review

Bandung : Wisata Taman (PART I)

 
 
 
Di Bandung sekarang lagi banyak banget tempat hits. Bukan Mall-mall, bukan juga cafe-cafe. Saat ini, semenjak pemerintahan Pak Ridwan Kamil, atau lebih dikenal dengan panggilan Kang Emil, banyak lahan-lahan di Kota Bandung dimanfaatkan untuk ruang rakyat dalam bentuk Taman Tematik. Akhirnya, setelah berapa kali gagal untuk keliling taman, saya dan teman berhasil mendatangi beberapa Taman Tematik yang ada di Kota tercinta ini.
Rencana awalnya saya dan Risma (teman perjalanan saya) mau dateng ke Taman Alun-Alun Bandung dulu, dan naik Bandros (itu loh bis 2 lantai yang bisa dipakai buat keliling Bandung, untuk jelasnya bisa googling, hehe). Namun rencana tersebut terpaksa kami gagalkan karena cuaca yang kurang mendukung.
Perjalanan kedua kita mendatangi Taman Balai Kota yang ada di Jalan Merdeka, sekaligus tempat kerjanya Pak Walikota. Namun, lagi-lagi karena parkiran penuh, akhirnya saya dan Risma memutuskan untuk parkir di Baltos (Balubur Town Square) dan naik angkot menuju Balkot. Untuk kalian yang mau naik angkot juga, bisa naik angkot Panghegar-Dipati ukur dari depan Baltos, lalu turun di Wastukencana, lalu lanjut naik angkot Kelapa-Ledeng, turun di stopan Balkot, jalan dikit ke Balkot, sampai deh.  Nah, di Taman Balkot ini ada patung Badak bercula satu, Gembok Cinta (itu loh yang kayak di Korea dan Paris), Taman Balkot sudah bisa dibilang Taman yang cukup bersih, di Taman Balkot juga banyak pengunjung yang lagi Latihan, dari latihan modern dance, marching Band, sampai Bela diri. Spot favorit saya disini mungkin tempat duduk yang berhadapan langsung sama Patung Badak dan air mancur, kayaknya asik aja buat baca buku atau cari inspirasi, hehe.
berasa di Seoul ya? atau Paris?

Seneng sih di Bandung udah ada tempat gembok cinta ini. Tapi berhubung saya nggak lagi punya pacar (oke curhat), jadi numpang foto punya yang lain aja yaa haha.

Kalau tiba-tiba kehausan bisa langsung minum air dari keran. Cool Right?
Keluar dari Balkot saya nemu barang kayak diatas, bentuknya mirip sama lampu lalu lintas yang ada di perempatan dll. Awalnya saya dan Risma nggak paham apa gunanya itu, eh ternyata berhubung di Jalan Balkot (Wastukencana) ini nggak ada stopan dan sering banget dilewatin orang, jadi alat ini berfungsi buat membantu kita menyebrang, tinggal pencet tombolnya, selang berapa detik lampu merah nyala yang berarti kendaraan (mobil, motor, beca, dan sepeda sekalipun) harus berhenti dan mempersilahkan para pejalan kaki untuk menyebrang.
Seselesainya dari Balkot, perjalanan di lanjutkan ke Taman Lansia, di daerah Cisangkuy. Taman ini letaknya tepat di sebelah kanan Gedung Sate. Sebenarnya rencana Pak Ridwan Kamil untuk taman ini keren banget sih, tapi sayang kayaknya renovasinya belum selesai 100%, bahkan banyak ikan-ikan yang ada di kolamnya mati   😦 semoga renovasinya cepat selesai dan perawatannya bisa dilakukan maksimal, karena saya yakin kalau udah selesai 100% pasti hasilnya bagus banget
ceritanya ini adalah jalan terapi, banyak loh bapak-bapak atau ibu-ibu yang jalan-jalan di sini tanpa alas kaki.
sedih banget airnya hijau :((((
Di deket taman Lansia ini ada juga Taman Pustaka Bunga, di sini menurut saya sih lebih bagus daripada Taman Lansia, mungkin karena proses renovasinya yang udah selesai dari jaman kapan tau. Selain bunga, di taman ini juga ada banyak yang bisa kita lihat, ada bengkuang dengan ukuran raksasa, yaitu 26kg, dan juga ada kandang ayam beserta ayam-ayamnya hehe.

 

 

Sebenernya setelah dari kita ke tiga tempat itu, kita masih mengunjungi 5 taman lagi, wohoooooo! yes di Bandung memang lagi banyak banget taman tematik kayak gini. Awalnya mau saya satuin disatu postingan, tapi karena terlalu banyak foto dan takutnya berat, akhirnya malah nggak bisa dibuka, jadi saya putuskan untuk membagi menjadi 2 bagian. untuk part I cukup sekian yaaa. Tunggu postingan saya yang selanjutnyaaa. Semoga bermanfaat! 🙂
 
“Some places are like family. They annoy us to no end, especially during the holidays, but we keep coming back for more because we know, deep in our hearts, that our destinies are intertwined.”
–  Eric WeinerThe Geography of Bliss