Love and Commitment, are they the same?

upload relationship

“Setiap orang punya cara tersendiri untuk mengungkapkan rasa sayangnya. Setiap orang juga punya persepsi sendiri terhadap perlakuan pasangannya.”

 

Di dalam kamus Psikologi, relationship diartikan sebagai hubungan jangka panjang yang dibangun di atas ikatan emosional yang kuat dan rasa komitmen terhadap orang lain. Hubungan ini sedemikian dekat dan kuat sehingga individu tersebut tidak dapat dengan mudah mengganti pasangannya dengan orang baru (Reber, 1985). Continue reading “Love and Commitment, are they the same?”

Advertisements

What You Feel, It’s Because What You Think.

images
pinterest

 

“People don’t just get upset. They contribute to their upsetness” – Albert Ellis

 

Menurut teori psikologi, pribadi individu itu diliputi oleh berbagai hal, yaitu Kognisi (bagaimana individu tersebut berpikir), Afektif (bagaimana emosi dan perasaan individu itu), Motivasi (bagaimana individu tersebut ‘berusaha’ atau bergerak), dan yang terakhir adalah Relasi Sosial (bagaimana seorang individu berinteraksi dengan lingkungan maupun individu lain). Nah, sekarang tolong kasih aku kesempatan untuk menyampaikan pendapatku mengenai hubungan antara dua hal tersebut, yaitu kognisi dan afektif. Sebelum mulai, aku mau memberikan sebuah pertanyaan, “kalau kalian lagi kesel, perasaan itu muncul sendiri atau ada pikiran yang mengikutinya?”

Di Ilmu Psikologi, dipelajari bahwa pikiran dan perasaan atau emosi itu berkaitan. Banyak dari munculnya suatu emosi atau perasaan itu karena adanya suatu pikiran yang menyertai, kebayang ngga maksudnya? Sering denger dong, satu quote yang bilang ‘kamu senang jika kamu berpikir demikian’ atau ‘kamu bisa karena kamu berpikir kalau kamu bisa.’ Contoh yang lebih jelas deh ya, misalnya kita takut sama ular, karena kita punya pikiran bahwa ular itu mengancam dan membahayakan diri kita. Contoh kedua, ketika kita marah sama seseorang biasanya karena kita punya pikiran bahwa seharusnya orang itu tidak berlaku seperti itu kepada kita. Sudah makin kebayang kan? Jadi, memang terkadang perasaan nggak enak yang kita rasakan itu karena ada pikiran yang salah di diri kita. Hanya saja kita sering tidak menyadari hal ini, karena ketika emosi yang sudah dominan menguasai diri kita, kita jadi sulit untuk berpikir jernih. Jadi boro-boro mikirin penyelesaiannya, mikir penyebabnya aja kadang-kadang sulit dan semua setuju dong kalau kita nggak akan pernah bisa nyelesain masalah kalau penyebabnya sendiri kita nggak tau. Akhirnya ya makin menjadi lah emosi yang nggak baik itu di diri kita.

Pertanyaan selanjutnya adalah, gimana caranya supaya kita nggak ‘tenggelam’ di dalam emosi negatif itu? Menurutku salah satu cara yang bisa dilakuin adalah Analisa “kenapa kamu berperasaan seperti itu?” sulit? Tentu, apalagi kalau yang ngga biasa, eh susah deng buat semua juga karena kita terbiasa ‘mengobati’ apa yang kita rasakan tanpa benar-benar ‘mengobatinya.’ Contohnya nih, kamu lagi marah atau sedih, yang dilakukan? Mencoba menghilangkan perasaan tersebut kan tanpa menghilangkan pikiran yang sebenarnya ada, jadi ya perasaan itu akan hilang tapi akan muncul lagi juga ketika suatu kejadian yang mirip terjadi lagi. Eh kebayang nggak sih maksudku? Kita terbiasa untuk lebih memilih untuk karokean, atau bahkan tidur daripada benar-benar memikirkan mengenai masalah yang terjadi dan bagaimana cara menyelesaikannya. Ya seperti yang aku bilang tadi, kita akan cenderung memilih memperbaiki perasaan kita terlebih dahulu. Apakah cara ini salah? Tentu nggak dong, apalagi kita tau kalau lagi kesel atau sedih kita nggak akan bisa mikir jernih kan.

Sebenarnya, aku punya salah satu cara yang mungkin cukup efektif untuk menyelesaikan permasalahan ini, yaitu dengan cara menulis. Untuk tau masalah apa yang sebenarnya kita alami, pikiran apa yang sebenernya bikin mood kita super ajaib, ya kita harus mengeluarkan semua yang kita pikirkan dalam bentuk tulisan. Breakdown apa saja yang sebenarnya kita pikirkan, setelah ditulis, biasanya kita jadi tau apa pikiran apa yang sebenernya paling mengganggu kita, mana pikiran yang menjadi sumber masalah. Lalu selanjutnya, selesaikan apa yang bisa diselesaikan. Ikhlaskan yang harus di iklhaskan, dan lupakan yang perlu dilupakan. Intinya sih, jangan sampai perasaan kita dipenuhi sama emosi-emosi negatif terus karena kita nggak pernah mendalami apa yang sebenarnya membuat perasaan negatif itu muncul.

10 Buku Terfavorit

696c7170e4148a8c31b7a5e8e8f1f7f7
pinterst

“A book is a dream, that you hold in your hands” – Neil Gaiman

Setelah waktu itu posting tentang film Indonesia terfavorit, dan serial Hollywood terfavorit, kali ini saya akan membuat list tentang buku-buku favorit saya. Dari 10 buku ini, ada yang fiksi dan non-fiksi, dan ada yang lokal maupun import. Buat teman-teman yang suka baca juga, atau lagi cari-cari buku bacaan, semoga postingan ini bermanfaat yaaa… yuk kita mulai, oh iya seperti biasa nomor terkecil adalah yang paling favorit ya…  Continue reading “10 Buku Terfavorit”

Sepuluh Film Drama Indonesia Ter-Favorit

UPLOAD

Semakin kesini, film Indonesia mulai menunjukan kegarangannya di bioskop-bioskop tanah air. Siapa yang sangka film Ada Apa Dengan Cinta 2 bisa bersaing lawan Civil Wars, karena tanggal premier-nya yang berdekatan? Sebenernya yang kita tau, film Indonesia mulai booming lagi mulai tahun 2002, ketika Mira Lesmana dan Riri Riza membuat film ‘Ada Apa Dengan Cinta?’ Setelah itu pun mulai bermunculan film-film Indonesia dengan kualitas yang sangat beragam. Yang kualitasnya super-duper bagus sampai yang yagitudeh, ada semua di bioskop. Memang setelah AADC 1 ada masanya kualitas film Indonesia sangat jauh dari kata bagus, atau ada film bagus tapi pamornya kalah sama film yang ngga bisa dibilang bagus. Masa-masa ini juga yang membuat beberapa temanku terkesan enggan ketika diajak menonton Film Indonesia, dari mulai komentar, ‘nanti juga bentar lagi bakal ada di TV.’ Sampai ‘ah bayar mahal-mahal cuma buat nonton FTV doang.’ Continue reading “Sepuluh Film Drama Indonesia Ter-Favorit”

#yangmudayangberkarya

image

“Selagi ada kesempatan, berkarya ya.” – Hamidiyawan

Kalau ngeliat gambar di atas, muncul satu pertanyaan untuk kita semua yang pengen ku tanyain, “kalian lebih memilih hidup sebentar tapi bermanfaat atau hidup lama tapi useless?” Hidup seperti kura-kura memang sangat menggoda, doing nothing, nggak punya beban apa-apa, nggak punya tanggungan apa-apa, dan kayaknya nggak pernah ngerasain cemas selama hidupnya. Tapi apakah kita akan cukup puas dengan hanya berdiam diri?

Saat ini banyak artis mudah maupun public figure ‘meneriakan’ agar anak-anak muda masa kini mulai berkarya, dalam hal apapun entah seni, bisnis, atau apapun. Liat deh instagram Chelsea Islan, dia sering banget posting dengan hastag #yangmudayangberkarya. Raditya Dika dan Pandji sering jadi pembicara di seminar Creativepeurner buat anak-anak muda.

Seperti yang kita tau, sebenarnya usia nggak bisa jadi patokan buat kita menghasilkan sebuah karya. Untuk contoh, Damien Chazelle (32 tahun) bisa menjadi sutradara termuda dalam sejarah perfilman Hollywood yang memenangkan Oscar. Mungkin ini juga bisa jadi sejarah dunia sih. Joko Anwar aja sampe bikin tweet, “Damien Chazelle diusia 32 udah berhasil dapet oscar, kita diumur 32 udah bikin apa?” yap. Kalau kita selalu berpikiran untuk nunggu umur yang tepat untuk berkarya, kita akan selalu kalah dari orang lain yang mungkin nggak punya pemikiran kayak gitu.

Selalu berhenti berkarya saat ngerasa karyanya nggak cukup bagus? Seperti yang dibilang sama Pandji, ‘semua karya awal tuh pasti alay.’ Ya aku rasa berkarya itu kayak belajar, kayak belajar jalan, kita kan ngga akan bisa langsung lari, pasti jatuh dulu. Begitu juga dengan karya, pertama kita nulis ya nggak bakal bisa dibandingin sama buku-bukunya Dewi Lestari atau Ika Natassa. Pertama kali kita bikin film juga nggak akan sebagus sama film-filmnya Hanung Bramantyo atau Fajar Nugros. Pertama kali kita open mic, ya nggak akan selucu Pandji Pragiwaksono dan Mo Sidik yang udah keliling dunia.

Semua itu butuh proses, butuh waktu dan pastinya butuh usaha. Aku tau kok, dan ngerasain juga, yang namanya maintance usaha dan niat itu nggak gampang. Banyak banget godaannya, banyak banget hal yang akan bikin kita rasanya pengen berenti aja, pengen nyerah aja. Bikin buku tapi nggak lolos publishing, coba ngelucu tapi nggak ada yang ketawa. Kayak yang disampaikan sama Coach Carter di film dengan judul sama ‘walaupun kita ditakdirkan untuk sukses, tapi terkadang kita harus merebut kesuksesaan tersebut.’

In the end, buat siapapun yang ingin berkarya, berkarya lah. Urusan bagus atau jelek itu urusan belakangan. Lagian dengan kita mencoba dan gagal, kita akan tau apa yang harus diperbaiki daripada kita sama sekali mencoba, ya kita nggak bakal tau apa yang kurang dari kita. So, what would you choose to live? Being a rabit, a dog, or a turtle? Its Your choice.

 

“Mulailah berkarya, lalu perbaiki hasil karya tersebut.” 

 

Media Social Generation

1052414

 

Semenjak tahun 2000, media sosial menjadi primadona di kalangan anak muda, beberapa ibu-ibu dan beberapa bapak-bapak. Semua orang berasa di berikan kebebasan untuk mengekpresikan diri mereka, bebas beperilaku seperti apa di media sosial, apa lagi setelah jaman orde baru selesai. Menurut Wikipedia, media sosial itu adalah suatu media online dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan. Semakin ke sini ragam media sosial juga semakin banyak, seperti yang kita tau dari jamannya yahoo, google, friendster, facebook, twitter sampai sekarang jamannya snapchat. Continue reading “Media Social Generation”

Indonesia vs Korea Selatan

“Budaya adalah satu-satunya harta karun yang tidak akan pernah hilang akibat berjalannya waktu”
Pandji Pragiwaksono pernah bilang gini, “kenapa artis Korea, ntah musik ataupun dramanya lebih mudah ‘go international‘ daripada artis Indonesia?” Masih kata Pandji, dulu ketika dia menjalani World Tour pertamanya, Messake Bangsaku banyak yang nanya “Mas kenapa nggak pake Bahasa Inggris? Kan keliling dunia?” terus Pandji jawab, “apakah kalau orang Korea keliling dunia lirik lagunya harus di ganti ke Bahasa Inggris?” tentu jawabannya tidak. Terus kenapa Budaya Indonesia rasanya tidak semudah itu masuk ke Negara lain? Let me try to explain. 
Sebelum membahas lebih lanjut, maaf-maaf nih buat para fangirl atau fanboy Korea. Postingan kali ini sama sekali tidak bermaksud buat menjelek-jelekan mereka, bahkan saya berharap Indonesia bisa belajar dari mereka. Kalau ada kata-kata yang dianggap kurang pas atau salah, maafkan saya ya Adik-Adik, saya bukan fans mereka soalnya, jadi ngga terlalu ‘mengenal’ mereka.

Pertama saya akan coba bahas dari drama-drama Korea, seorang teman pernah berkata, “sebenernya cerita-cerita Korea yang sekarang, yang cowoknya jutek padahal suka udah ada dari dulu di Indonesia, liat aja itu Tita sama Adit di  Eiffel I’m in Love.” Saya pun langsung teringat dan berkata “iya juga yaaa,” lalu langsung berpikir, kenapa Indonesia saat ini terkesan ‘tertinggal’ dari Negara Gingseng itu?  Jawabannya mungkin dulu sudah pernah saya bahas disini, kalau Korea buat karya itu tidak penah setengah-setengah, saya akui ide-idenya pun terkadang lebih bagus dari Indonesia, terutama bila dibandingkan dengan Sinetron Indonesia. Lalu, yang terlihat jelas, jadwal ditayangkan di televisi juga jauh berbeda, di Indonesia sendiri hampir semua Sinetron itu kejar tayang which is tayang setiap hari, dan tidak tanggung-tanggung sekali tayang bisa sampai 2 jam! Itu sih ngalahin film. Jadi, sangat wajar apabila ceritanya makin kesini makin terlihat monoton dan tidak masuk akal, para tim juga pusing kali lama-lama bikin karya yang kesannya ‘dituntut’ oleh rating, stasiun TV, dan pasar itu. Mungkin karena hal itu ke-idealis-an mereka lama-lama hilang begitu saja. 
Hal lainnya yang mungkin mempengaruhi adalah promosi, atau apa ya saya tidak menemukan kata-kata lainnya yang bisa menggambarkan maksud saya. Intinya, karya Indonesia itu banyaaaaakkkk banget yang bagus, musik, film, buku, bahkan mungkin sinetron dan sitkom. Akses orang Indonesia untuk ‘mengetahui’ hal-hal tersebut yang agak sulit, lebih sulit daripada musik dan drama-drama Korea. Ada yang tau film What They Don’t Talk About When They Talk About Love karya Mouly Surya? Itu adalah salah satu film Indonesia yang bisa masuk Sundance Festival, salah satu festival film yang berkelas di Dunia. Dan kalian tau? Film ini cuma ditayangkan di beberapa Bioskop, seinget saya Blitz dan hanya dalam waktu singkat, ditambah tidak ada penanyangan di televisi. Padahal film ini juga cukup banyak menghasilkan prestasi di ajang Indonesian Movie Awards 2014. Salah satunya Ayushita yang memenangkan the best actris of the year kalau tidak salah.
Dari sisi sinetron, atau oke serial televisi, hmmm…. agak susah memang cari serial televisi sekarang yang masih bermutu. Hmmmm…. Sejauh ini agak berbeda dan sebenarnya mungkin bagus adalah Halfworlds karya Joko Anwar, yang hanya tayang di HBO dan TV kabel lainnya. Kenapa? Saya juga tidak tau, apakah memang konsep Joko Anwar yang hanya ingin ditayangkan di HBO, atau memang sudah kontrak dengan HBO, atau stasiun lokal tidak sanggup membayar atau lebih parahnya tidak mau membeli karena tidak sesuai dengan pasar?

Untuk musik, coba sebutkan musisi Indonesia siapa saja yang sudah berhasil buat konser di Luar Negeri? Banyak! Orkestra-nya Adie MS, musisi dari Elfa’s dan Yovie kayaknya sudah tidak perlu kita masukan dalam hitungan. Maliq D’essenstial dan D’massive pun bahkan sudah pernah melaksanakan konser di luar Negeri, kalau tidak salah di Australia. Lalu kenapa musisi Indonesia ‘dirasa’ masih kalah dengan Musisi yang berasal dari Negeri Gingseng itu? Pertanyaan lain yang muncul dan mungkin paling mendasar, kenapa rakyat Indonesia sendiri terlihat seperti yang ‘tidak’ menghargai hasil karya sesama anak Negeri? Mengapa kita selalu ‘terkesan’ lebih memilih karya dari luar daripada dari negeri sendiri? Ask yourself.

“kalau bukan kita yang  menjaga dan mempromosikan budaya sendiri, hasil karya anak bangsa, siapa lagi?”

Pict : From Tumblr