Tips : Bikin Kopi ‘rasa cafe’ Dengan Hemat

Hai Reader, Halo Coffee lover…

Ini postingan pertama saya tentang tips-tips. yang mungkin lebih manfaat daripada postingan-postingan saya biasanya, hehehe..

Semenjak coffee shop bertebaran dimana-mana, saya yang awalnya biasa aja sama kopi sekarang jadi suka banget. kayaknya tiap hari ‘harus’ minum kopi. Untung kesadaran saya akan gula darah masih cukup baik, jadi kadang kalau lagi ‘sadar’ saya bertahan untuk tidak minum kopi. Semenjak suka banget kopi saya jadi lebih bisa bedain rasa kopi instan biasa dengan kopi-kopi yang dijual di coffee shop (yang jelas harganya lebih mahal).

Setelah melihat tips yang pernah di share Sitta Karina di Blognya, saya akhirnya menemukan cara buat bikin kopi rasa coffee shop tersebut namun masih sesuai dengan harga kopi instan biasa. Di blog nya Mba Sitta memang diberitahukan mengenai bahan-bahan yang bisa digunakan, yang menurut saya masih cukup agak mahal untuk mahasiswa, hehe. Akhirnya saya bereksperimen dengan bahan-bahan yang jelas lebih murah. dan ternyata hasilnya pun cukup memuaskan.

untuk Kopinya, saya memakai kopi instan dari nescafe classic, dibawah ini tampilannya ya, harganya kalau ngga salah sekitar 6000-7000 dapet 10 saset harga berubah tergantung tempat belinya, mungkin kalau beli di pasar akan lebih murah. Kalau ingin mendapatkan rasa lebih enak dengan harga yang terjangkau, teman-teman bisa coba pakai kopi Aroma. Saya belum sempat coba karena belum sempat beli, namun sepertinya untuk kopi Aroma, pada akhirnya perlu di saring terlebih dahulu karena biasanya dia menyisakan ampas kopi.

 

Di blog Mba Sitta, dikatakan usahakan jangan pakai creamer, tapi di ganti pake susu UHT. dan ternyata memang benar, enaaak! untuk susu UHT nya saya pakai Ultra, karena harga yang lebih murah dari greenfield (yang memang menghasilkan kopi lebih enak). Harganya pun tergantung tempat membeli, untuk ukuran yang kecil seperti ini harganya sekitar 4500-5000. dan bisa dipakai 2-3 kali sesuai dengan selera masing-masing.

untuk pemanis, karena di rumah tidak ada sirop apapun, dan untuk membeli pun harganya cukup mahal, akhirnya saya memilih untuk menggunakan gula putih yang sebelumnya dicairkan dulu menggunakan air panas, banyaknya gula pun tergantung selera masing-masing yaaa..

Cara pembuatan :

1. tuang kopi di dalam gelas.

2. didihkan susu UHT.

3. cairkan gula putih menggunakan air panas.

4. campurkan semuanya.

5. Silahkan menikmati kopi hasil sendiriii.

Kalau ada yang punya cara lain, boleh share di sini atau email ke yuniartiruni@gmail.com yaaa…

SELAMAT MENCOBAAA!!

Salam kopi.

Advertisements

16 yang Ke-lima (Still Counting)

 

Seorang kerabat pernah berkata, “jodohΒ mahΒ jorok, kita bisa ketemu mereka di mana aja.” Dulu aku tidak begitu memikirkan hal tersebut, sampai pada akhirnya aku mengalaminya sendiri.

Tiga tahun lalu, seperti yang teman-teman (read : yang suka baca blog ini) tau, aku dan beberapa teman berlibur ke Malang. Nah di sana, kami bertemu dengan orang yang berada di foto atas, kenalkan namanya Hamidiyawan, dia waktu itu jadi tourgide kami selama di Bromo (yang kami extend selama di Malang) akibat sikap dia yang friendly dan charming hehehe.

Singkat cerita, aku dan mas Hamid ini masih intens komunikasi meskipun aku sudah di Bandung, kedekatan kami saat itu cukup menimbulkan beberapa drama di hidupku (yang nggak akan aku bahas di sini). Kurang lebih kami intens komunikasi selama 1 tahun, setelah itu kami sama sekali tidak pernah berkomunikasi, aku dan dia seperti dua orang yang tidak pernah bertemu sebelumnya, seperti dua orang yang tidak pernah saling mengenal. Oh iya, saat itu pun akhirnya dia memiliki kekasih.

Pada tahun 2015, setelah lebaran (aku lupa tepatnya hari ke berapa), tiba-tiba tanpa ada angin apa-apa mas Hamid menelfon keΒ handphoneΒ ku yang bahkan saat itu sudah tidak ada nama dia di contact ku. Hari itu aku bercerita bahwa aku akan melanjutkan sekolah dan kemungkinan akan kembali datang ke Malang untuk melakukan kerja praktek. Setelah hari itu, mas Hamid mulai sering terlihat lagi di media sosial ku, ntah hanya posting biasa atau mengomentari postinganku.

Bulan-bulan selanjutnya berlalu tanpa ada kejadian apapun, sampai akhirnya pada sekitar bulan April-Mei 2016, aku menghubunginya kembali untuk bilang kalau aku jadi berangkat ke Malang, saat itu tujuannya memang karena ya hanya untuk memberi info dan meminta bantuan untuk acara liburan ku dan teman-teman selama di Malang. Saat itu aku sama sekali tidak (mau) berharap aneh-aneh, ya jujur drama-drama di tahun 2013-2014 cukup membuatku belajar dan menjadi lebih waspada, hehe.

Sampai lah saatnya aku berada di Malang, selama dua minggu di sana, aku dan dia sempat bertemu sebanyak 3 kali. Komunikasi selama di Malang pun terjaga dengan baik. Beberapa teman yang mengetahui cerita lengkapnya pun memberikan pendapat yang berbeda, ada yang mendukung namun ada juga yang mengingatkanku untuk berhati-hati. Setelah 2 minggu berada di Malang, akhirnya sampai pada hari untuk aku kembali ke Bandung, ketakutan itu muncul lagi. Aku yang sudah kembali nyaman dengan keberadaan dia di keseharianku, di hidup ku harus bersiap kalau-kalau someday kami akan kembali menjadi dua orang asing dan tanpa ada kejelasan apapun sebelumnya.

Namun mungkin Allah berkata lain, Mas Hamid akhirnya menyampaikan niat nya untuk menikah denganku. Apa perasaan ku saat itu? Jelas kaget, dan mungkin sedikit tidak yakin. Ya aku tidak yakin dengan apa yang dia ungkapkan, aku takut dia berkata seperti itu hanya karena sedang terbawa suasana (karena kami sedang sama-sama sendiri dan habis bertemu secara cukup intens di Malang). Dalam keadaan itu aku selalu berdoa untuk diberikan kejelasan, diberikan keyakinan jika iya memang dia orang yang tepat untuk ku, memang orang yang selama ini aku tunggu.

Ternyata Allah menjawab doa ku, makin ke sini aku semakin yakin tentang dia, tentang kami. Kami memang sangat jarang bertemu, untuk bertemu satu bulan sekali saja rasanya sudah bersyukur. Komunikasi pun tidak seintens aku dengan mantan-mantanku dulu. Tapi rasa yakin itu tetap ada, rasa percaya ku pada dia juga datang begitu saja. Keyakinan ku ini pun akhirnya membuatku mudah untuk menceritakan hubungan kami secara detail pada orang tua, mengenai niat kami yang memang serius dan memang sudah terpikirkan untuk melangkah lebih jauh. Keyakinan ini juga yang membuatku lebih percaya diri untuk menjalin komunikasi dengan keluarganya, dengan adik-adiknya, bahkan dengan ibunya. Keyakinan ini membuatku melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan dengan mantan-mantanku sebelumnya.

Hubungan kami memang baru seumur jagung, kami masih harus banyak sama-sama belajar mengenai diri masing-masing. Kami masih harus sama-sama beradaptasi dengan hubungan jarak jauh ini, masih harus belajar untuk memahami perbedaan karakter kami masing-masing. Namun di balik itu semua, aku bersyukur dipertemukan dengannya, diberikan kesempatan kedua untuk bertemu dengannya. Kami memang belum tau kedepannya akan seperti apa, kami hanya bisa berdoa semoga niat baik kami diberikan jalan oleh Allah.

Terima kasih sudah meluangkan waktu sampai akhirnya kita bisa bertemu.

Terima kasih sudah meluangkan dan melakukan perjalanan 390km hanya untuk bertemu denganku.

Terima kasih sudah percaya dan menjaga kepercayaan ku selama ini.

Maaf kalau aku masih banyak kurangnya.

Maaf kalau aku masih bandel dan susah di bilangin.

Mohon untuk terus mengingatkan,

Saling mengingatkan, untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Menjadi pasangan yang lebih baik lagi. Membuat hubungan ini menjadi hubungan yang lebih baik dan lebih kuat.

Terima kasih, A Iya.

I miss you.

With Love,

Seruni.