#diary (calon) Psikolog juga Manusia Ep.1

img_6706.jpg

Yap, sesuai janji saya yang saya sampaikan di postingan sebelumnya, sekarang saya mau mulai cerita tentang pengalaman saya berkuliah di Magister Profesi Psikologi. Sebelum mulai, saya akan membagi cerita ini ke beberapa episode, dan dia akan punya judul yang sama yaitu #Diary (calon) Psikolog Juga Manusia. Semoga saya bisa konsisten posting min. 2 minggu sekali. mungkin juga nanti dia akan jadi kategori sendiri dan InsyaAllah akan ada ilustrasi khsus hehe. Ok, daripada kelamaan, saya akan langsung cerita ya awalnya saya memutuskan untuk nerusin sekolah. Semoga bermanfaat… Here we go

Hingga saat ini, saya masih ingat perasaan saat hari pertama kuliah lagi. Perasaan hari itu super campur aduk, excited, nervous, bangga, dan senang semuanya nyampur jadi satu. Hari itu adalah hari pertama saya untuk memulai perjalanan baru sebagai mahasiswa Magister Profesi Psikologi. Ya. Setelah lulus sarjana dan sempat bekerja setahun belakangan, akhirnya saya memutuskan untuk meneruskan kuliah. Kenapa? Tujuan utama sih supaya bisa punya wewenang lebih dari cuma sekedar nge-tes dan skoring doang. Sampai saat ini juga saya sendiri masih tidak bisa menentukan apakah keputusan kuliah lagi ini merupakan proses aktualisasi diri atau bentuk defends*, karena masih nyaman dengan peran sebagai mahasiswa. Pada awalnya ayah sempat melarang saya untuk lanjut kuliah,

“Udah mending lanjut kerja aja, cari uang.” Katanya saat itu, tapi berhubung saya adalah anak paling mahiwal* (hehe), jadilah saya di sini, mendaftar untuk menjadi mahasiswa S2 Psikologi di salah satu Universitas di Bandung.

Menurut salah satu teman yang sudah duluan melanjutkan kuliah, berkuliah di tempat yang sekarang ini akan mendapatkan banyak tantangan. Dari mulai karakter dosen yang sangat berbeda dengan dosen di tempat kuliah S1 dulu, sampai hubungan dengan teman yang tidak dapat seakrab jaman S1. Teman saya juga suka bercerita berapa seringnya ia menangis ketika sampai di rumah dan mengingat banyak tekanan yang dirasakannya. Anehnya, cerita dari dia sama sekali tidak membuat saya takut, saya malah semakin tertantang dan ingin cepat-cepat merasakan sendiri seperti apa ‘kehidupan’ mahasiswa magister itu.

Setelah melewati proses seleksi di awal bulan Juni 2015 yang saya lalui dengan senyum-senyum saja karena saking pasrahnya. Akhirnya waktu pengumuman itu tiba juga, saya dan beberapa teman yang mendaftar juga ke Universitas ini saling berkomunikasi untuk bertanya apakah sudah melihat pengumumannya dan bagaimana hasilnya. Saya masih ingat betul saat itu saya sengaja mengisi daya batrai ponsel sambil memasang airplane mode dengan tujuan agar cepat terisi. Saya pun mengecek pengumuman menggunakan ponsel kakak, dan betapa leganya ketika melihat nama saya tertulis di sana dan dinyatakan diterima. Hampir saja air mata keluar dari tempatnya, tapi karena saya merupakan orang yang gengsi untuk menangis, akhirnya air mata tersebut pun tidak jadi keluar.

Akhirnya tanggal masuk pun tiba, saya dan salah seorang teman, Reren, janjian untuk berangkat bareng. Pukul 07.30 pagi saya sudah berada di rumahnya. Namun ternyata jalanan pagi itu menuju kampus saya yang berada di pinggiran kota Bandung (jika tidak mau dianggap luar kota) sangat padat, bahkan dapat dibilang macet. Kami yang sudah cukup panik berusaha untuk menghubungi teman lainnya untuk bertanya apakah acara sudah mulai atau belum. Akhirnya sekitar hampir pukul 10.00 kami baru sampai di kampus, yang artinya kami telat selama satu jam. Sesampainya di ruangan, salah seorang Dosen yang bernama Bu Minna sedang menjawab pertanyaan-pertanyaan dari mahasiswa. Oh ya, saya dan Reren adalah dua mahasiswa terakhir yang datang waktu itu, dan alhamdulillahnya karena kedatangan kami tidak mendapatkan komentar apapun dari bu Minna.

Saya yang saat itu datang terlambat dan memang tidak mendengarkan secara seksama apa yang dikatakan oleh Bu Minna, tidak merasakan tekanan seperti yang dirasakan teman saya, yang sudah duluan menjadi mahasiswa magister tahun lalu. Kesan awal yang saya dapatkan dari mendengar –sedikit- penjelasan dari Bu Minna adalah, kegiatan perkuliahannya akan sibuk namun saya pikir akan menyenangkan. Oh ya, dari pertemuan pertama ini saya juga jadi tau bahwa di angkatan saya ini lebih banyak yang berasal dari luar kota daripada Bandung. Saya harap ini jadi awal yang baik.

… To be Continue

 

PS :

Defends : salah satu istilah psikologi yang berarti sebuah cara yang dilakukan seseorang untuk mengatasi ketidaknyamanan dalam dirinya.

Mahiwal : istilah bahasa sunda yang berarti beda sendiri.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s