cerita pribadi · opini

You Get What You Give

DSCF4458

Siapa di sini yang punya mimpi? Siapa diantara kalian yang sampai saat ini masih terus berjuang buat mimpinya? Siapa yang pernah pengen nyerah dan berhenti berjuang buat mimpinya? I did. Sering malah.

Menurutku, itu adalah sesuatu yang manusiawi (banget), terutama kalau kita sudah dihadapkan sama hambatan atau pernah gagal. Pikiran kalau we didn’t born to do that, pikiran pesimis bahwa kita tidak akan bisa atau tidak layak pasti pernah muncul ke mereka yang pernah gagal dalam mengejar cita-citanya.  Mungkin itu akan jadi respon alamiah pertama yang muncul pada individu yang mengalami kegagalan. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah benar bahwa kita tidak terlahir untuk melakukan itu? Let me explain from my point of view, and maybe a little psychology theories.

Dari kecil kita diajarkan sama guru di sekolah, kalau kita boleh punya mimpi setinggi langit. Mereka mengajarkan bahwa semua mimpi itu bisa dicapai, bahwa semua mimpi kita itu mungkin. Tidak ada yang salah dengan bermimpi, tidak ada yang salah dengan punya mimpi yang tinggi, dan tentunya tidak ada yang salah dengan usaha kita dalam mencapai mimpi itu (in good way, of course). Kita semua setuju kan kalau Tuhan menciptakan kita dengan segala kemampuan? Semua individu itu punya kemampuan, punya kelebihan yang bisa dia pakai untuk mencapai apa yang menjadi tujuannya, impiannya. Kalau kata teori Humanistik semua individu lahir itu secara baik, setiap individu punya kemampuan di dalam dirinya untuk mencapai menjadi individu yang lebih baik atau yang mereka sering sebut dengan aktualisasi diri.

Proses untuk mencapai mimpi, untuk aktualisasi diri itu memang tidak mudah. Lagian tidak ada yang mudah, bukan? Semuanya butuh proses, butuh usaha, pasti ada kendala, pasti perasaan pengen nyerah itu ada. Apalagi kalau kendala yang kita hadapi itu bertubi-tubi dan berasa sulit sekali untuk dilewati, ya kan? Biasanya perasaan pengen nyerah itu ketika kita sudah merasa gagal beberapa kali. Kita suka berpikir bahwa kita dilahirkan bukan untuk melakukan itu. We think that it’s better to give up. Kita berpikir kalau alam semesta ini tidak mendukung kita melakukan hal tersebut, tidak mendukung mimpi kita. Tapi apakah memang seperti itu? Apakah lebih baik menyerah? Menyerah untuk mimpi kita? I don’t think so..

Menurut banyak orang, menurut kata-kata motivasi klise, bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, bahwa kegagalan adalah kunci individu akan berhasil. Temen-temen tau kan cerita Colonel Sanders, berapa kali dia gagal menjual resep ayam gorengnya itu? Lebih dari 1000 kali (kalau tidak percaya, temen-temen boleh googling aja) sebelum akhirnya jadi KFC. Ada juga Thomas A. Edison yang berkali-kali gagal sebelum akhirnya berhasil menciptakan bola lampu. Ya, mungkin memang benar kalau kegagalan itu bisa jadi kesuksesan yang tertunda, yang selama ini aku yakini sih, dengan gagal aku jadi tau salahku dimana, kurangku dimana, dan dari situ aku bisa belajar untuk memperbaikinya. Bukannya malah nyerah dan ya sudah, cari yang lain. Tapi sekalinya gagal lagi ya cari lagi yang lain, gitu aja terus sampai Nobita lulus SD.

Mungkin untuk orang-orang terdekatku, untuk beberapa orang yang setia baca blog ku (semoga aja ada hehe) tau banget betapa cintanya aku dengan menulis. Seberapa terobsesinya aku dengan tulis menulis. Aku ingin bisa jadi penulis, aku ingin bisa memberikan ‘manfaat’ buat orang banyak melalui tulisan, aku ingin menghasilkan karya yang bisa bikin orang tua bangga dengan anaknya. Lebih jauh aku ingin menghasilkan uang dari tulisan-tulisan yang aku buat. Berlebihan kah? Aku rasa tidak, siapa yang tidak senang dan tidak mau kalau hobinya selama ini bisa memberikan pemasukan secara ekonomi? Nah, sekarang pertanyaannya, apakah untuk mencapai tujuan ini mudah? Tentu jawabannya tidak. Aku rasanya dulu pernah cerita di salah satu postingan blog kalau aku suka menulis dari SD, karena tidak ada teman cerita di rumah, jadinya aku sering nulis buku diari. Ketika SMP, mulai iseng nulis cerita fiksi, dan iseng juga nyoba ngirimin naskah itu ke salah satu penerbit besar di Indonesia, dan tentunya di tolak. Dari kejadian itu pun aku sempat berenti menulis beberapa tahun. Ya, cuma sesekali aja nulis diari kalau lagi galau, hehe. Pertemuanku selanjutnya dengan proses menulis adalah ketika kelas 3 SMA, saat itu aku dikenalkan kepada aplikasi blogspot oleh mata pelajaran Komputer di sekolah. Rasanya saat itu, saat akhirnya menemukan media baru untuk kembali menulis, seperti bertemu dengan sahabat yang telah lama hilang. Mulai dari saat itu pun, perjalanannya tidak mudah. Aku masih belum berani membuat cerita fiksi, belum berani menuliskan pendapat-pendapatku, feed blog ku saat itu masih penuh dengan curhatan-curhatan masa SMA yang yagitudeh, pasti kalian paham.

Saat ini, setelah kurang lebih 9 tahun aku serius nulis blog, sudah berhasil menyelesaikan 2 buku (L.I.F.E dan Chrysanthemum) –ya meskipun belum masuk penerbit nasional, alias masih indie— rasa lelah, perasaan ingin berhenti dan ingin mencari hobi lain itu masih sering datang. Apalagi di saat mulai mentok sama draft tulisan terbaru, melihat hasil karya orang lain lebih bagus, ide-ide juga mulai berkurang, termasuk ketika penjualan buku mulai turun. Tapi kecintaan ku sama menulis selalu membawa ku kembali ke proses tulis menulis. Bagiku, menulis itu seperti obat yang bisa menyembuhkanku dari kebosanan rutinitas sehari-hari. Kadang kalau motivasi nulis lagi benar-benar hilang, aku bakal mencoba untuk mengingat kejadian indah yang berhubungan dengan hobi menulis ini yang pernah terjadi padaku. Aku juga suka mengingat alasan mengapa aku suka menulis, perasaan lega, seneng, dan puas yang muncul setelah aku berhasil menyelesaikan satu tulisan, ntah itu artikel pendapat, review tentang sesuatu, prosa, cerpen, atau buku. Kedua hal itu yang selalu bikin aku balik lagi untuk menulis, balik lagi untuk meneruskan tulisan. Oh sama satu lagi sih yang selalu jadi motivasi, teman-teman terdekat atau pun bukan, yang selalu baca tulisanku, yang memberikan feedback positif ataupun yang membangun, dan mereka yang suka nanya “kok udah lama ngga nulis?” “kapan dong nulis review ini?” “kapan buku selanjutnya selesai?” dan lain-lain. Disadari atau tidak mereka jadi salah satu hal yang paling mendorongku untuk terus nulis.

Akhir kata, aku hanya mau bilang buat semua, keluarga, pacar, teman-teman terdekat, pembaca blog ini, penulis lainnya, sampai blogger lainnya. Makasih karena selalu mengingatkan ku untuk terus mengerjakan yang aku suka, yaitu menulis. Terima kasih karena sudah menjadi motivator ku untuk membuat karya yang lebih baik dan lebih baik lagi. Mari kita sama-sama berkarya, untuk diri sendiri, orang lain, dan mungkin negara :”)

“When you want to give up for your dream. Just remember the good moment about it and why you doing it.” – SY