Secangkir Kopi Nostalgia



Jakarta, Juni 2016
Hujan rintik-rintik, embun yang menempel di kaca, dan musik jazz instrumen menemaniku menunggu seseorang di sebuah kafe yang sangat memiliki banyak cerita buatku. Kafe tempat dimana aku pertama kali bertemu dengan seorang laki-laki yang saat ini menjadi suamiku.
hot caramel latte?” lamunanku seketika buyar ketika waitress membawakan pesananku.
“oh iya mas, terima kasih.” Jawabku sembari menerima cangkir berwarna putih itu.
            Sepeninggalan waitress tersebut, pikiranku langsung berjalan-jalan melewati lorong waktu. Aku selalu teringat bagaimana saat pertama kali bertemu dengan Bagas, enam tahun lalu. Aku yang pada saat itu sedang mencari data untuk materi skripsi hingga ke Universitas Negeri di Depok dan akhirnya menyempatkan datang ke salah satu cafe di daerah Kemang sebelum akhirnya pulang ke Bandung. Ternyata pada hari-hari tertentu di cafe itu diadakan open mic (read : melawak hanya dengan bercerita seorang diri di depan banyak orang) bagi orang-orang yang merasa dirinya lucu. Saat itu aku datang dengan seorang teman yang ternyata adalah teman SMA Bagas, dan Bagas melakukan open mic yang tidak begitu aku perhatikan saat itu.
*****
Jakarta, Februari 2010.
“itu Bagas ngapain?” kata Alisa temanku tiba-tiba.
“hah? Siapa Bagas?” jawabku dengan tatapan masih fokus pada laptop di depanku ini.
“temen SMA gue.” Balas Alisa, matanya terus memandang panggung ala kadarnya yang ada di bagian depan cafe tersebut.
            Aku mendengar samar-samar sesuatu yang lucu, Alisa pun tidak sanggup menahan ketawanya di sebelahku. Aku sendiri masih sibuk dengan skripsi dan laptopku ini. Setelah Bagas selesai dengan lawakannya, Alisa dengan sigap memanggilnya sambil melambai-lambaikan tangan.
“Gaass,” Alisa memanggilnya dengan sedikit berteriak. Aku dapat melihat Bagas tersenyum sebentar dan langsung menghampiri kami.
“Alisa? Apa kabar? Lagi apa?” tanyanya sambil melihat kearahku dengan sekejap.
“abis dari UI, Gas. Nemenin temen nyari data buat skripsinya. Nih kenalin,” Alisa memintaku untuk berdiri,
“Dinar,” jawabku sembari mengulurkan tangan dan tersenyum.
“Bagas.” Jawabnya tak kalah ramah.
“lo udah balik tinggal di Jakarta, Gas?” Alisa kembali bertanya pada Bagas ketika kami bertiga sudah duduk di meja yang sama.
“belum, Cha. Boro-boro skripsi aja gue belum ambil. Ini kebetulan gue lagi di Jakarta aja. Gimana gue oke nggak tadi?” tanya Bagas sambil tertawa.
“hahahahaa lumayan lah Gas. By the way lo tadi ngapain sih? Ngelawak kayak Sule gitu?”
Mendengar pertanyaan Alisa aku kontan menahan tawa.
“hahahahhaha nggak kayak Sule banget sih, Cha. Yang tadi gue lakuin itu namanya stand up comedy, kalau bingung itu apa bisa liat di Youtube atau Googling aja. Jadi intinya stand up comedy tuh salah satu tipe komedi yang pelawaknya ngebawain lawakan di panggung sendirian biasanya dengan cara bermonolog atau story telling sama penonton, gitu.” Bagas mencoba menjelaskan pada kami berdua.
“di Indonesia sendiri memang belum setenar di luar sana sih, kalau di Amerika stand up comedy udah terkenal dari beberapa tahun lalu. Sedangkan di kita masih baru banget, masih sedikit orang yang berani ngelakuin stand up comedy secara terang-terangan, paling yang terkenal ya Pandji sama Raditya Dika doang.” Katanya melanjutkan. Aku dan Alisa fokus mendengarkan sambil mengangguk-anggukan kepala, tanda mengerti.
 
Perawakan Bagas itu kurus dan tinggi banget, rambutnya sedikit ikal dan pakai kacamata. Bukan tipeku sih memang pada saat itu.
“kalian kapan balik Bandung?” tanya Bagas setelah basa-basi kesana-kemari.
“malem ini sih rencananya,” jawabku singkat.
“bawa kendaraan? Berdua doang?”
“iya Gas, Dinar bawa mobil. Lagian dia udah biasa kok nyetir malem gini.” Kali ini giliran Alisa yang menanggapi.
“serius? Kenapa nggak nginep dulu di rumah lo, Cha?”
“gue ada kuliah besok, nggak bisa ditinggal, Gas.”
“ohh..” katanya dengan tatapan khawatir.
“udah gue anter aja deh sampai Bandung, gue ngga akan bawa mobil dulu. Ya?” kata Bagas tiba-tiba hampir membuat jantungku berhenti.
“eh nggak usah, kasian ngerepotin.” Ucapku tanpa pikir panjang.
“nggak apa-apa, nggak akan gue culik. Alisa kan kenal deket sama orang tua gue, santai aja.”
“iya, Nar. Udah nggak apa-apa daripada lo nggak ada yang gantiin nyetir. Gue kan kalau malem rabun ayam.” Jawab Alisa.
Sial nih anak. Aku tidak merespon pernyataan dari Alisa.
“iya, udah nggak apa-apa. Tapi nanti anter gue ke rumah dulu ya, naro mobil.” Bagas kembali bersuara.
Dengan sigap Alisa menjawab, “siap pak bos.” Sambil mengangkat tangannya, tanda menghormat.
Jadilah saat itu kami pulang bertiga ke Bandung. Mulai saat itu juga hubunganku dengan Bagas mulai dekat dan akhirnya memutuskan untuk pacaran.
*****
Bandung, Maret 2012
Malam itu suasana makan malam tidak sehangat biasanya, tidak sesantai biasanya, tidak ada obrolan kesana-kemari, tidak saling menanyakan kabar dan kegiatan hari itu. Sampai Ayah menanyakan sesuatu yang sangat tidak ingin aku jawab,
“Bagas sebenarnya serius sama kamu, Dinar?” pembahasaan yang kaku adalah ciri khas dari Ayah, dan semakin membuatku ciut untuk menjawabnya. Tuhan, tolong aku.
“ya seperti itu lah Yah.” Jawabku seadanya tanpa melihat mukanya sama sekali.
Ayah kembali bertanya, “seperti itu bagaimana?” kali ini di tambah dengan tatapan Ibu yang menyuruhku untuk menjawab dengan serius.
Aku menghela nafas sebelum akhirnya menjawab, “ya, kami kan sudah usia segini yah. Pasti serius sih dalam menjalani hubungan. Dinar sama Bagas memang ada rencana untuk lebih serius, namun belum tau kapan.”
Tanpa pikir panjang, Ayah langsung menjawab. “kamu mau menikah dengan seseorang yang kuliah strata satu saja tidak selesai? Mau makan apa kamu nanti?”
Mendengar jawaban Ayah saat itu, rasanya nasi yang sudah sampai kerongkongan ingin keluar lagi. Melihat ekspresi mukaku Ibu langsung menganggapi,
“kami cuma ingin kamu mendapatkan yang terbaik, Dinar. Jangan sampai dibutakan oleh cinta. Tuh lihat mas Adi sudah jadi dokter, masa depannya akan lebih jelas daripada kamu menikah sama komedian tidak jelas seperti itu.”
Glek. Ucapan Ibu saat itu rasanya langsung menusuk hati. Aku tidak percaya bahwa ibu akan berkata seperti itu. Saat itu adalah kali pertama aku sakit hati oleh perkataan Ibu. Sakit.
Tanpa pikir panjang aku langsung membanting sendok di atas piring dan meninggalkan meja makan. Ayah mencoba untuk memanggilku dengan sedikit berteriak, namun nampaknya Ibu mampu menenangkan beliau.
Aku menangis semalaman, Bagas tidak boleh tahu pembicaraanku di meja makan tadi, sangat tidak boleh. Aku kecewa kepada orang tuaku, mereka hanya bisa melihat seseorang dari materi yang mereka miliki, bukan apa yang sesungguhnya ada di dalam dirinya.
Bagas memang akhirnya di keluarkan karena tidak kunjung selesai menyelesaikan kuliahnya di Universitas Negeri nomor 1 di Bandung. Pemikirannya yang terlalu kritis menghambatnya untuk menyelesaikan perkuliahan di jurusannya, yaitu Bisnis dan Management. Aku sendiri sangat menyayangkan ketika mengetahui dirinya harus mengeluarkan diri kalau tidak mau dikatakan ‘dikeluarkan.’ Bagas sendiri pun sangat terpukul dan menyesal, apalagi ketika ia harus berkata jujur kepada orang tuanya mengenai kegiatan akademiknya yang tidak mulus. Akhirnya Papa Bagas pun tidak memberikan kesempatan padanya untuk kembali berkuliah namun memintanya agar fokus menjadi komika. Andaikan Ayah dan Ibu memiliki hati selapang dan pemikiran seluas itu, bahwa hidup ini bukan hanyalah masalah uang dan uang.
Sebenarnya saat itu aku memahami apa yang dipikirkan oleh kedua orang tuaku. Saat itu pekerjaan sebagai komika tidak semudah dan semulus sekarang. Tapi bukannya uang tidak akan menjamin kebahagiaan?
*****
Bandung, April 2012
“jadi aku kapan nih bisa ngelamar langsung ke orang tua kamu, Nar?” tanya Bagas suatu ketika saat kita sedang makan di daerah Dago.
Saat itu memang Bagas sudah menyatakan maksudnya untuk menikahiku secara unofficial. Bahkan Bagas sudah membelikan ku cincin sederhana yang masih harus aku lepas ketika memasuki rumah, maafkan aku Bagas.
“hmm..” kataku tidak menjawab pertanyaannya. Sebenarnya Bagas sudah menanyakan hal yang sama lebih dari sepuluh kali, dan aku selalu tidak bisa menjawabnya.
“kok nggak di jawab, Nar?” tanyanya lagi, kali ini sembari memandangku dengan lebih serius.
Aku masih tidak bisa menjawab, dan malah memalingkan muka dari tatapannya.
“Dinar Putri Amanda. Aku nanya serius ya sama kamu, kamu sayang kan sama aku? Beneran mau nikah kan sama aku? Kalau nggak, yaudah aku mundur dari sekarang.” Tangan Bagas memegang kepalaku, supaya aku melihat kearahnya. Sepertinya dia sudah mulai kesal dengan tanggapanku selama ini.
Aku hanya bisa menangis dan menjawab seadanya, “aku nggak bisa ngelawan Ayah, Gas.”
Bagas melepaskan tangannya dari mukaku, dan membantingkan tubuhnya kesandaran kursi.
“yaudah kalau gitu, aku bisa bilang apa, Nar.” Volume suara Bagas berubah seketika saat merespon pernyataanku.
Aku kembali terdiam.
Pernyataan Bagas selanjutnya semakin membuatku kaget dan tidak kuasa menahan air mata, “yuk aku anter kamu pulang aja, untuk terakhir kalinya.”
Dengan bodohnya aku, aku tidak mencoba melawan atau menjawab perkataan Bagas tadi. Aku setuju untuk diantar pulang untuk terakhir kalinya tanpa usaha mempertahankan hubungan yang sudah berjalan dua tahun itu. Diperjalanan pulang pun aku dan Bagas tidak berbincang sama sekali, Bagas fokus menyetir, sedangkan aku fokus untuk menahan agar air mata ini tidak kembali menetes.
Sesampainya di depan rumahku, aku melepaskan cincin di jari manisku dan memberikannya kepada Bagas,
“Gas, nih aku balikin yaa.. terimakasih untuk dua tahun ini. Maafin kalau aku kurang berani untuk memperjuangkan kamu di depan Ayah.”
Bagas hanya menunduk, menerima cincin tersebut, dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun sampai aku turun dari mobilnya.
Aku sayang Bagas, aku cinta Bagas. Dengan semua kekurangan dan kelebihannya. Tanpa melihat gelar dia, pendidikan dia, atau apapun itu. Aku percaya Bagas adalah orang pintar, lelaki yang akan memperjuangkan apapun untukku. Sayangnya Ayah dan Ibu terlalu menutup mata, terlalu dibutakan oleh materi. Lalu kenapa aku sangat mudah untuk melepaskannya?
Hari itu, tanggal 21 April 2012 menjadi hari terakhir aku berhubungan dan bertemu dengan Bagas selama berbulan-bulan kemudian.
Keesokan harinya, Alisa langsung mendatangiku ke kantor.
“lo kesambet apaan sih Nar? Lo cinta kan sama Bagas?” nada suara Alisa saat itu sangat tidak enak di dengar.
“sayaaaang bangeeettttt dan cintaaa banget Cha. Tapi gue harus gimana? Lo tau kali bokap gue kayak apa? Gue pasti dituduh terlalu naif kalau terus mempertahankan Bagas, padahal kayaknya udah nggak mungkin gue nikah sama dia.”
“iya lo naif, tapi bukan gara-gara mempertahankan dia. Tapi karena dengan mudahnya melepaskan dia tanpa coba usaha apapun. This is so not you.” Katanya sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Aku menelan ludah.
“yang namanya cinta tuh ya menurut gue artinya akan dan saling memperjuangkan satu sama lain. Lo nggak percaya kalau Bagas akan usaha buat ngasih makan lo dan anak-anak lo nanti? Dia sayang kan Nar sama lo?”
Kalimat terakhir Alisa saat itu akan selalu aku ingat sampai kapanpun. Ya aku yakin kalau Bagas menyayangiku, mencintaiku, dan akan selalu berusaha untukku, untuk kami.   
*****
Bandung, Juli 2012
Kring kring kring.
Aku kaget melihat layar handphone saat itu, nama Bagas muncul di layar. Dengan ragu dan doa sebelumnya, akhirnya aku mengangkat telfon tersebut.
“halo,” kataku dengan nada ragu.
“Dinar? Bisa ketemu nggak? Mumpung aku lagi di Bandung.” Bagas menjawab tanpa basa-basi sama sekali.
“hmm..boleh, mau ketemu dimana?” jawabku setelah berpikir sejenak.
“cafe Halaman aja ya, aku ada urusan dulu sih di Sabuga siangnya. Nggak apa-apa?”
“oke.”
Malamnya, selesai dari kantor aku langsung menuju ke cafe Halaman, antara cemas dan senang
karena akhirnya bisa bertemu lagi dengan Bagas setelah beberapa bulan hilang kontak. Sesampainya di sana, aku sudah bisa melihat Bagas duduk di pojok ruangan sambil asik memainkan handphone-nya
“Gas, maaf telat. Udah lama ya?” tanyaku mencoba untuk basa-basi sambil memilih duduk di hadapannya.
“nggak juga kok, pesen dulu aja Nar.” Bagas membalasnya dengan sangat ramah. Oh God, I really miss my this man.
Setelah berbasa-basi singkat, menanyakan kabar masing-masing, kegiatan sehari-hari, akhirnya Bagas memulai pembicaraan yang tampaknya lebih serius.
“hmm..Nar, kamu mungkin tau kalau aku sampai saat ini masih sayang sama kamu. Niatku yang dulu belum pernah berubah sampai saat ini. I want to marry you, and you know that, right?”
Aku hanya mengangguk dan menahan agar tidak lagi menangis.
“aku juga tau kalau orang tua kamu, terutama Ayah akan sangat menolak aku di dalam keluargamu, kan? Karena sampai saat ini aku belum punya pekerjaan yang tetap dan bahkan nggak lulus kuliah.”
Aku kembali terdiam.
“tapi aku cuma mau nanya kamu satu hal ini, satu kali aja. Do you love me?” Bagas melanjutkan, kali ini bertanya.
Dengan sigap, dan kali ini tanpa berbohong, aku langsung menjawab, “yes, Gas. I do.”
Senyum Bagas mulai terlihat di raut mukanya, “kamu mau kan ikut memperjuangkan hubungan kita? Karena aku nggak bakalan sanggup kalau cuma usaha sendiri.”
Ucapan Bagas tadi dilanjutkannya dengan berlutut (lagi) dihadapanku dengan memberikan cincin yang sama dengan 4 bulan lalu. Saat itu tak terasa air mataku menetes lagi, kali ini air mata terharu dan bahagia. Aku menerima tawaran itu untuk kedua kalinya.
Iya Bagas, aku siap dan mau memperjuangkan kamu sebesar kamu memperjuangkan aku selama ini. Karena aku yakin pada Bagas, aku yakin ia akan mampu menjadi suami dan bapak yang baik untuk anak-anaku kelak.
Perjalanan kami setelah itu memang tidak mudah, ayah dan ibuku sulit untuk diyakinkan. Mereka masih selalu beranggapan bahwa Bagas tidak akan mampu membiayai keluarganya kelak. Bagas diharuskan menyanggupi beberapa syarat sampai akhirnya diterima oleh ayah. Salah satunya adalah mempunyai rumah sendiri dan memulai bisnis.
*****
Jakarta, Juni 2016
“sayang, maaf yaa telat. Tadi shooting­-nya ngaret” Bagas datang sambil mencium keningku sebelum akhirnya duduk disampingku.
Aku tersenyum, “iyaa, sayang, nggak apa-apa. Happy anniversary yaa.” Balasku sambil memberikan sebuah kotak sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kami yang ketiga.
“apaan ini?” ucap Bagas sembari membuka kotak tersebut. Aku dapat melihat senyumnya ketika dia melihat apa yang ada di dalam kotak tersebut. “aku akan jadi ayah?!” tanya Bagas sedikit berteriak karena saking excited-nya.
Aku mengangguk sambil tersenyum. Bagas langsung memeluku dengan sangat kencang, sampai aku hampir tidak bisa bernafas.
“Gas, udah dong aku nggak bisa nafas nih.” Kataku memelas.
Bagas tertawa kecil.
“terima kasih ya, sayang.” Ucap Bagas sambil melepaskan pelukannya.
            Mungkin memang benar kalau materi atau uang menjadi objek yang paling mendasar untuk kita hidup. Dengan adanya uang hidup akan jauh terasa lebih mudah, namun bukan berarti kita boleh melupakan sumber kehidupan lain yang sama pentingnya, yaitu cinta. Memang, kita tidak akan kenyang dengan cinta, tidak bisa membeli keperluan sehari-hari dengan cinta. Namun, bersama orang yang kita cintai dan mencintai kita akan membuat kita merasa lebih nyaman dan aman. Dengan mereka kita akan lebih mudah berpikir, mengekspresikan diri, menjadi orang yang lebih baik, dan berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk pasangan kita. Hal itulah yang aku dapatkan dari Bagas, dengan cintanya yang besar dia dapat memperjuangkan dan membuktikan kepada semua orang bahwa dia bisa membiayai aku dan keluarga kecil kami jauh diatas yang orang harapkan, lebih dari cukup. Ya, cinta memang butuh perjuangan, namun dengan cinta, perjuangan yang sulit pun akan terasa mudah.
“Love is not about accepting. But it’s about understanding and fighting for someone you loved”

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh http://www.cekaja.com dan Nulisbuku.com. 
Advertisements