Expect Nothing, Get Everything

Seorang kerabat pernah berkata, ‘ketika kita hidup tanpa penuh ekspektasi, ketika kita mengalami hal yang menyenangkan, akan terasa bonus untuk diri kita.’
Tapi bukannya dengan adanya ekspektasi itu kita menjadi lebih hidup? Hal itu kan yang membuat kita terdorong untuk melakukan atau merencanakan sesuatu? Aku yakin banyak diantara kalian yang berpikiran seperti itu. Dulu, aku termasuk orang yang penuh dengan ekspektasi, yang terkadang membuat pribadi jadi lebih gampang ke-geer-an sama orang lain. Memang, ketika ekspektasi itu terbukti rasanya senang namun ketika tidak terbukti sedihnya pun tidak ada yang mengalahkan.
Sampai akhirnya aku memutuskan untuk daftar S2 Profesi Psikologi di salah satu Universitas Negeri di Jawa Barat. Saat itu aku tidak berekspektasi untuk keterima menjadi mahasiswa disana, karena proses seleksinya yang mematahkan ekspektasiku. Ternyata setelah kurang lebih 2 minggu aku menunggu hasil dengan tidak tenang, aku keterima menjadi mahasiswa disana. Rasa bahagia saat itu sudah tidak bisa digambarkan lagi, pada awalnya aku merasa pesimis dan sudah mempersiapkan skenario terburuk apabila aku gagal dan mau tidak mau daftar ke Universitas lain.
Hal ini terus berlanjut, teman-teman seangkatan yang sudah terlebih dahulu menjalani kehidupan mahasiswa S2 sering bercerita yang membuatku merasa mendengar kisah mimpi buruk setiap harinya. Dengan cerita-cerita itu aku pribadi menjadi tidak berani untuk menaruh harapan tinggi dan ekspektasi yang terlalu besar untuk menjalani kuliah di kampus tersebut. Namun ternyata aku mendapat kan ‘surprise’ kedua yang membuatku senang dan cukup lega. Ternyata cerita mimpi buruk teman-temanku di hari awal kuliah tidak terjadi padaku (semoga seterusnya).  Mulai dari dosennya yang memang tidak pernah aku ragukan, fasilitas yang cukup baik, dan teman-teman yang ternyata menyenangkan.

Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh temanku, terkadang hidup lebih ‘hidup’ ketika kita tidak memiliki ekspektasi apapun. Kita tidak akan mudah kecewa karena kita tidak memiliki beban untuk menjadikan ekspektasi itu menjadi kenyataan. Terkadang tanpa adanya ekspektasi-ekspektasi itu hidup kita akan menjadi lebih bahagia, kadar kebahagiaan kita akan bertambah. Mungkin, kita akan lebih menghargai segala hal ketika kita tidak memiliki ekspektasi sebelumnya. Untuk contoh sederhana, ketika kita sudah ‘tau’ akan diberi kejutan di hari ulang tahun oleh teman terdekat, ketika hal tersebut terjadi semuanya terasa wajar. Lain ceritanya ketika kita tidak menyangka bahwa mereka akan membuatkan kejutan, maka hal itu akan terasa istimewa.

Untuk yang pernah menonton film New Year’s Eve, disana ada perbincangan antara Zac Efron dan lawan mainnya (aku lupa siapa), intinya Zac Efron bertanya, “are you ready for new resolution?” lalu lawannya itu kurang lebih menjawab, “I won’t make resolution anymore. Let everyting be a surprise.” You got a point? 

Kita memang harus memiliki tujuan, dan mimpi agar kita terpacu untuk menjadikannya kenyataan. Tapi apakah mimpi itu sama dengan ekspektasi atau harapan? Ask yourself. Sering kan mendengar kalau manusia hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan semuanya? Kalau ingin sesuatu ya berusaha lah semaksimal mungkin, berdoa, dan serahkan semuanya pada Tuhan. You can’t expect everything, everyday. 




“Kekecewaan terbesar datang dari ekspektasi yang besar”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s