review

Sweet 20 (2017)

Sweet_20

“Saya akan buat anda lebih muda 50 tahun”

 

Saya pribadi bisa tergolong jarang ngikutin film atau serial Korea, bisa dibilang hampir nggak pernah malah. Pada awalnya pun saya nggak tau kalau film yang dibintangi oleh Tatjana Saphira ini merupakan remake dari film Korea yang berjudul Miss Granny. Sampai akhirnya ketika tim produksi udah mulai promosi, barulah saya tau kalau ini film remake. Sebelum akhirnya nonton pun, saya sempat baca review beberapa orang tentang film ini di web, blog, bahkan twitter. Dan banyak dari mereka yang merekomendasikan film ini. Lalu pergilah saya ke bioskop, karena penasaran.

635317-1000xauto-remake-sweet-20-e1497928105369

Seperti yang kalian tau, film ini menceritakan mengenai seorang nenek super cerewet Fatmawati (Niniek L. Karim) yang kembali muda di saat ia hampir dimasukan ke panti jompo oleh anak satu-satunya (Lukman Sardi). Nenek yang bernama Fatmawati itu akhirnya merubah nama menjadi Mieke Wijaya (Tatjana Saphira), dan mencoba menjalani hidup barunya sebagai perempuan berusia 20 tahun.

Salah satu kelebihan dari film ini menurut saya adalah akting Tatjana Saphira sebagai gadis muda yang berjiwa nenek-nenek cerewet, sumpah sih ini pecah banget! Hampir disetiap scene dia bisa membuat penonton, terutama saya tertawa. Bagaimana ia bersikap ketika sedang bersama dengan cucunya Juna, yang diperankan oleh Kevin Julio, atau bagaimana sikap dia ketika sedang merasakan jatuh cinta lagi ketika sedang bersama dengan Alan (Morgan Oey). Menurut saya, film arahan Ody C. Harahap berhasil menjadi salah satu film remake dengan kualitas yang oke.

13725779_1415720805111124_1812577660_n

Selain karena akting Tatjana Saphira yang mumpuni, kenapa saya bilang film ini oke adalah karena Upi dan tim berhasil mengadaptasi film ini sesuai dengan budaya yang ada di Indonesia. Seperti yang teman-teman tau kan kalau film ini asal muasalnya dari Korea, yang di adaptasi menjadi film Indonesia, otomatis cerita dan penulisan naskah harus diadaptasi dengan budaya kita kan, dan menurutku mereka berhasil dan sama sekali tidak terkesan maksa. Meskipun dasar film ini adalah fantasi, tapi saya pribadi masih tetap merasa real, ya walau tetep ada hal yang terasa tidak mungkin terjadi dan agak cukup bikin saya berpikir, “masa iya anaknya nggak punya foto ibunya waktu muda.”

tatjana-saphira-slamet-rahardjo-tika-panggabean_1497682895

Alur cerita pun dibuat semulus mungkin, sehingga penonton bisa menerima tanpa dipaksa harus memahami cerita. Di awal kita ikut prihatin atas nasib Nenek Fatma yang kemungkinan akan dikirim ke panti jompo oleh anaknya (Lukman Sardi). Lalu kita ikut merasakan kepanikan saat Nenek Fatma berubah menjadi gadis berusia 20 tahun, bagaimana perasaan Nek Fatma yang kaget beserta usaha untuk beradaptasi menjadi perempuan muda masa kini yang sebenarnya sudah berusia tua. Di akhir, meskipun sebentar, namun kita diajak untuk merasakan rasa haru dan sedih saat Mieke akhirnya kembali menjadi Fatma demi menyelamatkan nyawa sang cucu.

Oh iya, di film ini juga Tatjana diharuskan untuk menyanyikan beberapa lagu. Kesannya? Ya, sepertinya Tatjana berusaha cukup keras untuk mengasah kemampuan bernyanyinya.

 

 

Score : 8.5/10

PS : berkat film ini, saya penasaran untuk nonton versi aslinya (Miss Granny), hasilnya? Saya lebih suka versi Indonesia dan hanya bertahan selama 15 menit hehehehe. *peace*

Picture From Google.