cerita pribadi · opini

You Get What You Give

DSCF4458

Siapa di sini yang punya mimpi? Siapa diantara kalian yang sampai saat ini masih terus berjuang buat mimpinya? Siapa yang pernah pengen nyerah dan berhenti berjuang buat mimpinya? I did. Sering malah.

Menurutku, itu adalah sesuatu yang manusiawi (banget), terutama kalau kita sudah dihadapkan sama hambatan atau pernah gagal. Pikiran kalau we didn’t born to do that, pikiran pesimis bahwa kita tidak akan bisa atau tidak layak pasti pernah muncul ke mereka yang pernah gagal dalam mengejar cita-citanya.  Mungkin itu akan jadi respon alamiah pertama yang muncul pada individu yang mengalami kegagalan. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah benar bahwa kita tidak terlahir untuk melakukan itu? Let me explain from my point of view, and maybe a little psychology theories.

Dari kecil kita diajarkan sama guru di sekolah, kalau kita boleh punya mimpi setinggi langit. Mereka mengajarkan bahwa semua mimpi itu bisa dicapai, bahwa semua mimpi kita itu mungkin. Tidak ada yang salah dengan bermimpi, tidak ada yang salah dengan punya mimpi yang tinggi, dan tentunya tidak ada yang salah dengan usaha kita dalam mencapai mimpi itu (in good way, of course). Kita semua setuju kan kalau Tuhan menciptakan kita dengan segala kemampuan? Semua individu itu punya kemampuan, punya kelebihan yang bisa dia pakai untuk mencapai apa yang menjadi tujuannya, impiannya. Kalau kata teori Humanistik semua individu lahir itu secara baik, setiap individu punya kemampuan di dalam dirinya untuk mencapai menjadi individu yang lebih baik atau yang mereka sering sebut dengan aktualisasi diri.

Proses untuk mencapai mimpi, untuk aktualisasi diri itu memang tidak mudah. Lagian tidak ada yang mudah, bukan? Semuanya butuh proses, butuh usaha, pasti ada kendala, pasti perasaan pengen nyerah itu ada. Apalagi kalau kendala yang kita hadapi itu bertubi-tubi dan berasa sulit sekali untuk dilewati, ya kan? Biasanya perasaan pengen nyerah itu ketika kita sudah merasa gagal beberapa kali. Kita suka berpikir bahwa kita dilahirkan bukan untuk melakukan itu. We think that it’s better to give up. Kita berpikir kalau alam semesta ini tidak mendukung kita melakukan hal tersebut, tidak mendukung mimpi kita. Tapi apakah memang seperti itu? Apakah lebih baik menyerah? Menyerah untuk mimpi kita? I don’t think so..

Menurut banyak orang, menurut kata-kata motivasi klise, bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, bahwa kegagalan adalah kunci individu akan berhasil. Temen-temen tau kan cerita Colonel Sanders, berapa kali dia gagal menjual resep ayam gorengnya itu? Lebih dari 1000 kali (kalau tidak percaya, temen-temen boleh googling aja) sebelum akhirnya jadi KFC. Ada juga Thomas A. Edison yang berkali-kali gagal sebelum akhirnya berhasil menciptakan bola lampu. Ya, mungkin memang benar kalau kegagalan itu bisa jadi kesuksesan yang tertunda, yang selama ini aku yakini sih, dengan gagal aku jadi tau salahku dimana, kurangku dimana, dan dari situ aku bisa belajar untuk memperbaikinya. Bukannya malah nyerah dan ya sudah, cari yang lain. Tapi sekalinya gagal lagi ya cari lagi yang lain, gitu aja terus sampai Nobita lulus SD.

Mungkin untuk orang-orang terdekatku, untuk beberapa orang yang setia baca blog ku (semoga aja ada hehe) tau banget betapa cintanya aku dengan menulis. Seberapa terobsesinya aku dengan tulis menulis. Aku ingin bisa jadi penulis, aku ingin bisa memberikan ‘manfaat’ buat orang banyak melalui tulisan, aku ingin menghasilkan karya yang bisa bikin orang tua bangga dengan anaknya. Lebih jauh aku ingin menghasilkan uang dari tulisan-tulisan yang aku buat. Berlebihan kah? Aku rasa tidak, siapa yang tidak senang dan tidak mau kalau hobinya selama ini bisa memberikan pemasukan secara ekonomi? Nah, sekarang pertanyaannya, apakah untuk mencapai tujuan ini mudah? Tentu jawabannya tidak. Aku rasanya dulu pernah cerita di salah satu postingan blog kalau aku suka menulis dari SD, karena tidak ada teman cerita di rumah, jadinya aku sering nulis buku diari. Ketika SMP, mulai iseng nulis cerita fiksi, dan iseng juga nyoba ngirimin naskah itu ke salah satu penerbit besar di Indonesia, dan tentunya di tolak. Dari kejadian itu pun aku sempat berenti menulis beberapa tahun. Ya, cuma sesekali aja nulis diari kalau lagi galau, hehe. Pertemuanku selanjutnya dengan proses menulis adalah ketika kelas 3 SMA, saat itu aku dikenalkan kepada aplikasi blogspot oleh mata pelajaran Komputer di sekolah. Rasanya saat itu, saat akhirnya menemukan media baru untuk kembali menulis, seperti bertemu dengan sahabat yang telah lama hilang. Mulai dari saat itu pun, perjalanannya tidak mudah. Aku masih belum berani membuat cerita fiksi, belum berani menuliskan pendapat-pendapatku, feed blog ku saat itu masih penuh dengan curhatan-curhatan masa SMA yang yagitudeh, pasti kalian paham.

Saat ini, setelah kurang lebih 9 tahun aku serius nulis blog, sudah berhasil menyelesaikan 2 buku (L.I.F.E dan Chrysanthemum) –ya meskipun belum masuk penerbit nasional, alias masih indie— rasa lelah, perasaan ingin berhenti dan ingin mencari hobi lain itu masih sering datang. Apalagi di saat mulai mentok sama draft tulisan terbaru, melihat hasil karya orang lain lebih bagus, ide-ide juga mulai berkurang, termasuk ketika penjualan buku mulai turun. Tapi kecintaan ku sama menulis selalu membawa ku kembali ke proses tulis menulis. Bagiku, menulis itu seperti obat yang bisa menyembuhkanku dari kebosanan rutinitas sehari-hari. Kadang kalau motivasi nulis lagi benar-benar hilang, aku bakal mencoba untuk mengingat kejadian indah yang berhubungan dengan hobi menulis ini yang pernah terjadi padaku. Aku juga suka mengingat alasan mengapa aku suka menulis, perasaan lega, seneng, dan puas yang muncul setelah aku berhasil menyelesaikan satu tulisan, ntah itu artikel pendapat, review tentang sesuatu, prosa, cerpen, atau buku. Kedua hal itu yang selalu bikin aku balik lagi untuk menulis, balik lagi untuk meneruskan tulisan. Oh sama satu lagi sih yang selalu jadi motivasi, teman-teman terdekat atau pun bukan, yang selalu baca tulisanku, yang memberikan feedback positif ataupun yang membangun, dan mereka yang suka nanya “kok udah lama ngga nulis?” “kapan dong nulis review ini?” “kapan buku selanjutnya selesai?” dan lain-lain. Disadari atau tidak mereka jadi salah satu hal yang paling mendorongku untuk terus nulis.

Akhir kata, aku hanya mau bilang buat semua, keluarga, pacar, teman-teman terdekat, pembaca blog ini, penulis lainnya, sampai blogger lainnya. Makasih karena selalu mengingatkan ku untuk terus mengerjakan yang aku suka, yaitu menulis. Terima kasih karena sudah menjadi motivator ku untuk membuat karya yang lebih baik dan lebih baik lagi. Mari kita sama-sama berkarya, untuk diri sendiri, orang lain, dan mungkin negara :”)

“When you want to give up for your dream. Just remember the good moment about it and why you doing it.” – SY

Advertisements
cerita pribadi

Hijab? Kenapa enggak?

“Ketika Jilbab mengetuk hati, tak ada yang akan mampu menghalangi.”

 

                Pernyataan dan pertanyaan umum yang muncul ketika aku memutuskan untuk memakai hijab adalah “Alhamdulillah, akhirnyaaa….” atau “Apa yang mendorong pakai kerudung?” Aku sendiri sebenarnya bingung kalau ditanya seperti itu, karena aku sendiri merasa tidak mendapatkan hidayah apa-apa sebelum akhirnya memutuskan untuk merubah penampilan. Orang tua ku tidak menyuruh, bahkan cenderung ‘melarang’ aku untuk menggunakan hijab sebelum bisa memperbaiki perilaku dan ibadah wajib lainnya. Teman-teman terdekatku beberapa kali mengajak teman-teman lainnya untuk berhijab, dan aku adalah satu-satunya yang tidak pernah menggubris ajakan itu. Orang terdekatku (pacar) pun tidak pernah menanyakan kapan aku akan menggunakan kerudung. Yang pasti, aku merasa ada yang mendesak diriku, dari dalam diri untuk segera merubah penampilan. Beberapa bulan terakhir aku selalu terpikir untuk menggunakan kerudung, namun ada saja yang akhirnya membuat ku tidak jadi menggunakan hijab, mungkin ke’tidaksetujuan’ ibu ku menjadi salah satu alasannya.

                 Ya. Saat ini hati ku sudah tersentuh, aku ingin menggunakan kerudung, no matter what. Aku tau aku masih banyak, bahkan sangat banyak kekurangan dari mulai shalat kadang masih suka ketinggalan, masih suka ngomongin orang lain, dan dosa-dosa kecil lainnya yang bahkan mungkin nggak kita sadari sebelumnya. Tapi di satu sisi, aku juga punya informasi bahwa wanita yang sudah akil baligh itu wajib menggunakan hijab, aku juga tau bahwa anak perempuan yang menggunakan hijab dapat memberikan sedikit pahala untuk ayahnya. Mungkin itu yang menjadi salah satu pendorong ku sampai akhirnya memutuskan untuk menggunakan hijab.

                Kalau aku diminta untuk refleksi lagi, ada salah satu alasan yang cukup pribadi untukku yang akhirnya membuat aku tergerak untuk berhijab. Aku merasa sudah diberikan banyak kemudahan oleh Yang Maha Kuasa, diberikan rejeki oleh-Nya, tapi kenapa aku selalu mencari alasan untuk tidak menjalankan salah satu kewajibannya? Alasan ini juga yang sebenarnya membuat shalat ku saat ini jauuuh lebih baik daripada dulu (meskipun belum sempurna sih, better but not perfect, yet). Aku juga nggak mau ketika aku memohon padaNya, dan Yang Maha Kuasa memberikan banyak alasan untuk tidak mengabulkan hal tersebut (meskipun hal ini sepertinya tidak mungkin sih, hehe.)

                Pada akhirnya kepada siapapun yang bertanya kenapa aku memutuskan untuk berhijab, jawabannya cuma satu, kenapa nggak? :”)

cerita pribadi

Terima kasih 2016. Selamat datang 2017

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Chrysanthemum

Tahun 2016 ini kayaknya jadi tahun yang paling ngga kerasa, cepet banget rasanya. Perasaan baru awal tahun, eh tau-tau udah akhir taun lagi aja. Sebenarnya cukup banyak hal yang terjadi di tahun 2016. Awal tahun dimulai dengan saya masuk penjurusan Klinis Dewasa di kampus. Jurusan ini memang sesuai dengan keinginan saya dari awal sih. Setelah itu perkuliahan di lalui seperti biasa, ke kampus, ngerangkum buku, lalu ditutup dengan presentasi, nggak ada yang spesial sebenernya. Sampai tengah tahun, kami semua berkesempatan untuk Kerja Praktek di salah satu RSJ di Lawang, Malang. Di sana kami (jurusan KLD) bertugas selama 2 minggu, ya 10hari sih totalnya, kami diberi kesempatan buat berkomunikasi langsung dengan ODS (orang dengan Schizophrenia), ngobrol-ngobrol sama mereka, ngasih terapi-terapi sederhana buat mereka, dan juga kami diberi kesempatan buat belajar bagaimana kerja di rumah sakit.

 

img_5943
Foto kami di RSJ :”)

Yap. Pengalaman saya di RSJ ini memang yang paling berkesan dari keseluruhan tahun 2016. Di bulan itu juga, akhirnya saya mengakhiri ‘kesendirian’ hehehhe (ini ngga usah dibahas lebih lanjut ya, udah ada di postingan sebelumnya) hihihihi.

Tahun 2016 juga jadi salah satu tahun yang sering sekali saya keluar Bandung, dari mulai sekedar main ke Jakarta, di Malang selama dua minggu, sampai ke nikahan teman di Jogja. Saya sebenarnya lupa pada awal tahun membuat resolusi atau tidak, tapi sejauh ini saya cukup puas dengan keadaan di tahun 2016. Kurangnya saya hanya kurang ‘pintar’ mengelola uang sendiri, jadinya sering keteteran gitu hehehe. Oh, akhir tahun 2016 ini saya dibikin hectic sama semua tugas kuliah, apalagi dengan ‘tuntutan’ dari orang tua (read: ayah) dengan ditanya ‘kapan lulus?’ ‘kapan atuh ngasilin uang sendiri?’ sampai ‘nanti udah lulus mau ngapain?’ Sebenarnya semua pertanyaan itu cukup bikin saya terbebani sih. Tapi ya gimana lagi, ini udah jadi keputusan saya untuk kuliah lagi, mau nggak mau harus dijalanin kan? Intinya tetap berdoa dan berikhtiar. Semoga semuanya diberikan kelancaran dan kekuatan.

Terima kasih 2016. Terima kasih untuk semuanya, untuk semua kenangan dan pembelajaran yang kamu berikan :”””)

Selamat datang 2017…

Cukup banyak hal yang saya ingin lakukan di tahun 2017 ini. Dari mulai pengin lulus S2, kerja, kembali menyelesaikan buku (insyaAllah yang ketiga hehe), dan mungkin nikah? eh hehehe.

Oh iya, awal tahun ini saya berhasil kembali menerbitkan buku saya yang kedua via self-publishing, judulnya diambil dari nama latinnya Bunga Seruni, yaitu Chrysanthemum. Sebenarnya dulu agak sulit untuk menentukan judul untuk Novel Antalogi fiksi pertama saya, sampai akhirnya saya memiliki keinginan untuk mencari nama bunga yang bagus dan memiliki makna yang sesuai dengan tema cerita-cerita yang saya buat, dan ditemukan lah Chrysanthemum yang kebetulan merupakan nama latin dari bunga Seruni juga.

Maka dari itu, tahun ini saya ingin membuat novel lagi yang full satu cerita dan menyisipi ilmu Psikologi yang saya dapat dari kampus. Semoga mulai bulan Februari sudah mulai bisa saya kerjakan yaa. Aamiin..

Keinginan saya yang lainnya adalah punya website sendiri. Ini sedang proses sih, saya masih harus membereskan layoutnya dulu sebelum launching websitenya, Mohon ditunggu saja yaa…

Nah berhubungan dengan keinginan yang ini, akhirnya saya memutuskan untuk pindah domain ke wordpress.com, karena nguliknya lebih gampang hehehe. Maaf ya teman-teman yang sudah keburu follow blog ini, mulai akhir bulan nanti accountnya akan saya hapus dan resmi pindah ke wordpress. Nanti di sana akan digabung semua kategori yang pernah saya buat, dari mulai curhatan biasa, tulisan corat-coret saya, segala macam review (tempat, film, buku) sampai akan ada kategori baru yaitu tips tentang makanan dan minuman buat teman-teman semua. Semoga nanti lebih bermanfaat yaa, bukan cuma postingan nggak jelas hehehe.

Sekali lagi. Selamat Tahun Baru 2017 yaa!!! Tetap bermimpi dan terus berusaha untuk tetap jadi manusia terbaik bagi manusia lain, lingkungan, dan Tuhan. 🙂

cerita pribadi

16 yang Ke-lima (Still Counting)

 

Seorang kerabat pernah berkata, “jodoh mah jorok, kita bisa ketemu mereka di mana aja.” Dulu aku tidak begitu memikirkan hal tersebut, sampai pada akhirnya aku mengalaminya sendiri.

Tiga tahun lalu, seperti yang teman-teman (read : yang suka baca blog ini) tau, aku dan beberapa teman berlibur ke Malang. Nah di sana, kami bertemu dengan orang yang berada di foto atas, kenalkan namanya Hamidiyawan, dia waktu itu jadi tourgide kami selama di Bromo (yang kami extend selama di Malang) akibat sikap dia yang friendly dan charming hehehe.

Singkat cerita, aku dan mas Hamid ini masih intens komunikasi meskipun aku sudah di Bandung, kedekatan kami saat itu cukup menimbulkan beberapa drama di hidupku (yang nggak akan aku bahas di sini). Kurang lebih kami intens komunikasi selama 1 tahun, setelah itu kami sama sekali tidak pernah berkomunikasi, aku dan dia seperti dua orang yang tidak pernah bertemu sebelumnya, seperti dua orang yang tidak pernah saling mengenal. Oh iya, saat itu pun akhirnya dia memiliki kekasih.

Pada tahun 2015, setelah lebaran (aku lupa tepatnya hari ke berapa), tiba-tiba tanpa ada angin apa-apa mas Hamid menelfon ke handphone ku yang bahkan saat itu sudah tidak ada nama dia di contact ku. Hari itu aku bercerita bahwa aku akan melanjutkan sekolah dan kemungkinan akan kembali datang ke Malang untuk melakukan kerja praktek. Setelah hari itu, mas Hamid mulai sering terlihat lagi di media sosial ku, ntah hanya posting biasa atau mengomentari postinganku.

Bulan-bulan selanjutnya berlalu tanpa ada kejadian apapun, sampai akhirnya pada sekitar bulan April-Mei 2016, aku menghubunginya kembali untuk bilang kalau aku jadi berangkat ke Malang, saat itu tujuannya memang karena ya hanya untuk memberi info dan meminta bantuan untuk acara liburan ku dan teman-teman selama di Malang. Saat itu aku sama sekali tidak (mau) berharap aneh-aneh, ya jujur drama-drama di tahun 2013-2014 cukup membuatku belajar dan menjadi lebih waspada, hehe.

Sampai lah saatnya aku berada di Malang, selama dua minggu di sana, aku dan dia sempat bertemu sebanyak 3 kali. Komunikasi selama di Malang pun terjaga dengan baik. Beberapa teman yang mengetahui cerita lengkapnya pun memberikan pendapat yang berbeda, ada yang mendukung namun ada juga yang mengingatkanku untuk berhati-hati. Setelah 2 minggu berada di Malang, akhirnya sampai pada hari untuk aku kembali ke Bandung, ketakutan itu muncul lagi. Aku yang sudah kembali nyaman dengan keberadaan dia di keseharianku, di hidup ku harus bersiap kalau-kalau someday kami akan kembali menjadi dua orang asing dan tanpa ada kejelasan apapun sebelumnya.

Namun mungkin Allah berkata lain, Mas Hamid akhirnya menyampaikan niat nya untuk menikah denganku. Apa perasaan ku saat itu? Jelas kaget, dan mungkin sedikit tidak yakin. Ya aku tidak yakin dengan apa yang dia ungkapkan, aku takut dia berkata seperti itu hanya karena sedang terbawa suasana (karena kami sedang sama-sama sendiri dan habis bertemu secara cukup intens di Malang). Dalam keadaan itu aku selalu berdoa untuk diberikan kejelasan, diberikan keyakinan jika iya memang dia orang yang tepat untuk ku, memang orang yang selama ini aku tunggu.

Ternyata Allah menjawab doa ku, makin ke sini aku semakin yakin tentang dia, tentang kami. Kami memang sangat jarang bertemu, untuk bertemu satu bulan sekali saja rasanya sudah bersyukur. Komunikasi pun tidak seintens aku dengan mantan-mantanku dulu. Tapi rasa yakin itu tetap ada, rasa percaya ku pada dia juga datang begitu saja. Keyakinan ku ini pun akhirnya membuatku mudah untuk menceritakan hubungan kami secara detail pada orang tua, mengenai niat kami yang memang serius dan memang sudah terpikirkan untuk melangkah lebih jauh. Keyakinan ini juga yang membuatku lebih percaya diri untuk menjalin komunikasi dengan keluarganya, dengan adik-adiknya, bahkan dengan ibunya. Keyakinan ini membuatku melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan dengan mantan-mantanku sebelumnya.

Hubungan kami memang baru seumur jagung, kami masih harus banyak sama-sama belajar mengenai diri masing-masing. Kami masih harus sama-sama beradaptasi dengan hubungan jarak jauh ini, masih harus belajar untuk memahami perbedaan karakter kami masing-masing. Namun di balik itu semua, aku bersyukur dipertemukan dengannya, diberikan kesempatan kedua untuk bertemu dengannya. Kami memang belum tau kedepannya akan seperti apa, kami hanya bisa berdoa semoga niat baik kami diberikan jalan oleh Allah.

Terima kasih sudah meluangkan waktu sampai akhirnya kita bisa bertemu.

Terima kasih sudah meluangkan dan melakukan perjalanan 390km hanya untuk bertemu denganku.

Terima kasih sudah percaya dan menjaga kepercayaan ku selama ini.

Maaf kalau aku masih banyak kurangnya.

Maaf kalau aku masih bandel dan susah di bilangin.

Mohon untuk terus mengingatkan,

Saling mengingatkan, untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Menjadi pasangan yang lebih baik lagi. Membuat hubungan ini menjadi hubungan yang lebih baik dan lebih kuat.

Terima kasih, A Iya.

I miss you.

With Love,

Seruni.

 

cerita pribadi

Pengalaman : Mengikuti Workshop Menulis dengan Sitta Karina

 

 

 

Sabtu malam kemarin saya mendapatkan informasi dari twitter kalau bakal ada workshop creative writing bersama Sitta Karina di Ciwalk, Bandung yang . Akhirnya aku ikut mendaftarkan diri di workshop tersebut. Hari minggunya, tanggal 25 September 2016 workshop ini di laksanakan di Ciwalk Bandung. Workshopnya sendiri mulai dari jam 16.30 sampai 18.00, dan oh iya workshop ini gratis loh!

Workshop ini terbagi menjadi dua sesi, sesi pertama adalah pemberian materi dari Sitta Karina, dan sesi kedua adalah mini challenge. Mba Sitta menjelaskan materi mengenai pembuatan premis hingga outline dari suatu cerita. Setelah sesi penjelasan materi dan sesi tanya jawab selesai, akhirnya dimulai lah sesi terakhir dari workshop yaitu mini challenge. Para peserta diminta untuk menuliskan tema, target pembaca, hingga premis dari cerita yang akan atau sedang dibuat. Setelah itu, peserta juga diminta untuk upload inti dari premis tersebut di media sosial twitter, sehingga Mba Sitta dapat menilai dari tweet tersebut. Dari semua peserta yang mengikuti workshop akan di pilih 5 besar oleh Mba Sitta sebelum menentukan pemenangnya.

Karena bingung mau bikin outline cerita apa, akhirnya saya memutuskan untuk membuat outline dari salah satu cerita yang rencananya bakal ada di buku Antalogi Kumpulan Cerita yang InsyaAllah akan selesai akhir tahun ini. Jujur saat itu saya nothing to lose banget, jangankan jadi pemenang buat masuk 5 besar aja nggak kepikiran sama sekali. Dapet notebook gratis aja udah alhamdulillah, hehehe. Setelah lima belas menit, akhirnya Mba Sitta mengumumkan nama peserta yang masuk 5 besar dan akan diminta untuk membacakan keseluruhan outlinenya di panggung. Tanpa disangka-sangka, nama saya jadi nama dua yang dipanggil. Akhirnya dengan badan gemetar dan tangan dingin saya naik ke atas panggung dan membacakan apa yang saya tulis, seadanya, hehe.

Setelah kelima peserta membacakan premis dari setiap ceritanya, akhirnya tiba saatnya untuk Mba Sitta menyebutkan pemenangnya. Sepertinya dewi fortuna belum berpihak pada saya, yang menjadi pemenang adalah Sekar, yang memang ceritanya lebih unik dan imajinasinya jauh diatas saya, hehehe. Maklum, saya kan spesialis bikin cerita sehari-hari bukan cerita fantasi gitu, hehehe.
Di akhir acara aku akhirnya memberanikan diri untuk minta ttd dan foto dengan Mba Sitta, mumpung ketemu hehe. Mba Sitta juga memberi pesan buat kita semua untuk terus menulis dan tetap bersabar jika ingin menerbitkan buku di penerbit besar.
Di luar menang atau nggak nya saya pribadi sangat bersyukur bisa dateng ke acara workshop ini. Masuk 5 besar dari semua peserta yang dateng (sekitar 30) orang merupakan suatu hal yang cukup membuat saya senang dan bersyukur. Masuk 5 besar juga cukup jadi pecutan buat saya pribadi buat terus menulis dan harus siap dengan semua tantangan dan masalahnya. Seperti yang dibilang sama Mba Sitta, “keep writing” aku dengan senang hati akan menjawab, “yes, I will, Mba.”
Terimakasih atas kesempatan dan inspirasinya ya, Mba Sitta Karina :’)

 

cerita pribadi · opini

Expect Nothing, Get Everything

Seorang kerabat pernah berkata, ‘ketika kita hidup tanpa penuh ekspektasi, ketika kita mengalami hal yang menyenangkan, akan terasa bonus untuk diri kita.’
Tapi bukannya dengan adanya ekspektasi itu kita menjadi lebih hidup? Hal itu kan yang membuat kita terdorong untuk melakukan atau merencanakan sesuatu? Aku yakin banyak diantara kalian yang berpikiran seperti itu. Dulu, aku termasuk orang yang penuh dengan ekspektasi, yang terkadang membuat pribadi jadi lebih gampang ke-geer-an sama orang lain. Memang, ketika ekspektasi itu terbukti rasanya senang namun ketika tidak terbukti sedihnya pun tidak ada yang mengalahkan.
Sampai akhirnya aku memutuskan untuk daftar S2 Profesi Psikologi di salah satu Universitas Negeri di Jawa Barat. Saat itu aku tidak berekspektasi untuk keterima menjadi mahasiswa disana, karena proses seleksinya yang mematahkan ekspektasiku. Ternyata setelah kurang lebih 2 minggu aku menunggu hasil dengan tidak tenang, aku keterima menjadi mahasiswa disana. Rasa bahagia saat itu sudah tidak bisa digambarkan lagi, pada awalnya aku merasa pesimis dan sudah mempersiapkan skenario terburuk apabila aku gagal dan mau tidak mau daftar ke Universitas lain.
Hal ini terus berlanjut, teman-teman seangkatan yang sudah terlebih dahulu menjalani kehidupan mahasiswa S2 sering bercerita yang membuatku merasa mendengar kisah mimpi buruk setiap harinya. Dengan cerita-cerita itu aku pribadi menjadi tidak berani untuk menaruh harapan tinggi dan ekspektasi yang terlalu besar untuk menjalani kuliah di kampus tersebut. Namun ternyata aku mendapat kan ‘surprise’ kedua yang membuatku senang dan cukup lega. Ternyata cerita mimpi buruk teman-temanku di hari awal kuliah tidak terjadi padaku (semoga seterusnya).  Mulai dari dosennya yang memang tidak pernah aku ragukan, fasilitas yang cukup baik, dan teman-teman yang ternyata menyenangkan.

Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh temanku, terkadang hidup lebih ‘hidup’ ketika kita tidak memiliki ekspektasi apapun. Kita tidak akan mudah kecewa karena kita tidak memiliki beban untuk menjadikan ekspektasi itu menjadi kenyataan. Terkadang tanpa adanya ekspektasi-ekspektasi itu hidup kita akan menjadi lebih bahagia, kadar kebahagiaan kita akan bertambah. Mungkin, kita akan lebih menghargai segala hal ketika kita tidak memiliki ekspektasi sebelumnya. Untuk contoh sederhana, ketika kita sudah ‘tau’ akan diberi kejutan di hari ulang tahun oleh teman terdekat, ketika hal tersebut terjadi semuanya terasa wajar. Lain ceritanya ketika kita tidak menyangka bahwa mereka akan membuatkan kejutan, maka hal itu akan terasa istimewa.

Untuk yang pernah menonton film New Year’s Eve, disana ada perbincangan antara Zac Efron dan lawan mainnya (aku lupa siapa), intinya Zac Efron bertanya, “are you ready for new resolution?” lalu lawannya itu kurang lebih menjawab, “I won’t make resolution anymore. Let everyting be a surprise.” You got a point? 

Kita memang harus memiliki tujuan, dan mimpi agar kita terpacu untuk menjadikannya kenyataan. Tapi apakah mimpi itu sama dengan ekspektasi atau harapan? Ask yourself. Sering kan mendengar kalau manusia hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan semuanya? Kalau ingin sesuatu ya berusaha lah semaksimal mungkin, berdoa, dan serahkan semuanya pada Tuhan. You can’t expect everything, everyday. 




“Kekecewaan terbesar datang dari ekspektasi yang besar”

 

cerita pribadi

Camellia Shari Ramdhan Pasha

“We don’t meet everyday, not even every months. But I’ve known you for all my life. Family.”

Now, I will write about my lovely cousin. Her name is Camellia, or people usualy call her Milly. before I write this, I want to say sorry if my grammar isn’t good and I still write in Indonesia when I can’t discribe in English, haha. The reason why I use English in this post because Milly come from Australia, which is she can’t speak or read Indonesian as well as me, who born and grow up in Indonesia. And the second reason is : this moment is the best moment for me to practice write an essay someday.

I rarely meet Milly, this was the fourth times she came to Indonesia. So, this was the fourth times I met her, since I was Born. But, when she came to Indonesia I always try to make time for her. when we wet, we usualy talk about our life, including love life hahaha. She’s a humble person, she always try to speak Indonesia when she was here.

Last February, she came to Indonesia without telling me, she said she want to suprise me. So, I can’t make a plan before she came. While she was here, we went to many places, like Dusun Bambu, PVJ Mall, Taman Bunga Begonia, and Grand Universal Hotel, Trans Studio Mall, or just hangout in my house and telling stories. Sadly, she’s only stay in Indonesia for 3 weeks, huhuhu. So, we didn’t have many time to spending time together.

Ok, thats it. I hope you’ll be fine in Australia, keep strong for your Mom and Teh Yara. I wish I can go there as soon as possible, wish me luck ok! hahaha. See you when I see you, Mil. Miss youu xoxo.

 

“You don’t choose your family. They are God’s gift to you, as you are to them.” – Desmond Tutu 
 
PS : Thank you for the yummy chocolate, I really-really enjoy it. 😀
cerita pribadi · review

Ujung Genteng, yang Bener-Bener di Ujung

Bulan Desmber ini memang jadi musim liburan penghujung tahun, dan kesempatan ini digunakan oleh banyak orang (termasuk saya) untuk berlibur, ceritanya sih buat me-refresh pikiran setelah kurang-lebih satu tahun dipakai untuk bekerja. Dengan persiapan yang mendadak dan cukup pas-pasan saya dan beberapa teman memutuskan untuk pergi berlibur ke Pantai. Pilihan awal kami ada dua, yaitu Pantai Batu Karas di daerah Ciamis Jawa Barat, atau Ujung Genteng di Sukabumi Jawa Barat. Akhirnya, dengan perkiraan di Batu Karas akan banyak banget orang (karena musim liburan) kami memutuskan untuk berangkat ke Ujung Genteng, ya lumayan cari pengalaman baru juga, karena kebetulan diantara kami bertujuh belum pernah ada yang ke sana.
Seminggu sebelum keberangkatan, kami booking hotel, awalnya sih takut kehabisan. Setelah liat-liat di Internet, akhirnya kita memutuskan untuk nginep di hotel ini, http://www.turtlebeachesresort.com/. Harganya sih nggak bisa dibilang murah, range harganya mulai dari Rp1.000.000/Malam kalau weekdays, dan Rp1.300.000/Malam kalau Weekends. Sebenernya yang bedain harga cuma view kamarnya aja sih, ada yang pantai sama halaman. Tipe kamarnya pun kayak apartemen, jadi satu apartemen itu terdiri dari 2 kamar tidur, satu kamar mandi, sama satu ruang TV. Oh ya, dan free breakfast untuk 4 orang (kecuali kalau nambah ekstra bed, ya dapet lagi sarapannya).
Akhirnya, kami berangkat dari Bandung tanggal 24 Desember 2014, sekitar pukul 22.30, selesai menjemput semua personil, membeli bekal buat diperjalanan, dan ngambil uang ke ATM (karena menurut orang-orang yang sudah pernah kesana, di sana tidak ada ATM sama sekali). Kami keluar tol Padalarang sekitar pukul 23.30, perjalanan pun dilanjutkan ke Cianjur-Sukabumi-Surade-Ujung Genteng. Berhubung, diantara kami belum pernah ada yang kesana, jadi perjalanan kali itu kami serahkan sepenuhnya ke Google Maps, dan Waze. Dan kalian harus tau, jalan ke Ujung Genteng jauuuuuuhhhhhhhhh banget, selain jauh, sepanjang perjalanan kami hanya ditemani oleh pohon, tebing, jurang, kebun teh, dan beberapa rumah penduduk. Rasanya setiap melihat rumah penduduk, atau mobil, seneeenggg banget. Setelah berenti beberapa kali, untuk ke Toilet, Istirahat, dan Solat Subuh, akhirnya kami sampai juga ke Ujung Genteng. Ternyata benar, pantai disini masih sepi dan cukup bersih, ada sampah sih, tapi kebanyakan sampah laut, kayak karang, kelapa, atau ranting-ranting. Biar lebih jelas saya posting foto disini yaa,

 

maafkan fotonya gagal 😦
Di Ujung Genteng itu, banyak garis pantai yang di tengah-tengah, jadi pengunjung bisa jalan sampai ke tengah pantai. Selain itu, di sana airnya jernih banget, bagus deh. Pengunjung jadi bisa liat karang, rumput laut, ikan kecil-kecil sambil jalan menyusuri pantai. Awalnya kami sempat mau jalan sampai nemu ombak di pantai foto terakhir (yang ada saya narsis) tapi nggak jadi karena langit mulai gelap (mendung) dan kedua teman saya nemu ular laut, serem banget! Nih saya kasih fotonya biar percaya,
hiiiiii…..
Sebenernya di Ujung Genteng banyak tempat wisata laut yang bisa didatangi. Namun apa daya karena cuaca lagi nggak begitu bagus, dan waktu terbatas, akhirnya kami cuma bisa dateng ke beberapa tempat aja. Tapi tenang, kami tetap sempat liat sunset kok, (bukti fotonya dibawah yaa). Oh iya, kami sempat lihat Biawak yang super-duper gede banget, saking gedenya kami sempat nyangka kalau itu Komodo loh, bukan Biawak. Dari semua pantai yang kami datangi, saya pribadi paling suka pantai di daerah Pangumbahan, yang juga jadi tempat penangkaran penyu. Di sana pengunjung bisa ikut ngelepasin anak-anak penyu ke Laut, bahkan pada malam hari pengunjung bisa liat induk-induknya bertelur. Namun lagi-lagi karena hujan, kami nggak jadi ikut melepaskan anak-anak penyu itu. Tapi walaupun gitu rasa penasaran sama penyu terobati karena bisa foto sama mereka, hihihi. Biar sirik nih saya kasih fotonya yaaa, tapi mohon diabaikan muka kucelnya :D.
keliatan nggak sih Tukik-nya?
sama Penyu Albino

Penjaga disana baik banget, saya sempat nanya-nanya mengenai umur dari Penyu-Penyu ini. Penyu yang saya pegang itu umurnya sudah 3 tahun, ada lagi yang berumur 15 tahun, tapi saking besarnya saya nggak berani megang, kata temen saya sih berat banget. Rentang umur Penyu kata akang penjaganya sih bisa sampai ratusan tahun, wohoooooo~ dan oh iya! Penyu juga kayak manusia loh, itu buktinya ada yang kelainan kulit alias Albino hehe.

 

 

Beautiful Sunset in Ujung Genteng 

Di luar semua kekurangan fasilitas yang mereka punya, saya pribadi dan teman-teman senang bisa menyambangi wisata pantai-santai-dingin yang ada di Jawa Barat. Jarak 250KM Bandung-Ujung Genteng terbayar penuh saat kami sampai dan melihat keindahan, kebersihan, dan sepi-nya Pantai-Pantai di sana. Intinya, Ujung Genteng berhasil menutup tahun 2014 saya jadi sesuatu yang lebih Hidup dan Indah, 🙂

P.S : Terimakasih teman perjalanan semuaaaaa!

cerita pribadi

This is it?

 

“the more you see it, the more you like it,” – Robert Zajonc
 
 
Ketika kita lagi naksir sama orang, kita cenderung ngelakuin hal apapun biar mereka juga naksir balik ke kita. Dari mulai hal-hal wajar sampai kadang-kadang hal bodoh pun kita lakukan. Ya, jatuh cinta memang gampang banget ngalahin akal kok, kadang-kadang. Kita rela begadang cuma buat telfon-telfonan sama orang yang kita suka, kita rela kuota internet habis cuma buat ­kepo-in mereka, and others stupid-sweet thing.
 
“Run, kamu tidur malem terus sih sekarang, ngapain aja emang itu teh?” tanya ibu di suatu pagi.
“nggak ngapa-ngapain kok, kan tidur siang terus sih, jadi nggak bisa tidur cepet malemnya.” Ucapku berbohong.
Lain ibu, lainnya juga teman-temanku. Nggak jarang mereka ngomentarin timeline Line ku, seolah-olah aku sedang menutupi sesuatu dari mereka, padahal sih nggak.
“tumben kamu nanya-nanya blog lagi, lagi mood ngurus, Ni?” tanya seorang teman SMA yang juga hobi nulis di blog.
“iya nih, lagi nggak ada kerjaan aja.” Jawabku yang nggak sepenuhnya benar ini.
Sebenarnya semua yang aku lakukan akhir-akhir ini adalah hal yang wajar ketika seseorang sedang menyukai lawan jenis, mereka cenderung mencari perhatian dan agar disukai. Bukan manusia saja yang melakukan hal itu, binatang sekalipun akan melakukan hal yang sama. Mereka dengan sendirinya akan mengeluarkan bau-bauan untuk menarik lawan jenisnya, semua itu dilakukan ya semata-mata buat bertahan hidup dan memperbanyak keturunan.
Kita bakal muter otak mikirin apa lagi yang bakal kita lakuin agar dia terkesan, dari mulai mempercantik diri, ngebagus-bagusin diri sendiri, jadi pinter dari sebelumnya, jadi orang baik banget, sampai ikut  tertarik sama apa yang dia omongin.
Di teori Psikologi, ada hukum yang bisa bikin kedua orang saling menyukai, salah satunya yaitu Law of Similarity atau hukum kesamaan, inti dari hukum itu adalah, kedua orang bakalan cepet saling nyaman dan tertarik sama lain ketika mereka memiliki persamaan yang signifikan, contoh sama-sama seneng baca, atau sama-sama seneng musik jazz, dan lain sebagainya. Menurut aku pribadi, Law of Similarity ini bisa jadi akar baik dari suatu hubungan, tapi juga disisi lain bisa jadi boomerang buat hubungan itu sendiri, buat lebih lengkapnya sudah aku bahas di dalam postingan The Differences and Similarities.
 
Di luar itu semua, ada yang bilang jodoh itu jorok, kita bisa ketemu dimana aja sama mereka, nggak pernah ada yang tahu, bisa aja ternyata jodoh kita adalah tetangga kita sendiri, atau bahkan jodoh kita adalah seseorang di luar negeri yang nggak pernah terbayang oleh kita sebelumnya. Cuma Tuhan yang tau semua jawaban yang mungkin semua orang tanya, “siapa sih jodoh kita?” “pacarku sekarang bakal jadi jodohku nggak ya?” semuanya sudah ditulis dan di rencanakan oleh-Nya, mungkin dalam rencana-Nya termasuk juga sama dua hal tadi. Reaksi alami yang bikin kita cari cara buat orang merhatiin kita dan juga Law of Similarity, proses dimana kita melakukan pendekatan dengan –calon-pasangan–jodoh- kita itu.
Seorang teman ketemu pacar yang sekarang saat sedang patah hati dan nangis karena mantan pacarnya, padahal saat itu dia masih sangat menyayangi (mantan) pacarnya. Teman yang lain terus bertemu dengan mantannya walaupun sudah menjauh sedemikian rupa, dan berjanji nggak bakal ketemu lagi. Teman yang lain lagi menikah dengan orang yang baru dikenalnya selama 3 bulan, padahal sebelumnya dia memiliki hubungan dengan orang lain selama lebih dari 3 tahun dan sudah yakin bahwa dia lah jodohnya.
Ya, jodoh itu jorok dan dari semua kejadian itu aku belajar dua hal. Pertama, di dunia ini nggak ada yang namanya kebetulan, semua itu pasti sudah ada yang rencanain, semua itu pasti ada tujuannya, entah ketemu jodoh, atau ketemu orang yang bakal ngasih pelajaran lain agar kita lebih kuat, atau hal-hal lain yang intinya baik untuk diri kita. Kedua, jodoh kita itu adalah seseorang yang kita butuhkan, bukan hanya sekedar kita inginkan. Jadi, buat yang sekarang lagi pacaran atau naksir orang, silahkan berdoa semoga kalian diciptakan untuk saling membutuhkan, jodoh deh.
Intinya, kita nggak pernah tau apa yang bakal terjadi di waktu yang akan datang, mulut kita nggak bisa dibiarin bicara semaunya, kalau kata orang-orang jangan sompral, karena kita nggak bakal tau apa yang bakal terjadi.
“God knows everything, we know nothing.”