opini

the mask

saya pernah nulis sebelumnya, kalau hidup ini pasti di tentukan oleh yang namanya reputasi, no excuse.
saya yakin semua orang sadar akan hal itu, makanya banyak orang atau mungkin semua orang mengatur tingkah lakunya sehingga mereka tetap bisa menjaga reputasinya. walaupun gitu, nggak seharusnya kita hidup dengan selalu memakai topeng. kita pura-pura suka sama sesuatu padahal kita benci setengah mati sama hal itu. kita pura-pura ramah sama orang biar dikenal sebagai orang yang supel dan baik banget. padahal orang yang kita ramahin tuh nggak kenal juga sama kita.
mungkin kadang-kadang kita nggak sadar kalau pengaturan tingkah laku kita itu udah jadi topeng buat kita, jadi sesuatu yang nyembunyiin diri kita yang sebenernya, seremnya lagi ngebuat kita lupa siapa diri kita. lupa akan kelebihan kita yang sebenernya. semuanya tertutup, bahkan dilupakan. semua yang kita lakukan itu cuma topeng doang buat kita, yang semata-mata untuk menjaga reputasi kita.
kita bakal cape sebenernya kalau selalu hidup pake topeng, semua yang kita lakuin pasti kita pikirin, kita jadi nggak bebas untuk ngelakuin apa aja. kita terlalu terpaku sama penilaian orang di luar sana yang sebenernya belum tentu bener, apalagi penilaian orang yang sama sekali nggak kenal sama kita. lagian kalau emang mau baik ya udah baik aja beneran, jangan cuma sekedar topeng belaka. baik emang pada dasarnya niat untuk berbuat baik, bukan baik karena semata-mata pengen dibilang baik sama orang lain.
intinya sih, lakukan semua hal yang didasari oleh niat dan hati, bukan sekedar untuk ‘menjaga’ reputasi kita aja.
“reputasi memang bukan segalanya-melainkan satu-satunya” – Tessa Intannya
opini

good side, bad side.

“koin punya dua sisi yang keduanya pasti kita lihat”
 
 
sudah sering saya ungkapkan kalau saya, kamu, kita, semua orang itu pasti punya dua sisi, yaitu baik dan buruk. kalau kata ibu saya setiap orang punya sisi gelapnya, ustad sekalipun. terlalu naif rasanya kalau kita hanya ngeliat seseorang itu dari sebelah sisi aja, selalu dari baiknya aja atau bahkan dari buruknya aja. 
untuk contoh kita lihat berita yang kemaren-kemaren sempet membuat heboh, ngga di TV, radio, koran, bahkan twitter. semua orang ngomongin masalah Lady Gaga, yang satu ngecam banget Lady Gaga berasa dia itu seorang koruptor yang sudah makan uang rakyat sampe milyaran rupiah, atau lebih parahnya lagi seorang teroris yang sudah membunuh ribuan orang yang tidak bersalah. 
 
padahal faktanya Lady Gaga hanya seorang seniman yang emang saya akuin gayanya agak sedikit nyentrik, ya mungkin Melly Goeslow-nya America. yang beda? jelas bajunya, tapi untuk gaya sama-sama nyentrik bukan? beda budaya beda juga nyentriknya. dan hebat (aneh)-nya semua lapisan masyarakat, bahkan lembaga pemerintahan ribet ngurusin izin konser Lady Gaga, sampe-sampe kasus hambalang, wisma atlet dan lain-lain terlupakan. lucu ya? konser Lady Gaga kesannya lebih kacau dari pada kasus korupsi milyaran. sedih. 
 
saya tau kenapa orang-orang nampak khawatir banget sama konser Lady Gaga, yang katanya ditakutkan merusak moral bangsa dengan pornografi dan pornoaksi (sepertinya mereka tidak tau tentang dangdut pesisiran ya?) dan mengapa mereka seperti itu? mereka tidak mengenal Lady Gaga. saya kenal? engga juga, tapi mencoba untuk melihat dia dari sisi lain. kebaikan dia, atau apapun. coba deh pikir-pikir, Lady Gaga nyumbang untuk bencana tsunami di jepang, dia juga udah setuju kok buat mengikuti seluruh aturan yang ada di Indonesia, lagu-lagu Gaga yang sebenarnya sangat menginspirasi banyak orang (ok, orang yang nolak Gaga kayaknya ngga pernah denger lagunya) dan apakah orang-orang yang berhasil membuat Gaga gagal ke Indonesia tau kalau sang artis sampai minta maaf ke orang-orang indonesia karena konsernya gagal? please,  it’s not completely her fault.  berikut adalah tweet Gaga yang meminta maaf tersebut “we had to cancel the concert in Indonesia, i’m so sorry to the fans & just devastated as you if not more. you’re everything to me” 
 
saya bukan fans Lady Gaga, ngumpulin albumnya juga engga, tapi saya tau saya engga boleh nilai dia atau siapapun dari satu sisi aja, itu engga pernah adil buat mereka. kita juga engga mau kan cuma diliat apa lagi diinget sebelah sisi aja sama orang lain?
jangan sampai deh ya kita nyesel gara-gara kebiasaan kita sendiri, nilai orang cuma dari sisi jelek atau bagusnya doang.