cerita pribadi · review

Ujung Genteng, yang Bener-Bener di Ujung

Bulan Desmber ini memang jadi musim liburan penghujung tahun, dan kesempatan ini digunakan oleh banyak orang (termasuk saya) untuk berlibur, ceritanya sih buat me-refresh pikiran setelah kurang-lebih satu tahun dipakai untuk bekerja. Dengan persiapan yang mendadak dan cukup pas-pasan saya dan beberapa teman memutuskan untuk pergi berlibur ke Pantai. Pilihan awal kami ada dua, yaitu Pantai Batu Karas di daerah Ciamis Jawa Barat, atau Ujung Genteng di Sukabumi Jawa Barat. Akhirnya, dengan perkiraan di Batu Karas akan banyak banget orang (karena musim liburan) kami memutuskan untuk berangkat ke Ujung Genteng, ya lumayan cari pengalaman baru juga, karena kebetulan diantara kami bertujuh belum pernah ada yang ke sana.
Seminggu sebelum keberangkatan, kami booking hotel, awalnya sih takut kehabisan. Setelah liat-liat di Internet, akhirnya kita memutuskan untuk nginep di hotel ini, http://www.turtlebeachesresort.com/. Harganya sih nggak bisa dibilang murah, range harganya mulai dari Rp1.000.000/Malam kalau weekdays, dan Rp1.300.000/Malam kalau Weekends. Sebenernya yang bedain harga cuma view kamarnya aja sih, ada yang pantai sama halaman. Tipe kamarnya pun kayak apartemen, jadi satu apartemen itu terdiri dari 2 kamar tidur, satu kamar mandi, sama satu ruang TV. Oh ya, dan free breakfast untuk 4 orang (kecuali kalau nambah ekstra bed, ya dapet lagi sarapannya).
Akhirnya, kami berangkat dari Bandung tanggal 24 Desember 2014, sekitar pukul 22.30, selesai menjemput semua personil, membeli bekal buat diperjalanan, dan ngambil uang ke ATM (karena menurut orang-orang yang sudah pernah kesana, di sana tidak ada ATM sama sekali). Kami keluar tol Padalarang sekitar pukul 23.30, perjalanan pun dilanjutkan ke Cianjur-Sukabumi-Surade-Ujung Genteng. Berhubung, diantara kami belum pernah ada yang kesana, jadi perjalanan kali itu kami serahkan sepenuhnya ke Google Maps, dan Waze. Dan kalian harus tau, jalan ke Ujung Genteng jauuuuuuhhhhhhhhh banget, selain jauh, sepanjang perjalanan kami hanya ditemani oleh pohon, tebing, jurang, kebun teh, dan beberapa rumah penduduk. Rasanya setiap melihat rumah penduduk, atau mobil, seneeenggg banget. Setelah berenti beberapa kali, untuk ke Toilet, Istirahat, dan Solat Subuh, akhirnya kami sampai juga ke Ujung Genteng. Ternyata benar, pantai disini masih sepi dan cukup bersih, ada sampah sih, tapi kebanyakan sampah laut, kayak karang, kelapa, atau ranting-ranting. Biar lebih jelas saya posting foto disini yaa,

 

maafkan fotonya gagal 😦
Di Ujung Genteng itu, banyak garis pantai yang di tengah-tengah, jadi pengunjung bisa jalan sampai ke tengah pantai. Selain itu, di sana airnya jernih banget, bagus deh. Pengunjung jadi bisa liat karang, rumput laut, ikan kecil-kecil sambil jalan menyusuri pantai. Awalnya kami sempat mau jalan sampai nemu ombak di pantai foto terakhir (yang ada saya narsis) tapi nggak jadi karena langit mulai gelap (mendung) dan kedua teman saya nemu ular laut, serem banget! Nih saya kasih fotonya biar percaya,
hiiiiii…..
Sebenernya di Ujung Genteng banyak tempat wisata laut yang bisa didatangi. Namun apa daya karena cuaca lagi nggak begitu bagus, dan waktu terbatas, akhirnya kami cuma bisa dateng ke beberapa tempat aja. Tapi tenang, kami tetap sempat liat sunset kok, (bukti fotonya dibawah yaa). Oh iya, kami sempat lihat Biawak yang super-duper gede banget, saking gedenya kami sempat nyangka kalau itu Komodo loh, bukan Biawak. Dari semua pantai yang kami datangi, saya pribadi paling suka pantai di daerah Pangumbahan, yang juga jadi tempat penangkaran penyu. Di sana pengunjung bisa ikut ngelepasin anak-anak penyu ke Laut, bahkan pada malam hari pengunjung bisa liat induk-induknya bertelur. Namun lagi-lagi karena hujan, kami nggak jadi ikut melepaskan anak-anak penyu itu. Tapi walaupun gitu rasa penasaran sama penyu terobati karena bisa foto sama mereka, hihihi. Biar sirik nih saya kasih fotonya yaaa, tapi mohon diabaikan muka kucelnya :D.
keliatan nggak sih Tukik-nya?
sama Penyu Albino

Penjaga disana baik banget, saya sempat nanya-nanya mengenai umur dari Penyu-Penyu ini. Penyu yang saya pegang itu umurnya sudah 3 tahun, ada lagi yang berumur 15 tahun, tapi saking besarnya saya nggak berani megang, kata temen saya sih berat banget. Rentang umur Penyu kata akang penjaganya sih bisa sampai ratusan tahun, wohoooooo~ dan oh iya! Penyu juga kayak manusia loh, itu buktinya ada yang kelainan kulit alias Albino hehe.

 

 

Beautiful Sunset in Ujung Genteng 

Di luar semua kekurangan fasilitas yang mereka punya, saya pribadi dan teman-teman senang bisa menyambangi wisata pantai-santai-dingin yang ada di Jawa Barat. Jarak 250KM Bandung-Ujung Genteng terbayar penuh saat kami sampai dan melihat keindahan, kebersihan, dan sepi-nya Pantai-Pantai di sana. Intinya, Ujung Genteng berhasil menutup tahun 2014 saya jadi sesuatu yang lebih Hidup dan Indah, 🙂

P.S : Terimakasih teman perjalanan semuaaaaa!

opini

Uang ≠ Kebahagian

picture from Tumblr.com
I’d learned how much happiness money can bring you. Very little.” 
–  Rick Pitino
Di luar sana masih banyak, –terlalu banyak– orang yang menganggap uang itu segalanya, uang itu disamakan dengan kebahagian. Memang agak sulit untuk merubah paradigma ini, apalagi di Negara kita, Indonesia. Di sini uang masih jadi tolak ukur seseorang itu sukses atau tidak, seberapa banyak pendapatan seseorang masih menentukan ‘derajat’ orang tersebut. paham kan maksudnya? Banyak perusahaan-perusahaan terus menerus meningkatkan upah untuk para pekerjanya dengan harapan kepuasan kerja mereka pun akan meningkat, yang otomatis akan meningkatkan juga produktifitas kerja (kalau tidak yakin boleh googling saja, sudah banyak jurnal atau penelitian membahas hal ini). Bahkan Pemerintah sempat berencana untuk menaikan gaji PNS dan Pegawai Pemerintah lainnya untuk menghilangkan korupsi. Mungkin mereka belum pernah dengar pepatah ini, “sekecil apapun pendapatan pasti cukup untuk biaya hidup. Sebesar apapun pendapatan tidak akan pernah cukup untuk membeli gaya hidup.” Ada hal yang saya alami sendiri, semakin besar pendapatan saya, semakin besar juga pengeluaran yang diperlukan (diinginkan), ya itu lah bedanya biaya hidup dengan gaya hidup.
Sebenarnya, masih ada hal yang lebih penting daripada uang. Uang itu cuma sebagian kecil dari banyaknya indikator yang membuat kita bahagia. Bahkan salah satu tokoh Psikologi Humanistik, Abaraham Maslow menjelaskan mengenai hirarki kebutuhan manusia;
1. Kebutuhan Fisiologis : makan, minum, tempat tinggal, dll.
2. Kebutuhan Keamanan
3. Kebutuhan Cinta, Sayang, dan Kepemilikan
4. Kebutuhan Esteem : penghargaan diri.
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri,
dan Bapak Psikologi yang satu ini juga mengatakan bahwa seseorang tidak akan naik ke kebutuhan di atasnya apabila kebutuhan di bawahnya belum terpenuhi, contoh : seseorang yang belum punya rumah, dia tidak akan pernah merasa aman apalagi muncul kebutuhan ingin meng-aktualisasi diri.
Sekarang, kalau dilihat dari 5 kebutuhan itu, hanya satu kebutuhan yang jelas-jelas membutuhkan uang, yaitu kebutuhan fisiologis. Sedangkan yang lainnya, lebih kepada kebutuhan psikologis seseorang yang tidak selalu membutuhkan uang, kan?  That’s why ‘do what you love’ is important.
Saya punya cerita, ada seorang lulusan Universitas Negeri nomor 1 di Bandung (tidak usah disebutkan namanya, ya?) bekerja di perusahaan Tambang di Kalimantan selama lima tahun, pendapatan perbulannya sudah mencapai puluhan juta rupiah, akhirnya dia memutuskan untuk resign, dan saat ini dia bekerja menjadi guru les di salah satu Bimbingan Belajar yang ada di Bandung. Alasan utama mengapa dia resign, cuma satu: dia tidak enjoy melakukan pekerjaannya. Simple, kan?
Itulah yang menjadi alasan utama saya menulis postingan ini, ya selain ada pengalaman pribadi yang sedang saya alami saat ini hehe. Intinya, kita harus mulai belajar bahwa terkadang tidak semuanya mengenai uang. Ya memang uang adalah fondasi untuk kehidupan kita, saya juga tidak naif bahwa saat ini kita membutuhkan uang untuk hampir semua hal, termasuk ke WC umum. Tapi di sisi lain, saya juga mau mengingatkan bahwa ada baiknya kita tidak terlena hanya dengan uang, dan akhirnya membuat kita menjadi seperti robot, melakukan hal yang sebenarnya kita tidak suka hanya demi uang, it will kill you, eventually. Tidak ada salahnya untuk mencoba sesuatu yang memang kita sukai dan akhirnya bisa memberikan ‘uang’ juga untuk kita, walaupun sesuatu itu harus kita mulai dari nol. Karena saya percaya, akan lebih baik kita berjuang untuk hal yang kita sukai, daripada terus menjalani sesuatu yang tidak kita sukai. You got my point? 
 
 
 
 
 
PS : Blog masih dalam keadaan tidak Fit 100%, karena saya tidak bisa membalas comment secara langsung. Buat yang kasih comment dan ingin dapat balasan bisa cantumkan alamat email, or just contact me via email. thank you readers. 🙂 
opini

Existance is Not Existence

 

sesuai dengan teori Hirarki dari Mashlow, bahwa semua orang, kemungkinan akan sampai pada titik munculnya kebutuhan esteem. ya, hampir semua orang ingin dianggap, kita sebagai manusia ingin kan di ‘lihat’ oleh orang lain, atau setidaknya dianggap ada oleh orang lain.
namun kita terkadang terlalu terlena dengan kata kunci ‘eksistensi,’ sehingga kita lupa makna eksistensi yang baik itu seperti apa. kita lihat contoh jelasnya aja ya, Mr. (yang katanya) Pengacara yang selalu bikin sensasi dengan nyebarin komentar aneh-aneh tentang orang lain, sampai ribut sama orang lain. buatku, rasanya eksistensi itu tidak ada artinya kalau kita tidak bisa memanfaat ‘keberadaan’ kita menjadi sesuatu yang baik, paham kan maksud ku?
ketika kita hanya ingin dianggap ada, namun tidak bisa mengisi keberadaan itu dengan ‘sesuatu’ hal, rasanya sama artinya dengan air conditioner tanpa freon, useless, tidak berarti apa-apa. semua perjuangan kita untuk dianggap jadi hilang gitu aja, tidak bersisa apapun. sangat disayangkan, apalagi kalau kita sudah dikenal karena sesuatu yang baik, namun tidak dapat mempertahankan hal tersebut. beda kan rasanya dianggap karena hal baik, dan dianggap karena sesuatu yang buruk?
pepatah menyebutkan, ‘lebih sulit mempertahankan daripada meraih.’ I cant agree more. karena memang benar, ketika kita sudah dapat apa yang kita inginkan, sudah dianggap dengan orang lain, kita jadi terlena dan terkadang jadi lupa diri, sehingga kita lebih fokus kepada tingkat ‘eksistensi’ daripada kualitas ‘eksistensi’ itu sendiri. karena pada dasarnya ‘eksistensi’ atau akhirnya jadi ‘popularitas’ bukan sekedar dianggap ada, disegani apa yang kamu punya secara materi, namun lebih luas daripada itu. seperti apa yang dikatakan Ariana Grande di lagunya Popular Song,
 
“popular, I know about popular
it’s not about who you are or your fancy car
you’re only ever who you are.
popular, I know about popular
and all that you have to do, is be true to you
that’s all you ever need to know”
pada akhirnya, mungkin lebih baik fokus ke hal-hal yang akan kita lakukan terus untuk mendapatkan atau mempertahankan our good existance daripada fokus hanya pada kata ‘eksistensi’-nya aja. you got what i mean?