review

glam gilrs’s book series review.

saya mau nyoba review tentang novel series yang menurut saya keren banget! emang sih ceritanya lebih ke cerita ABG, anak SMA dengan segala masalahnya. cuman emang pas pertama baca buku ini kesannya nih buku lebay banget. anak SMA udah pake barang-barang ibunya, yang jujur baru saya tau setelah baca buku itu. nggak tau sayanya yang ketinggalan jaman atau emang saya nggak biasa hidup kayak anak-anak di buku itu. anak-anak SMA udah pake merk Hermes lah, Miu Miu lah, apa lagi deh gitu yang namanya juga susah banget buat di sebutin.

walaupun gitu, buku ini udah ngebukain mata saya tentang kehidupan lain yang nggak pernah saya bayangkan sebelumnya, intrik masalah sama keluarga, temen, pacar atau musuh kita sekalipun, nyelesein masalah dengan cara yang nggak pernah dipikirkan sebelumnya, dan yang penting buku ini menyadarkan saya bahwa penting banget bangga menjadi diri sendiri, bikin orang segan tanpa harus bertingkah ‘bitchi’ just be yourself!


dimulai dari buku pertama, yaitu Glam Girls

buku pertama ini menceritakan kehidupan Adrianna, the smartest one, alasan kenapa Ad nggak mau masuk VIS, kebenciannya sama murid-murid VIS yang lebih banyak nunjukin kekayaan orang tuanya, dan ketidaksengajaannya masuk ke clique nomer satu yang disegani, sekaligus dibenci hampir sama semua murid VIS. clique itu dianggotakan oleh Rashi (yang paling dominan, mengintimidasi orang-orang, kaya banget dan tentunya di takuti sekaligus dibenci) dan Maybella (paling cantik, model, dan paling lemot) kalau saya pribadi dari 6 buku yang dikeluarkan, paling suka sama buku ini. paling suka sama kepribadian Ad yang pinter, baik sama semua orang, dan dia pernah beberapa kali ngebentak Rashi yang di respon dingin sama Rashi. mau tau cerita selengkapnya? you must read it! 😀

buku kedua menceritakan tentang kehidupan Rashi. di buku ini kita bisa ngeliat Rashi dari sisi yang berbeda, namun tetap Rashi yang biasa, keras, and she will get whatever she want. wow! Bossy berat emang. namun dibuku ini kita bisa ngeliat sedikit bagusnya tentang Rashi, dia emang terlahir untuk jadi seperti itu, bukan hanya topeng agar orang-orang takut sama dia.

(Rashi’s life)

yang ketiga ngeceritain kehidupannya Maybella, segala yang berhubungan dengan model, runaway, pemotretan dan dibuku ini May yang sebelumnya sering gonta-ganti pacar, di buku ini kayaknya May udah nemukan cinta sejatinya tuh. hahahha. oh iya, di buku terakhir juga diceritain kalau May ternyata sempet sebel dan mau ngejatohin Rashi. WOW!

(may’s life)
yang keempat, kelima, dan keenam, itu menceritakan tentang anak-anak VIS lainnya. dan hebatnya di semua buku gengnya Rashi ini tetap menjadi nomer satu, dan di takuti  dan juga dibenci sama hampir seluruh siswa VIS. sayang buku ini tidak akan di teruskan lagi. satu kata deh buat serial buku ini. HAWT! hahahaha.
buku ke-4 cerita tentang murid VIS yang biasa aja namun bisa jadi model majalah remaja terkenal
buku ke-5 ceritanya tentang anak baru VIS, yang musuhan sama orang yang ternyata orang itu adalah org yg selama ini ia cari.
buku terkhir, ceritanya hampir sama sih kayak yang pertama. kepribadian tokoh utamanya hampir sama kayak Ad.
penasaran? harus banget baca! di buku ini kita bener-bener belajar, popularitas yang keren dan baik tuh seperti apa, dan ngajarin supaya kita tetep bangga sama diri kita sendiri, no matter what! 🙂

 

Advertisements
cerita pribadi · review

Ho(Lesson)iday

 

Akhirnya semester 6 selesai juga, ujian akhirnya selesai. Rencana liburan ke Bali harus rela gagal gara-gara jadwal ujian yang nggak bisa di ajak kompromi. Hilang lah uang dua ratus tujuh puluh satu ribu rupiah, uang buat beli tiket pesawat yang tidak pernah saya naiki itu. Sedih memang, bukan gara-gara hilang uang dua ratus tujuh puluh satu ribu itu, tapi sedih karena semua bayangan-bayangan apa aja yang bakal dilakuin di Bali harus hilang gitu aja, tanpa ngerasain realitinya kayak apa. Semuanya bisa dibilang sudah dipersiapkan dengan matang, hotel udah di booking, rundown acara pun sudah selesai dibuat, orang rumah sampai komentar gini “wah, kalian well prepared  banget mau ke Bali.” Dan ternyata ke sempurnaan persiapan itu nggak ngaruh apa-apa. Kita akhirnya tetap gagal buat pergi ke Bali.
Pada tanggal keberangkatan, tepatnya tanggal 14 Juni 2012 saya sempat men-tweet seperti ini, ‘ngerelain Bali aja susah, apalagi orang yang kita sayang.’ Memang agak susah buat ngikhlasin gagal ke Bali, tapi kita bisa apa? Minta pengertian ke fakultas? Kemungkinan dapetnya kecil banget, ngerelain nggak ikut ujian? Siap-siap nggak akan dianggap anak lagi sama orang tua. Jadi ya, satu-satu caranya tetap bersabar buat nggak jadi pergi, dan menganggap nothing happen.Berniat untuk mengobati kekecewaan kita karena nggak jadi ke Bali, akhirnya saya dan beberapa teman saya memutuskan untuk tetap liburan, yaitu ke….SnowBay TMII Jakarta. Jomplang?  Banget! Tapi daripada nggak kemana-mana banget?
Akhirnya, tanggal 19 Juni 2012, saya dan dua teman saya berangkat juga ke Jakarta. Berhubung kita pakai mobil rental, -karena awalnya yang mau ikut lima orang- jadinya nggak bisa ngerasain gimana rasanya jadi AGJ (anak gaul Jakarta-red). Tempat pertama yang kita kunjungin di Jakarta yaitu Pasar Ular. Jujur, ini kali pertama kita bertiga kesana, dan kesan pertama yang muncul, kok toko-tokonya dikit ya? Satu hal yang muncul dipikiran saya, KITA SALAH TEMPAT! Karena nggak mau disalahkan dan nggak mungkin juga nyalahin supir, akhirnya kita beranggapan bahwa memang itu lah Pasar Ular dan kita memutuskan untuk langsung pergi lagi ke daerah Mangga Dua. Di perjalanan menuju Mangga Dua, kita ngelewatin tempat perahu-perahu, sampai ngelewatin laut. Pas lagi macet-macetnya, ada aja pemandangan yang sukses bikin kita bertiga ketawa.
kebaca nggak tulisannya?
Ya, tulisan truk itu ‘tak punya perasaan’ sejak kapan ya benda mati punya perasaan? Kontan saja, saya dan kedua teman saya ketawa-ketawa dari dalam mobil, saya berharap truk itu tidak mendengar ya, takut tiba-tiba truk marah-marah ke kita gara-gara kita ngetawain itu truk.
Saat hampir sampai pak supir sempat bertanya, “mau di sini atau tempat yang satunya lagi?” saya dengan sigap menjawab, “yang ini aja, Pak.” Masuk lah kita ke salah satu Mall yang namanya kayak gedung kembar di Amerika yang di tabrak pesawat itu loh. Di dalem juga kita sempat bertanya-tanya “kok tokonya pada tutup gini sih? Padahal kan udah siang.” Lagi-lagi saya tersadar, kita salah tempat (lagi). Setelah keliling-keliling mall dan nggak nemu yang bisa di liat apalagi dibeli, akhirnya kita memutuskan untuk makan di salah satu tempat makan Italy, dibagian depan Mall itu. Sambil nunggu pesenan datang, kita melakukan banyak hal, dari mulai foto-foto sampai salah satu teman saya cerita kalau dia baru aja putus sama pacarnya, dan jujur menurut saya itu putus yang paling so sweet sedunia –mana ada ya putus yang so sweet?— kita skip ya bagian curhatnya, yang pasti saking asiknya curhat makanan yang sudah datang dari tadi kita cuekin sampai dingin kayak es batu. Oh iya! Pizza di restoran ini enak banget! Bener-bener harus coba deh, nggak bakal nyesel, dijamin. Nama restaurant-nya kalau nggak salah A’la Pasta.
Setelah kenyang dan habis bahan curhatan, akhirnya kita bertiga berangkat ke tempat tujuan utama kita, yeaaa TMII here we come *nari ala girlband.* Ternyata jauh juga ya dari Mangga Dua ke TMII, kita harus lewat tol kota yang untung waktu itu belum macet. Kesan pertama waktu sampai di TMII adalah ‘wah, jadi beda yaa. Udah berapa lama nggak kesini.’ dan entah kenapa saya orang Bandung yang notabene-nya nggak bakal susah buat pergi ke Jakarta tapi seneng banget bisa nyampe TMII.
bagus kan gerbangnya?
Beres Shalat Dzuhur, kita memutuskan untuk naik kereta gantung atau gondola, atau nama kerennya skylift. Dari ketinggian yang nggak diketahui itu, kita bisa ngeliat apa aja yang ada di TMII, satu kata yang bisa saya ungkapkan AMAZING! Sebenernya biasa aja sih, ada juga yang sudah kurang terawat, tapi entah saya ngerasa senang dan bangga Indonesia punya tempat wisata ini. Danau miniatur Negara Indonesia, rumah-rumah adat dari setiap daerah, aquarium ikan air tawar yang katanya gede banget, taman burung yang katanya koleksinya banyak banget, dan hal-hal lainnya. Sayang karena waktu yang tidak memungkinkan, kita gagal masuk ke aquarium air tawar dan taman burung. Turun dari skylift, saya ketemu badut kelinci dan kita memutuskan untuk berfoto dengan si badut. Dari situ saya nemu satu fakta, jadi badut adalah salah satu pekerjaan yang tidak perlu berpura-pura, dalam keadaan bad mood sekalipun orang-orang nggak akan tau kok, topeng kepalanya sudah ada bentuk mulut yang selalu tersenyum, tidak akan pernah berubah.
kita bersama badut yang tidak pernah cemberut
saya di rumah adat papua
Sudah puas foto sana-sini, sekarang saatnya kita untuk katarsis, mengeluarkan semua penat-penat yang ada. Welcome to snowbay! Di snowbay ini ada 3 macem prosotan untuk orang dewasa, dan ada juga yang khusus untuk anak kecil, totalnya sendiri saya kurang ingat. Selain itu ada semacam Zaccuzi, kolam arus, dan yang paling saya suka yaitu kolam ombak. Kita bertiga tertawa lepas saat bermain di kolam ombak, sampai teman saya bilang gini, ‘ih kita kayak orang kampung, tapi seneng bangeeeetttt’ katanya sambil terus tertawa. Ya, kita seneng banget, lepas banget, bebas banget, semua penat bener-bener keluar disana. I want that time happened for the second time. 
 
Setelah puas bermain-main di kolam ombak, kali ini giliran kolam arus yang kita datangi. Asiknya di kolam arus ini kita bisa naik pelampung dan duduk sambil membiarkan badan kita terbawa arus. Satu hal yang saya pelajari disini, arus itu susah banget buat di lawan, di kolam arus aja, saya dan teman-teman saya selalu mencoba untuk berjalan melawan arus, hasilnya? Nihil. Kita sama sekali nggak pernah berhasil buat berjalan dengan cepat, bahkan beberapa kali kita malah terjatuh. Intinya, jangan pernah nentang apa yang ada di dunia ini, ikutin aja. Tapi bukan berarti kita selalu mengikuti apapun yang terjadi ya, kita tetap harus bisa memilih apa yang baik buat kita dan yang buruk buat kita. Hidup itu hanya urusan memilih kok.
Dari ketiga wahana yang ada disana, ada satu wahana yang jujur bikin saya takut banget, saya paling nggak suka dan nggak bisa buat naik perosotan yang ketutup dan kecil, mungkin phobia, nggak ngerti juga deh. Tapi kedua teman saya membujuk saya untuk ikut naik, ‘lebar Ni, udah bayar mahal-mahal nggak nyobain.’ Ok, she’s got the point. Dengan jantung yang berdegup lebih kencang saya memutuskan untuk naik wahana itu. Setelah turun dengan selamat, dan sedikit air yang terminum saya dapat satu pelajaran –lagi— yang namanya ketakutan itu harus di lawan agar kita bisa berhasil, rasa takut itu muncul untuk memunculkan keberanian dalam diri kita. Nggak akan ada keberanian kan kalau nggak ada ketakutan. Got it?
 
Puas kita main-main di snowbay sekarang saatnya kita pulang. Sebelum pulang kita sempet mampir dulu ke mesjid yang ada di dalam TMII untuk shalat magrib. Saat sedang wudhu saya menemukan sesuatu yang sedikit aneh, ada ibu-ibu memandikan anaknya di tempat wudhu. Mungkin karena tempat wudhu tersebut sepi, tapi karena kejadian itu saya jadi tersadar bahwa saya masih berada di Indonesia. Saya sepertinya tidak akan menemukan hal serupa di Negara lain. Negara tetangga kita aja, Singapore untuk masuk ke toilet aja harus ngantri, di Jepang buang sampah aja ngantri. Ya that’s why Indonesia unique.
setelah selesai shalat dan makan malam di salah satu mall dekat TMII akhirnya kita memutuskan untuk pulang, thanks to Anisa Firdausi and Renita Agustyani for this ‘flash’ holiday. :*