cerita pribadi

Pengalaman : Mengikuti Workshop Menulis dengan Sitta Karina

 

 

 

Sabtu malam kemarin saya mendapatkan informasi dari twitter kalau bakal ada workshop creative writing bersama Sitta Karina di Ciwalk, Bandung yang . Akhirnya aku ikut mendaftarkan diri di workshop tersebut. Hari minggunya, tanggal 25 September 2016 workshop ini di laksanakan di Ciwalk Bandung. Workshopnya sendiri mulai dari jam 16.30 sampai 18.00, dan oh iya workshop ini gratis loh!

Workshop ini terbagi menjadi dua sesi, sesi pertama adalah pemberian materi dari Sitta Karina, dan sesi kedua adalah mini challenge. Mba Sitta menjelaskan materi mengenai pembuatan premis hingga outline dari suatu cerita. Setelah sesi penjelasan materi dan sesi tanya jawab selesai, akhirnya dimulai lah sesi terakhir dari workshop yaitu mini challenge. Para peserta diminta untuk menuliskan tema, target pembaca, hingga premis dari cerita yang akan atau sedang dibuat. Setelah itu, peserta juga diminta untuk upload inti dari premis tersebut di media sosial twitter, sehingga Mba Sitta dapat menilai dari tweet tersebut. Dari semua peserta yang mengikuti workshop akan di pilih 5 besar oleh Mba Sitta sebelum menentukan pemenangnya.

Karena bingung mau bikin outline cerita apa, akhirnya saya memutuskan untuk membuat outline dari salah satu cerita yang rencananya bakal ada di buku Antalogi Kumpulan Cerita yang InsyaAllah akan selesai akhir tahun ini. Jujur saat itu saya nothing to lose banget, jangankan jadi pemenang buat masuk 5 besar aja nggak kepikiran sama sekali. Dapet notebook gratis aja udah alhamdulillah, hehehe. Setelah lima belas menit, akhirnya Mba Sitta mengumumkan nama peserta yang masuk 5 besar dan akan diminta untuk membacakan keseluruhan outlinenya di panggung. Tanpa disangka-sangka, nama saya jadi nama dua yang dipanggil. Akhirnya dengan badan gemetar dan tangan dingin saya naik ke atas panggung dan membacakan apa yang saya tulis, seadanya, hehe.

Setelah kelima peserta membacakan premis dari setiap ceritanya, akhirnya tiba saatnya untuk Mba Sitta menyebutkan pemenangnya. Sepertinya dewi fortuna belum berpihak pada saya, yang menjadi pemenang adalah Sekar, yang memang ceritanya lebih unik dan imajinasinya jauh diatas saya, hehehe. Maklum, saya kan spesialis bikin cerita sehari-hari bukan cerita fantasi gitu, hehehe.
Di akhir acara aku akhirnya memberanikan diri untuk minta ttd dan foto dengan Mba Sitta, mumpung ketemu hehe. Mba Sitta juga memberi pesan buat kita semua untuk terus menulis dan tetap bersabar jika ingin menerbitkan buku di penerbit besar.
Di luar menang atau nggak nya saya pribadi sangat bersyukur bisa dateng ke acara workshop ini. Masuk 5 besar dari semua peserta yang dateng (sekitar 30) orang merupakan suatu hal yang cukup membuat saya senang dan bersyukur. Masuk 5 besar juga cukup jadi pecutan buat saya pribadi buat terus menulis dan harus siap dengan semua tantangan dan masalahnya. Seperti yang dibilang sama Mba Sitta, “keep writing” aku dengan senang hati akan menjawab, “yes, I will, Mba.”
Terimakasih atas kesempatan dan inspirasinya ya, Mba Sitta Karina :’)

 

prosa

Selamat Ulang Tahun, Bandung!

“meskipun kau telah banyak berubah, kau tetap bunga di hati ku”
Perasaanku campur aduk melihatmu berkembang dengan pesatnya.
Aku bangga padamu,
Aku senang,
Aku ikut menikmati perkembanganmu, sama seperti semua orang. Baik yang mengenalmu maupun tidak.
Dengan perubahanmu sekarang,
Semakin banyak orang yang ingin mengenalmu.
Semakin banyak orang yang penasaran dengan mu, dengan perjalananmu, sejarahmu.
Semua orang dari seluruh pelosok dunia datang,
Datang untuk mendekatimu, berkenalan dengan mu, ikut merasakan perkembanganmu saat ini.
Di balik mereka semua, ada aku yang ikut tersenyum, menangis.
Terharu sekaligus bangga atas pencapaianmu saat ini.
Aku senang jerih payahmu membuahkan hasil.
Aku ingat saat kau berusaha jatuh bangun untuk sampai seperti ini.
Aku ingat banyak orang yang meragukan mu,
Menyangsikan kehebatan mu, namun kau tetap yakin dan terus berusaha.
Namun di hati kecilku aku khawatir,
Khawatir kau akan berubah sepenuhnya,
Tidak seperti yang ku kenal dulu.
Aku takut,
Takut ketika aku pergi meninggalkanmu untuk sesaat, aku akan kehilangan dirimu sepenuhnya.
Aku takut kalau sisi keunikan mu hilang,
Tergantikan oleh semua jenis perkembangan yang canggih itu.
Semoga dengan perubahanmu saat ini, aku harap semakin banyak orang yang menyayangimu.
Semakin banyak yang ikut merawatmu.
Menjaga semua yang menjadi milik dan keunikanmu,
Terima kasih Bandung,
Terima kasih sudah mengizinkanku untuk lahir di sini,
Terima kasih sudah mengizinkanku untuk berkembang di sini.
Aku harap kau akan menciptakan sejarah baru,
Aku harap julukan Kota Kembang akan selalu melekat padamu.
Aku harap kau tetap menjadi Tanah Pasundan yang ku kenal selama ini.

 

“Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi.” – Pidi Baiq