pertanyaan lain yang muncul dan mungkin paling mendasar, kenapa rakyat Indonesia sendiri terlihat seperti yang ‘tidak’ menghargai hasil karya sesama anak Negeri? Mengapa kita selalu ‘terkesan’ lebih memilih karya dari luar daripada dari negeri sendiri? Ask yourself.

“kalau bukan kita yang  menjaga dan mempromosikan budaya sendiri, hasil karya anak bangsa, siapa lagi?”

Pict : From Tumblr

cerita pribadi · opini

Expect Nothing, Get Everything

Seorang kerabat pernah berkata, ‘ketika kita hidup tanpa penuh ekspektasi, ketika kita mengalami hal yang menyenangkan, akan terasa bonus untuk diri kita.’
Tapi bukannya dengan adanya ekspektasi itu kita menjadi lebih hidup? Hal itu kan yang membuat kita terdorong untuk melakukan atau merencanakan sesuatu? Aku yakin banyak diantara kalian yang berpikiran seperti itu. Dulu, aku termasuk orang yang penuh dengan ekspektasi, yang terkadang membuat pribadi jadi lebih gampang ke-geer-an sama orang lain. Memang, ketika ekspektasi itu terbukti rasanya senang namun ketika tidak terbukti sedihnya pun tidak ada yang mengalahkan.
Sampai akhirnya aku memutuskan untuk daftar S2 Profesi Psikologi di salah satu Universitas Negeri di Jawa Barat. Saat itu aku tidak berekspektasi untuk keterima menjadi mahasiswa disana, karena proses seleksinya yang mematahkan ekspektasiku. Ternyata setelah kurang lebih 2 minggu aku menunggu hasil dengan tidak tenang, aku keterima menjadi mahasiswa disana. Rasa bahagia saat itu sudah tidak bisa digambarkan lagi, pada awalnya aku merasa pesimis dan sudah mempersiapkan skenario terburuk apabila aku gagal dan mau tidak mau daftar ke Universitas lain.
Hal ini terus berlanjut, teman-teman seangkatan yang sudah terlebih dahulu menjalani kehidupan mahasiswa S2 sering bercerita yang membuatku merasa mendengar kisah mimpi buruk setiap harinya. Dengan cerita-cerita itu aku pribadi menjadi tidak berani untuk menaruh harapan tinggi dan ekspektasi yang terlalu besar untuk menjalani kuliah di kampus tersebut. Namun ternyata aku mendapat kan ‘surprise’ kedua yang membuatku senang dan cukup lega. Ternyata cerita mimpi buruk teman-temanku di hari awal kuliah tidak terjadi padaku (semoga seterusnya).  Mulai dari dosennya yang memang tidak pernah aku ragukan, fasilitas yang cukup baik, dan teman-teman yang ternyata menyenangkan.

Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh temanku, terkadang hidup lebih ‘hidup’ ketika kita tidak memiliki ekspektasi apapun. Kita tidak akan mudah kecewa karena kita tidak memiliki beban untuk menjadikan ekspektasi itu menjadi kenyataan. Terkadang tanpa adanya ekspektasi-ekspektasi itu hidup kita akan menjadi lebih bahagia, kadar kebahagiaan kita akan bertambah. Mungkin, kita akan lebih menghargai segala hal ketika kita tidak memiliki ekspektasi sebelumnya. Untuk contoh sederhana, ketika kita sudah ‘tau’ akan diberi kejutan di hari ulang tahun oleh teman terdekat, ketika hal tersebut terjadi semuanya terasa wajar. Lain ceritanya ketika kita tidak menyangka bahwa mereka akan membuatkan kejutan, maka hal itu akan terasa istimewa.

Untuk yang pernah menonton film New Year’s Eve, disana ada perbincangan antara Zac Efron dan lawan mainnya (aku lupa siapa), intinya Zac Efron bertanya, “are you ready for new resolution?” lalu lawannya itu kurang lebih menjawab, “I won’t make resolution anymore. Let everyting be a surprise.” You got a point? 

Kita memang harus memiliki tujuan, dan mimpi agar kita terpacu untuk menjadikannya kenyataan. Tapi apakah mimpi itu sama dengan ekspektasi atau harapan? Ask yourself. Sering kan mendengar kalau manusia hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan semuanya? Kalau ingin sesuatu ya berusaha lah semaksimal mungkin, berdoa, dan serahkan semuanya pada Tuhan. You can’t expect everything, everyday. 




“Kekecewaan terbesar datang dari ekspektasi yang besar”

 

opini

Am I Ready For Marriage??

 

“When marrying, ask yourself this question: Do you believe that you will be able to converse well with this person into your old age? Everything else in marriage is transitory.” – Friedrich Nietzsche
Seperti yang aku bilang sebelumnya, tuntutan akan terus bertambah sejalan dengan bertambahnya usia seseorang. Dari mulai Cuma sekedar naik kelas, lulus kuliah, kerja, menikah, dan seterusnya.
Atasanku di kantor pernah bertanya, “Ni, kapan lo nikah?” aku menjawabnya hanya dengan tawa.
Setiap kali aku bertemu dengan beberapa teman, tema pernikahan ini menjadi trending topic nomor satu di dalam pembicaraan kita. Beberapa teman pun sudah menikah dengan pilihannya, entah teman kuliah, SMA, SMP, bahkan SD sekalipun. Mungkin memang sedang trend untuk menikah muda, eh atau memang wajar ya menikah di usia 23-24 ya? Dan aku yang aneh?
Sebuah survey mengatakan bahwa rata-rata usia perkawinan saat ini hanya 7 tahun. Percaya? Buat aku pribadi agak sulit rasanya untuk nggak percaya, apalagi dengan banyaknya kasus perceraian di TV. Oh mungkin, selain trend nikah muda mungkin menjadi janda/duda muda pun sudah jadi trend baru sekarang?
Bukan, bukan aku ngga menyetujui keinginan seseorang untuk menikah muda, nggak sama sekali. Aku sebenarnya mendukung dan sangat ingin juga menikah di usia sebelum kepala 3. Aku sendiri sangat menyayangkan dengan hasil penelitian di atas, miris mendengarnya.
Kata Marriage atau pernikahan sendiri memiliki arti upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Ya, sebuah pernikahan adalah sebuah pengingakatan janji yang dilakukan oleh dua orang (beserta keluarganya). Terkadang apa yang kita lupa bahwa pengikatan janji itu tidak berbatas waktu, apa yang mereka ucapkan di depan KUA, Wali Nikah, Saksi dll adalah berlaku untuk seumur hidup.
Salah seorang kerabat pernah berkata “nikah itu bukan cuma sekedar seneng-seneng aja, atau buat menghalalkan apa yang sebelumnya haram.  Nikah itu lebih serius daripada itu semua.” Pernikahan itu bukan hanya menyatukan dua kepala, di Indonesia yang budaya timurnya sangat kuat, pernikahan itu adalah proses menggabungkan dua keluarga besar, budaya, agama, kepercayaan, kebiasaan, dan lain sebagainya. Hal-hal yang terdengar sepele ini terkadang bisa menjadi masalah besar ketika kita nggak mempersiapkan diri dari awal.
Ada istilah ‘janganlah menikah kalau belum siap.’ kurang lebih saya pribadi setuju dengan pernyataan tersebut, kita memang harus benar-benar mempersiapkan segala hal ketika akan menikah, dari mulai materi, mental, fisik, dan lain sebagainya. Kita harus mencari tahu masalah-masalah apa yang mungkin muncul dalam sebuah pernikahan, apa yang akan terjadi ketika sudah punya anak, hal apa saja yang akan terjadi dalam usia ke 3 atau ke 5 tahun usia pernikahan, kebutuhan apa saja yang harus kita miliki dan lain sebagainya.
Ketika seseorang sudah menikah, kehidupan seseorang itu akan berubah 180 drajat. Awalnya kita hidup hanya untuk diri sendiri, mencari rejeki hanya untuk diri sendiri (ya mungkin kasih ke keluarga sedikit), tiap weekend mau tidur sampe mabok di rumah, liburan keluar kota bahkan keluar negeri sendiri bisa kita lakuin. Dan semua itu berubah ketika kita sudah menikah, ada orang lain di hidup kita yang harus dan mau nggak mau ‘ikut campur’ dalam kehidupan kita, kita mencari rejeki akan lebih semangat karena ada orang lain jadi motivasi kita (terutama kalau sudah punya anak), nggak bisa pergi liburan gitu aja sendirian, tapi juga jadi ada yang nemenin kemana-mana, ada temen yang bisa kita ajak cerita, teman sharing dan ‘guru’ ketika kita dalam kesulitan. Belum lagi kalau pihak ketiga (mertua) turun tangan untuk menyelesaikan masalah kita dengan pasangan, karena ya kita nggak bisa naif, di Indonesia peran orang tua sangat-sangat-sangat masih berpengaruh meskipun kita sudah memiliki rumah tangga sendiri.
So, before you decide to get married, ask your self. Am I ready for marriage?  
opini

Uang ≠ Kebahagian

picture from Tumblr.com
I’d learned how much happiness money can bring you. Very little.” 
–  Rick Pitino
Di luar sana masih banyak, –terlalu banyak– orang yang menganggap uang itu segalanya, uang itu disamakan dengan kebahagian. Memang agak sulit untuk merubah paradigma ini, apalagi di Negara kita, Indonesia. Di sini uang masih jadi tolak ukur seseorang itu sukses atau tidak, seberapa banyak pendapatan seseorang masih menentukan ‘derajat’ orang tersebut. paham kan maksudnya? Banyak perusahaan-perusahaan terus menerus meningkatkan upah untuk para pekerjanya dengan harapan kepuasan kerja mereka pun akan meningkat, yang otomatis akan meningkatkan juga produktifitas kerja (kalau tidak yakin boleh googling saja, sudah banyak jurnal atau penelitian membahas hal ini). Bahkan Pemerintah sempat berencana untuk menaikan gaji PNS dan Pegawai Pemerintah lainnya untuk menghilangkan korupsi. Mungkin mereka belum pernah dengar pepatah ini, “sekecil apapun pendapatan pasti cukup untuk biaya hidup. Sebesar apapun pendapatan tidak akan pernah cukup untuk membeli gaya hidup.” Ada hal yang saya alami sendiri, semakin besar pendapatan saya, semakin besar juga pengeluaran yang diperlukan (diinginkan), ya itu lah bedanya biaya hidup dengan gaya hidup.
Sebenarnya, masih ada hal yang lebih penting daripada uang. Uang itu cuma sebagian kecil dari banyaknya indikator yang membuat kita bahagia. Bahkan salah satu tokoh Psikologi Humanistik, Abaraham Maslow menjelaskan mengenai hirarki kebutuhan manusia;
1. Kebutuhan Fisiologis : makan, minum, tempat tinggal, dll.
2. Kebutuhan Keamanan
3. Kebutuhan Cinta, Sayang, dan Kepemilikan
4. Kebutuhan Esteem : penghargaan diri.
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri,
dan Bapak Psikologi yang satu ini juga mengatakan bahwa seseorang tidak akan naik ke kebutuhan di atasnya apabila kebutuhan di bawahnya belum terpenuhi, contoh : seseorang yang belum punya rumah, dia tidak akan pernah merasa aman apalagi muncul kebutuhan ingin meng-aktualisasi diri.
Sekarang, kalau dilihat dari 5 kebutuhan itu, hanya satu kebutuhan yang jelas-jelas membutuhkan uang, yaitu kebutuhan fisiologis. Sedangkan yang lainnya, lebih kepada kebutuhan psikologis seseorang yang tidak selalu membutuhkan uang, kan?  That’s why ‘do what you love’ is important.
Saya punya cerita, ada seorang lulusan Universitas Negeri nomor 1 di Bandung (tidak usah disebutkan namanya, ya?) bekerja di perusahaan Tambang di Kalimantan selama lima tahun, pendapatan perbulannya sudah mencapai puluhan juta rupiah, akhirnya dia memutuskan untuk resign, dan saat ini dia bekerja menjadi guru les di salah satu Bimbingan Belajar yang ada di Bandung. Alasan utama mengapa dia resign, cuma satu: dia tidak enjoy melakukan pekerjaannya. Simple, kan?
Itulah yang menjadi alasan utama saya menulis postingan ini, ya selain ada pengalaman pribadi yang sedang saya alami saat ini hehe. Intinya, kita harus mulai belajar bahwa terkadang tidak semuanya mengenai uang. Ya memang uang adalah fondasi untuk kehidupan kita, saya juga tidak naif bahwa saat ini kita membutuhkan uang untuk hampir semua hal, termasuk ke WC umum. Tapi di sisi lain, saya juga mau mengingatkan bahwa ada baiknya kita tidak terlena hanya dengan uang, dan akhirnya membuat kita menjadi seperti robot, melakukan hal yang sebenarnya kita tidak suka hanya demi uang, it will kill you, eventually. Tidak ada salahnya untuk mencoba sesuatu yang memang kita sukai dan akhirnya bisa memberikan ‘uang’ juga untuk kita, walaupun sesuatu itu harus kita mulai dari nol. Karena saya percaya, akan lebih baik kita berjuang untuk hal yang kita sukai, daripada terus menjalani sesuatu yang tidak kita sukai. You got my point? 
 
 
 
 
 
PS : Blog masih dalam keadaan tidak Fit 100%, karena saya tidak bisa membalas comment secara langsung. Buat yang kasih comment dan ingin dapat balasan bisa cantumkan alamat email, or just contact me via email. thank you readers. 🙂 
opini

Existance is Not Existence

 

sesuai dengan teori Hirarki dari Mashlow, bahwa semua orang, kemungkinan akan sampai pada titik munculnya kebutuhan esteem. ya, hampir semua orang ingin dianggap, kita sebagai manusia ingin kan di ‘lihat’ oleh orang lain, atau setidaknya dianggap ada oleh orang lain.
namun kita terkadang terlalu terlena dengan kata kunci ‘eksistensi,’ sehingga kita lupa makna eksistensi yang baik itu seperti apa. kita lihat contoh jelasnya aja ya, Mr. (yang katanya) Pengacara yang selalu bikin sensasi dengan nyebarin komentar aneh-aneh tentang orang lain, sampai ribut sama orang lain. buatku, rasanya eksistensi itu tidak ada artinya kalau kita tidak bisa memanfaat ‘keberadaan’ kita menjadi sesuatu yang baik, paham kan maksud ku?
ketika kita hanya ingin dianggap ada, namun tidak bisa mengisi keberadaan itu dengan ‘sesuatu’ hal, rasanya sama artinya dengan air conditioner tanpa freon, useless, tidak berarti apa-apa. semua perjuangan kita untuk dianggap jadi hilang gitu aja, tidak bersisa apapun. sangat disayangkan, apalagi kalau kita sudah dikenal karena sesuatu yang baik, namun tidak dapat mempertahankan hal tersebut. beda kan rasanya dianggap karena hal baik, dan dianggap karena sesuatu yang buruk?
pepatah menyebutkan, ‘lebih sulit mempertahankan daripada meraih.’ I cant agree more. karena memang benar, ketika kita sudah dapat apa yang kita inginkan, sudah dianggap dengan orang lain, kita jadi terlena dan terkadang jadi lupa diri, sehingga kita lebih fokus kepada tingkat ‘eksistensi’ daripada kualitas ‘eksistensi’ itu sendiri. karena pada dasarnya ‘eksistensi’ atau akhirnya jadi ‘popularitas’ bukan sekedar dianggap ada, disegani apa yang kamu punya secara materi, namun lebih luas daripada itu. seperti apa yang dikatakan Ariana Grande di lagunya Popular Song,
 
“popular, I know about popular
it’s not about who you are or your fancy car
you’re only ever who you are.
popular, I know about popular
and all that you have to do, is be true to you
that’s all you ever need to know”
pada akhirnya, mungkin lebih baik fokus ke hal-hal yang akan kita lakukan terus untuk mendapatkan atau mempertahankan our good existance daripada fokus hanya pada kata ‘eksistensi’-nya aja. you got what i mean?