opini

Indonesia vs Korea Selatan

“Budaya adalah satu-satunya harta karun yang tidak akan pernah hilang akibat berjalannya waktu”
Pandji Pragiwaksono pernah bilang gini, “kenapa artis Korea, ntah musik ataupun dramanya lebih mudah ‘go international‘ daripada artis Indonesia?” Masih kata Pandji, dulu ketika dia menjalani World Tour pertamanya, Messake Bangsaku banyak yang nanya “Mas kenapa nggak pake Bahasa Inggris? Kan keliling dunia?” terus Pandji jawab, “apakah kalau orang Korea keliling dunia lirik lagunya harus di ganti ke Bahasa Inggris?” tentu jawabannya tidak. Terus kenapa Budaya Indonesia rasanya tidak semudah itu masuk ke Negara lain? Let me try to explain. 
Sebelum membahas lebih lanjut, maaf-maaf nih buat para fangirl atau fanboy Korea. Postingan kali ini sama sekali tidak bermaksud buat menjelek-jelekan mereka, bahkan saya berharap Indonesia bisa belajar dari mereka. Kalau ada kata-kata yang dianggap kurang pas atau salah, maafkan saya ya Adik-Adik, saya bukan fans mereka soalnya, jadi ngga terlalu ‘mengenal’ mereka.

Pertama saya akan coba bahas dari drama-drama Korea, seorang teman pernah berkata, “sebenernya cerita-cerita Korea yang sekarang, yang cowoknya jutek padahal suka udah ada dari dulu di Indonesia, liat aja itu Tita sama Adit di  Eiffel I’m in Love.” Saya pun langsung teringat dan berkata “iya juga yaaa,” lalu langsung berpikir, kenapa Indonesia saat ini terkesan ‘tertinggal’ dari Negara Gingseng itu?  Jawabannya mungkin dulu sudah pernah saya bahas disini, kalau Korea buat karya itu tidak penah setengah-setengah, saya akui ide-idenya pun terkadang lebih bagus dari Indonesia, terutama bila dibandingkan dengan Sinetron Indonesia. Lalu, yang terlihat jelas, jadwal ditayangkan di televisi juga jauh berbeda, di Indonesia sendiri hampir semua Sinetron itu kejar tayang which is tayang setiap hari, dan tidak tanggung-tanggung sekali tayang bisa sampai 2 jam! Itu sih ngalahin film. Jadi, sangat wajar apabila ceritanya makin kesini makin terlihat monoton dan tidak masuk akal, para tim juga pusing kali lama-lama bikin karya yang kesannya ‘dituntut’ oleh rating, stasiun TV, dan pasar itu. Mungkin karena hal itu ke-idealis-an mereka lama-lama hilang begitu saja. 
Hal lainnya yang mungkin mempengaruhi adalah promosi, atau apa ya saya tidak menemukan kata-kata lainnya yang bisa menggambarkan maksud saya. Intinya, karya Indonesia itu banyaaaaakkkk banget yang bagus, musik, film, buku, bahkan mungkin sinetron dan sitkom. Akses orang Indonesia untuk ‘mengetahui’ hal-hal tersebut yang agak sulit, lebih sulit daripada musik dan drama-drama Korea. Ada yang tau film What They Don’t Talk About When They Talk About Love karya Mouly Surya? Itu adalah salah satu film Indonesia yang bisa masuk Sundance Festival, salah satu festival film yang berkelas di Dunia. Dan kalian tau? Film ini cuma ditayangkan di beberapa Bioskop, seinget saya Blitz dan hanya dalam waktu singkat, ditambah tidak ada penanyangan di televisi. Padahal film ini juga cukup banyak menghasilkan prestasi di ajang Indonesian Movie Awards 2014. Salah satunya Ayushita yang memenangkan the best actris of the year kalau tidak salah.
Dari sisi sinetron, atau oke serial televisi, hmmm…. agak susah memang cari serial televisi sekarang yang masih bermutu. Hmmmm…. Sejauh ini agak berbeda dan sebenarnya mungkin bagus adalah Halfworlds karya Joko Anwar, yang hanya tayang di HBO dan TV kabel lainnya. Kenapa? Saya juga tidak tau, apakah memang konsep Joko Anwar yang hanya ingin ditayangkan di HBO, atau memang sudah kontrak dengan HBO, atau stasiun lokal tidak sanggup membayar atau lebih parahnya tidak mau membeli karena tidak sesuai dengan pasar?

Untuk musik, coba sebutkan musisi Indonesia siapa saja yang sudah berhasil buat konser di Luar Negeri? Banyak! Orkestra-nya Adie MS, musisi dari Elfa’s dan Yovie kayaknya sudah tidak perlu kita masukan dalam hitungan. Maliq D’essenstial dan D’massive pun bahkan sudah pernah melaksanakan konser di luar Negeri, kalau tidak salah di Australia. Lalu kenapa musisi Indonesia ‘dirasa’ masih kalah dengan Musisi yang berasal dari Negeri Gingseng itu? Pertanyaan lain yang muncul dan mungkin paling mendasar, kenapa rakyat Indonesia sendiri terlihat seperti yang ‘tidak’ menghargai hasil karya sesama anak Negeri? Mengapa kita selalu ‘terkesan’ lebih memilih karya dari luar daripada dari negeri sendiri? Ask yourself.

“kalau bukan kita yang  menjaga dan mempromosikan budaya sendiri, hasil karya anak bangsa, siapa lagi?”

Pict : From Tumblr

Advertisements