Senter.id dan Story of Chrysanthemum

IMG_6706

 

Halo readers! Lagi pada sibuk apa sekarang? Masih pada bersedia baca blog ini kan?

Setelah kemarin-kemarin isi blog ini diramaikan oleh review, tips, bahkan sampai resep, kali ini saya cuma mau bercerita tentang kerjaan pribadi saya. Kita mulai saja ya…

Continue reading “Senter.id dan Story of Chrysanthemum”

Advertisements

Pre-Order Chrysanthemum

Cover Chrysanthemum

Hei Teman-teman, akhirnya anak kedua saya kelar jugaa….

Jadi apa sih Chrysanthemum ini? Chrysanthemum ini adalah buku pertama saya yang isinya hampir 80% fiksi. Buku ini sendiri terdiri dari kumpulan cerita, tepatnya 10 cerita, terdiri dari prosa, cerpen, hingga cerber. Inti dari cerita-cerita di buku ini masih tentang cinta. Continue reading “Pre-Order Chrysanthemum”

(NEXT) BIG PROJECT

“Khayalan ditambah kerja keras = kenyataan” – Pandji Pragiwaksono
Hai Readers! Apa kabar?
Untuk kali ini saya nggak akan posting tentang pendapat pribadi atau cerpen hehe. Kali ini saya cuma mau cerita (singkat) tentang 2 project besar jangka panjang, dan satu project ya kecil lah untuk jangka pendek. Here we go.
Setelah selesai dengan buku L.I.F.E yang Alhamdulillah sudah 3 kali dibuka proses pre-ordernya dan setelah dapat insight seletah membaca bukunya Mas Pandji, yang Nasional.Is.Me dan Menemukan Indonesia, saya jadi terdorong untuk memberikan sesuatu untuk Kota tempat lahir dan tinggal saya hingga saat ini, Bandung. Dalam bentuk apa karyanya? Yang jelas berupa tulisan, buku, yang (InsyaAllah) ditulis oleh dua orang, saya pribadi dan salah satu teman saya. Sebenarnya judulnya sudah ada beberapa yang sedang di ‘godok’ isinya pun sudah mulai dibicarakan, tapi untuk jelasnya nanti saya jelaskan kalau sudah 80% selesai aja yaa.. Btw, nanti buku ini bisa teman-teman download gratis ebook-nya di hari Ulang Tahun Kota Bandung, 25 September tahun ini. Doakan lancar terus yaa, biar bisa selesai tepat waktu.

Project kedua adalah kembali membuat buku fiksi (novel). Project ini pun rencananya dikerjakan oleh dua orang saya dan Indah Sundari, mungkin untuk beberapa teman-teman nama itu sudah tidak aneh ya? Secara dia adalah salah satu finalis Wanita Muslimah tahun 2014. Oke, kembali membahas project kedua ini, rencananya cerita novel ini mengandung hal-hal yang berbau psikologi, kenapa? Karena kami bedua ingin membagikan ilmu yang sedang kami pelajari, hehehe.  Namun untuk project kedua ini kami berdua masih belum tau kapan bisa selesai, karena sejujurnya kami berdua sama-sama dikejar dengan kesibukan masing-masing. Doakan semoga bisa cepat selesai dan berbagi dengan teman-teman semua ya!

Dan project terakhir yang merupakan project kecil-tapi-harus-konsisten ini adalah kembali ‘memelihara’ blog review film saya, yaitu scriptcatcher.wordpress.com. Akhir-akhir ini memang blog saya agak terlantar. Maka dari itu, setelah mendapatkan saran dari teman-teman, saya akan mulai rajin menulis review film lagi (yang sebenarnya list-nya sudah numpuk. banget). Untuk membantu agar konsisten, saya punya rencana untuk mem-posting time table setiap bulan yang isinya film apa saja dan kapan saja itu akan saya posting di blog dalam satu bulan. Semoga dengan hal tersebut saya bisa terus konsisten ya dalam menulis, dan mengeluarkan semua yang ada di kepala saya. Karena jujur, ketika terlalu banyak ide yang ada tapi tidak dikeluarkan (di luar ide itu luar biasa atau biasa saja) rasanya sangat tidak enak dan menganggu, hehe.

WISH ME LUCK!

Project Novel

Hai Readers, apa kabar?
Oh iya, sekarang aku ada niat untuk membuat novel ciklit-fiksi-romance gitu, sejauh ini sih masih proses penulisan bahkan sampai sekarang belum bisa nentuin judulnya dan mulai bingung antara lanjut apa nggak, hahahha :’D
Maka dari itu aku bakal posting -yang rencananya jadi chapter 1 di novel tersebut- dan minta pendapat readers semua apakah chapter 1 tersebut sudah cukup menarik dan pantas untuk di lanjutkan apa bagaimana? plus minta kritiknya jugaa yaa, hehe (banyak maunya nih). Oke deh, here it is :
 
 
Chapter 1
Phobia, Histerionic, Passive-Aggresive, Schizophrenia, Paranoid, dan bermacam-macam Masalah Kejiwaan ini sudah 5 jam non-stop­ keluar masuk kepalaku. Iphone ku sudah berkali-kali bergetar tanda ada telfon masuk yang dengan berat hati harus aku reject atau tidak aku angkat sama sekali. Lagi-lagi aku harus absen untuk kumpul bersama teman-temanku. Andaikan besok bukan hari perdana ku Stase 1 di Rumah Sakit khusus kejiwaan, pasti saat ini juga aku sudah meluncur ke Rumah Kopi buat ketemu sama Rana, Anya, dan Adira.
Neng, ini ada telfon!” Teriak Mbak-ku dari lantai bawah.
Siapa sih yang nelfon ke rumah gini.
“iya, Mbak, tunggu sebentar.” Kataku akhirnya sambil berlari menuju tempat telfon.
“Chels, lo nggak jadi kesini?” tanyanya dari sebrang sana.
“ya ampun, sorry banget, Nyaaaa. Besok gue harus Stase niiih, kayaknya nggak jadi bisa gabung. Ini aja materi belum beres di baca semua. Next time deh yaaaa.” Balasku dengan suara memelas.
“ah lo mah nggak rame, kan udah janjian tiap weekend kedua kita wajib ketemuu.” Kali ini suara Kirana yang terdengar, mereka pasti pakai loudspeakerdeh.
“ya udah, bulan depan harus ikut yaaaa Chels. Sukses Stasenyaa.” Adira pun ikut berkomentar.
“iya, bulan depan gue ikut deh. Makasih yaaaa, have fun kalian. Sedih banget nggak bisa ikutan.” Kataku seraya menutup percakapan via telfon itu.
Diantara kita berempat memang hanya aku yang meneruskan kuliah ke jenjang Magister, ketiga temanku yang lain sudah kerja dan sudah juga memiliki pasangan hidup, maksudnya sudah tahu akan menikah dengan siapa, bahkan Adira rencananya beberapa bulan lagi akan melamar pacarnya. Sedangkan aku? Mikirin kuliah aja sudah hampir membuat kepalaku pecah, jadi ya mengenai pasangan bisa lah diundur dulu.
Sekembalinya ke kamar setelah sempat mampir ke dapur untuk mengambil haggen dasz macademia nut-ku. Aku mengecek Iphone-ku dan ternyata ada 5 missedcall, dari Fedi. Dengan ragu akhirnya aku memutuskan untuk menelfon balik. 5 kali Missedcall harusnya ada yang penting, kan?
“Ada apa, Di?” tanyaku langsung sesaat telfon sudah diangkat.
“eh, Chels. Nggak apa-apa sih, lagi suntuk aja. Jalan yuk?” ini adalah pertanyaan yang-paling-tidak-aku-harapkan saat ini.
“hmmm, oke jemput gue ya, Di.” Jawabku akhirnya setelah berpikir sejenak.
“oke, i’m on my way.”
Sial. Sial. Sial. Kalau Kirana, Anya bahkan Adira tahu aku jalan sama Fedi, mampuslah aku sudah.
******
“jadi gimana S2, Chels?”  Tanya Fedi dari balik kemudinya.
“ya gitu aja Di, pusing. Kepalaku udah mau pecah gitu rasanya.” Jawabku seadanya.
“tapi itu kan udah jadi kepengen kamu, sampai keluar kerja segala.”
“iya sih, tapi aku nggak pernah nyangka bakal sesusah ini. I just can’t stand the pressure, Di. Bahkan saking gila-nya tugas, aku sampe pernah nggak tidur dua hari. Gila nggak? Presiden bukan tapi hal yang diurus banyak banget.” Kataku, curhat.
Fedi tertawa.
“haha, Chelsea…Chelsea, kamu tuh kebiasaan deh, suka mempersulit sesuatu yang sebenernya kamu bisa lakuin. Bawa santai aja, Chels, jangan sampai nggak tidur gitu, kasian badannya.” Balasnya, tangannya refleks menggenggam tanganku.
Dengan cepat aku melepaskan genggaman itu. Hawa canggung mulai terasa di antara aku dan Fedi.
Fedi Adrian Dinata, atau Fedi adalah mantan pacar terlamaku, sekaligus satu-satunya (yang aku anggap) mantan pacarku. Hubungan kami memang putus-nyambung dari jaman SMA. Puncaknya sekitar dua tahun lalu, saat kami berdua menyadari bahwa the relationship didn’t workout. Saat itu kami tersadar bahwa rasa sayang yang kita punya saja tidak cukup, terlalu banyak perbedaan diantara kami, dan hal-hal sepele lainnya yang cuma jadi bumbu putus aja.
Setelah bingung mau kemana, akhirnya aku dan Fedi memutuskan untuk makan disalah satu cafe di daerah Tamblong, nama cafenya Marlo.
“jadi, ada apa nih ngajak gue jalan?” tanyaku setelah urusan pesan-memesan selesai. Maafkan kami, tapi memang semenjak putus bahasa kami memang tidak konsisten, kadang pake aku-kamu kadang gue-lo.
Ada jeda yang agak lama sampai akhirnya Fedi menjawab pertanyaanku tadi.
“ibu nanyain kamu terus tuh, Chels.” Jawabannya kali ini membuatku tersedak air liurku sendiri.
“iya, Chels. Beliau kangen banget sama kamu.” Fedi menjelaskan tanpa menunggu responku.
“gue juga kangen Ibu, tapi kan lo tau sendiri kalau sekarang gue lagi sibuk-sibuknya sama kuliah. Lagian gue nggak enak dateng ke rumah lagi, secara kita kan udah nggak ada apa-apa sekarang, Di.” Jawabku mencoba untuk tidak terbawa suasana, thats why i still said ‘gue-lo.’
“iya, aku juga udah sering bilang gitu ke Ibu, tapi beliau kekeuh pengen ketemu kamu lagi katanya. Please!”  Ampun deh nih Fedi kalau udah maksa-pake-acara-begging-segala.
“ya udah nanti kalau ada waktu gue ke rumah, ya.” Kataku pada akhirnya, sesaat setelah pelayan memberikan semua pesanan kami.
 
For your information, aku memang sudah sangat dekat dengan keluarganya Fedi, terutama sama Ibu, hubunganku dengan Fedi yang hampir 7 tahun cukup menjelaskan semuanya kan? Maksudku sangat wajar bukan kalau aku mengenal keluarganya dengan baik? Fedi sendiri adalah anak tunggal, itu juga yang membuat aku dekat sekali dengan ibunya, tidak jarang beliau minta diantar mencari sesuatu yang memang penting, contoh kado untuk Fedi ketika berulang tahun, ataupun hanya minta antar belanja bulanan.
“minggu lalu aku ketemu sama Rana,” lagi-lagi Fedi membuyarkan lamunanku.
“oh ya? Terus?” jawabku setelah selesai memakan potongan terakhir waffle dihadapanku.
“ya kita ngomongin kamu,”
“eh, aku sih yang nanyain kamu.” Ralatnya.
Ini kenapa sih Fedi ngomongnya pakai ‘aku-kamu’ segala, bikin gerah aja.
“oh” jawabku malas.
“kok oh doang sih, Chels?” tanyanya heran
Aku menghela nafas,
“gini deh, Fedi. Sebenernya tujuan lo ngajak gue jalan apa? Kenapa jadi pake ‘aku-kamu’ segala? Bawa-bawa ibu, ditambah pernyataan lo yang bilang lo nanyain gue ke Rana?” tanyaku akhirnya, benar kan salah banget jalan sama Fedi, tau gini mending baca buku Kepribadian sampe mabuk aja deh.
I miss you..”
Jawaban terakhir dari Fedi tidak bisa aku jawab.
Ku keluarkan dua lembar uang seratus ribu rupiah, menyimpannya di atas meja, dan meninggalkan Fedi sendirian disana. Panggilan dari Fedi  sama sekali tidak aku hiraukan.
Maafkan Fedi aku nggak bisa. Aku nggak bisa memperjuangkan hal yang jelas-jelas sudah nggak bisa diperjuangin. Im outta here.
Aku berjalan secepat mungkin dan langsung memanggil Taksi yang kebetulan lewat di depanku.
******
Sesampainya di rumah aku disambut oleh kakak perempuanku satu-satunya, yang mungkin sudah lama sekali nggak bertemu denganku.
“dari mana, Chels?” tanya Teh Sivia dari ruang TV, matanya masih terus aja merhatiin acara American Next top Model.
“jalan sama Fedi, Teh.” Jawabku singkat dari atas tangga.
“terus Fedinya mana? Tumben nggak masuk dulu” tanyanya lagi.
“iya, tadi aku pulang naik taksi.”
Mendengar jawabanku, Teh Sivia tidak terdengar lagi suaranya. Mungkin sadar kalau aku sedang tidak mau ditanya, atau menunggu ku turun ke ruang TV lagi.
“Jadi, kamu tuh gimana sama Fedi?” tanya Teh Sivia, ketika aku duduk disebelahnya.
“ya nggak gimana-mana, Teh. Aku sama Fedi emang udah nggak bisa bareng. Terlalu banyak perbedaan yang kita paksain sama. Jadinya terkesan saling nuntut.”
“terus kenapa masih mau diajak jalan sama dia? Bikin jarak lah, Chels. For your own good.” Pandangannya kembali ke layar TV yang saat itu Tara Reid sedang mengumumkan siapa saja yang lolos dan harus berhenti di American Next Top Model.
Mendengar jawabannya pun aku terdiam.
“De, gue pindah ke Bali nih.” Katanya tiba-tiba.
seriously????” aku kaget sekaligus senang dengarnya, seenggaknya kalau butuh ketemu buat curhat nggak harus sebrang benua untuk ketemu kaan. Oh iya, fyi, selama ini kakak semata wayangku tinggal di Sydney untuk menyelesaikan sekolah Masternya di bidang Interior Design.
yes, honey. Gue ada rencana buka studio sekaligus store disana. Awalnya mau di Bandung aja, tapi kan lo tau sendiri pasar Bandung belum terlalu bagus. Mau di Jakarta udah terlalu banyak, yaudah jadinya Bali deh yang di pilih.” Katanya menjelaskan.
“waaaa asik dong! Nanti kalau aku ke Bali nggak usah nginep di hotel kaaan? Eh btw, udah dapet tempat tinggal emang disana?”
“lagi di renov sih, gue udah nemu rumah di Seminyak. You will love my home.” Jawabnya sambil senyum-senyum menggoda ku yang memang punya impian punya rumah dipinggir pantai.
yes yes yes! So, kapan Kak officialy pindah ke Balinya?” tanyaku kelewat exicted, sampai lupa kalau kakakku ini belum wisuda.
“mungkin 3 sampai 6 bulan, Chels. Gue kan belum wisuda, dan masih ada beberapa project di Sydney yang gue kerjain. Lumayan duitnya buat nambah-nambah modal usaha nanti, nggak enak kalau minta Papa terus.”
“waaa congrats yaaa! I’m happy for youuu sist.” Kataku sembari memeluknya.
Sivia Ramadhani Fauzi adalah kakakku satu-satunya, usia kita terpaut 2 tahun. Sudah dua tahun Teh Sivia tinggal di Sydney untuk menyelesaikan gelar Masternya. Aku sangat dekat dengan Teh Sivia, maklum anak Papa Mama ya hanya kita berdua. Dulu waktu Teh Sivia masih tinggal di Bandung, hampir tiap hari kita saling cerita, jalan bareng –ntah berdua atau berempat dengan Fedi dan (mantan-mantan) pacar Teh Sivia—, atau sekedar nonton DVD di rumah. Ya maklum, kedua orang tua kita sibuk dengan kegiatannya sendiri, jadi kita selalu –berusaha— ada untuk satu sama lain.
********
“apaaaa? Lo tadi jalan sama Fedi??? Masih sehat kan lo Chels?” suara Lana sangat terdengar lantang, walaupun aku sudah menjauhkan Iphone dari telinga, tapi tetap suaranya masih tedengar sangat jelas.
“iya Ran, gue tau gue salah. Bisa biasa aja nggak ngomongnya?” protesku, sebal.
“ya abis lo mah ada-ada aja. Tadi kesambet apaan sih, Chels?”
“tau deh, kesambet PPDGJ¹ kali, nggak tau DSM².” Jawabku asal.
“sampe mutusin buat milih jalan sama Fedi daripada sama kita? You’d better have a good reason deh, Chels.”
Oh jadi nampaknya si Rana masih kesel gara-gara aku nggak dateng tadi, oke.
“gue udah minta maaf kan, Raan. Ya mungkin gue kangen sama Fedi, hasil Repressan selama beberapa bulan ini keluar juga.”
seeee?? Apa kan gue bilang, kalian tuh harus dipisahin sama lautan dulu baru bisa bener-bener pisah atau at least harus ada yang nikah duluan. Kalian tuh ya, udah tau bukan jodoh, masiiih aja berusaha biar jodoh.”
Rana mulai ngoces panjang lebar seperti biasa.
“nih ya, Chels gue bilang lagi ke lo yang semoga untuk terakhir kalinya. Jodoh tuh sama kayak umur, lo nggak akan pernah bisa maksain jodoh. Kalau kata Allah Fedi bukan jodoh lo, ya lo nggak bisa terus maksa dong. Artinya he’s not your soulmate, thats it. Nggak ada alesan apa-apa lagi.”  Jujur, itu adalah entah-ke-berapa-kali Rana ngomong gitu pada ku, sebegitu keras kepalanya kah aku?
“Ran, jangan ngomong terus coba. Kenalin gue sama temen lo kek, atau apa kek.”
“naaah kan basa-basi lagi, coba udah berapa kali gue ngenalin lo dan semuanya berhasil lo tolak? Gue bingung, lo sebenernya pengen yang kayak gimana sih Chels?”
 
Yap, sebenernya aku mau pasangan yang seperti apa sih? Sebenarnya aku mau cari apa sih?
 
 
 
 
DONE!
 
buat temen-temen yang mau kasih saran, bisa comment langsung disini, mention di Twitter @runiyuniarti, kirim wall di Facebook Seruni Yuniarti, or just email me at runiunie@gmail.com  🙂
DITUNGGU BANGET YAAA READERS. THANK YOU SOOO MUCH.
Peluk cium untuk semuaaa :**