-070818-

1533648086682

“Ucap syukur tak henti-hentinya keluar dari mulutku. Bersyukur bahwa kesulitan dan keraguan selama ini bisa terlewati. Bersyukur akhirnya salah satu tujuan berhasil didapatkan.”

Continue reading “-070818-“

Advertisements

Speak Up: Why is mental health important?

Picture1

Mental health needs a great deal of attention. It’s the final taboo and it needs to be faced and dealt with.” – Adam Ant.

Sekarang ini kesehatan mental lagi banyak jadi pembahasan, terutama di media sosial. Saat ini mulai ramai orang membicarakan betapa pentingnya kesehatan mental, concern terhadap keluhan-keluhan mental yang sebelumnya masih dipandang sebelah mata. Continue reading “Speak Up: Why is mental health important?”

Pertambahan Usia = Pendewasaan Pribadi (?)

Picture1

 

“Forget the past; look forward to the future, for the best things are yet to come.” – Anonim

Akan tiba waktunya dimana perayaan ulang tahun bukan lagi sesuatu yang harus dirayakan.

Waktu dimana kejutan dari orang-orang terdekat bukan lagi jadi sesuatu hal yang ditunggu.

Waktu dimana prosesi tiup lilin bukan lagi sebagai suatu upacara tanpa arti apapun. Continue reading “Pertambahan Usia = Pendewasaan Pribadi (?)”

Love and Commitment, are they the same?

upload relationship

“Setiap orang punya cara tersendiri untuk mengungkapkan rasa sayangnya. Setiap orang juga punya persepsi sendiri terhadap perlakuan pasangannya.”

 

Di dalam kamus Psikologi, relationship diartikan sebagai hubungan jangka panjang yang dibangun di atas ikatan emosional yang kuat dan rasa komitmen terhadap orang lain. Hubungan ini sedemikian dekat dan kuat sehingga individu tersebut tidak dapat dengan mudah mengganti pasangannya dengan orang baru (Reber, 1985). Continue reading “Love and Commitment, are they the same?”

#diary (calon) Psikolog Juga Manusia Ep. 3

episode 3 foto

“Siapa bilang anak psikologi cuma belajar tentang gangguan jiwa?”

 

HAI blog readers. Apa kabar? Ayo siapa yang nungguin #diary (calon) Psikolog Juga Manusia episode selanjutnya? Sebenernya niat awal episode 3 ini bisa tayang di tanggal 29 April 2018, tapi karena kemarin sakit hampir satu minggu, jadinya tulisan ikut molor juga. Continue reading “#diary (calon) Psikolog Juga Manusia Ep. 3”

#diary (calon) Psikolog Juga Manusia Ep.2

ilustrasi

Hai Teman-teman, sorry nih telat update #diary (calon) Psikolog Juga Manusianya. Udah pada nungguin ya? (aku emang anaknya, ke.pe.de.an) oke, kita langsung mulai aja yaaa…

Nah kalau di episode pertama kemarin aku jelasin gimana sampai akhirnya memutuskan untuk nerusin sekolah, untuk di episode ini aku nggak akan nyeritain pengalaman kuliah S2 ku dulu. Untuk sekarang, aku ingin membahas tentang pertanyaan yang sering ditanyakan ke anak Psikologi, apa coba?

“oh nanti kalau udah lulus jadi Psikiater ya?” atau “bedanya psikolog sama psikiater apa?” Continue reading “#diary (calon) Psikolog Juga Manusia Ep.2”

What You Feel, It’s Because What You Think.

images
pinterest

 

“People don’t just get upset. They contribute to their upsetness” – Albert Ellis

 

Menurut teori psikologi, pribadi individu itu diliputi oleh berbagai hal, yaitu Kognisi (bagaimana individu tersebut berpikir), Afektif (bagaimana emosi dan perasaan individu itu), Motivasi (bagaimana individu tersebut ‘berusaha’ atau bergerak), dan yang terakhir adalah Relasi Sosial (bagaimana seorang individu berinteraksi dengan lingkungan maupun individu lain). Nah, sekarang tolong kasih aku kesempatan untuk menyampaikan pendapatku mengenai hubungan antara dua hal tersebut, yaitu kognisi dan afektif. Sebelum mulai, aku mau memberikan sebuah pertanyaan, “kalau kalian lagi kesel, perasaan itu muncul sendiri atau ada pikiran yang mengikutinya?”

Di Ilmu Psikologi, dipelajari bahwa pikiran dan perasaan atau emosi itu berkaitan. Banyak dari munculnya suatu emosi atau perasaan itu karena adanya suatu pikiran yang menyertai, kebayang ngga maksudnya? Sering denger dong, satu quote yang bilang ‘kamu senang jika kamu berpikir demikian’ atau ‘kamu bisa karena kamu berpikir kalau kamu bisa.’ Contoh yang lebih jelas deh ya, misalnya kita takut sama ular, karena kita punya pikiran bahwa ular itu mengancam dan membahayakan diri kita. Contoh kedua, ketika kita marah sama seseorang biasanya karena kita punya pikiran bahwa seharusnya orang itu tidak berlaku seperti itu kepada kita. Sudah makin kebayang kan? Jadi, memang terkadang perasaan nggak enak yang kita rasakan itu karena ada pikiran yang salah di diri kita. Hanya saja kita sering tidak menyadari hal ini, karena ketika emosi yang sudah dominan menguasai diri kita, kita jadi sulit untuk berpikir jernih. Jadi boro-boro mikirin penyelesaiannya, mikir penyebabnya aja kadang-kadang sulit dan semua setuju dong kalau kita nggak akan pernah bisa nyelesain masalah kalau penyebabnya sendiri kita nggak tau. Akhirnya ya makin menjadi lah emosi yang nggak baik itu di diri kita.

Pertanyaan selanjutnya adalah, gimana caranya supaya kita nggak ‘tenggelam’ di dalam emosi negatif itu? Menurutku salah satu cara yang bisa dilakuin adalah Analisa “kenapa kamu berperasaan seperti itu?” sulit? Tentu, apalagi kalau yang ngga biasa, eh susah deng buat semua juga karena kita terbiasa ‘mengobati’ apa yang kita rasakan tanpa benar-benar ‘mengobatinya.’ Contohnya nih, kamu lagi marah atau sedih, yang dilakukan? Mencoba menghilangkan perasaan tersebut kan tanpa menghilangkan pikiran yang sebenarnya ada, jadi ya perasaan itu akan hilang tapi akan muncul lagi juga ketika suatu kejadian yang mirip terjadi lagi. Eh kebayang nggak sih maksudku? Kita terbiasa untuk lebih memilih untuk karokean, atau bahkan tidur daripada benar-benar memikirkan mengenai masalah yang terjadi dan bagaimana cara menyelesaikannya. Ya seperti yang aku bilang tadi, kita akan cenderung memilih memperbaiki perasaan kita terlebih dahulu. Apakah cara ini salah? Tentu nggak dong, apalagi kita tau kalau lagi kesel atau sedih kita nggak akan bisa mikir jernih kan.

Sebenarnya, aku punya salah satu cara yang mungkin cukup efektif untuk menyelesaikan permasalahan ini, yaitu dengan cara menulis. Untuk tau masalah apa yang sebenarnya kita alami, pikiran apa yang sebenernya bikin mood kita super ajaib, ya kita harus mengeluarkan semua yang kita pikirkan dalam bentuk tulisan. Breakdown apa saja yang sebenarnya kita pikirkan, setelah ditulis, biasanya kita jadi tau apa pikiran apa yang sebenernya paling mengganggu kita, mana pikiran yang menjadi sumber masalah. Lalu selanjutnya, selesaikan apa yang bisa diselesaikan. Ikhlaskan yang harus di iklhaskan, dan lupakan yang perlu dilupakan. Intinya sih, jangan sampai perasaan kita dipenuhi sama emosi-emosi negatif terus karena kita nggak pernah mendalami apa yang sebenarnya membuat perasaan negatif itu muncul.

10 Buku Terfavorit

696c7170e4148a8c31b7a5e8e8f1f7f7
pinterst

“A book is a dream, that you hold in your hands” – Neil Gaiman

Setelah waktu itu posting tentang film Indonesia terfavorit, dan serial Hollywood terfavorit, kali ini saya akan membuat list tentang buku-buku favorit saya. Dari 10 buku ini, ada yang fiksi dan non-fiksi, dan ada yang lokal maupun import. Buat teman-teman yang suka baca juga, atau lagi cari-cari buku bacaan, semoga postingan ini bermanfaat yaaa… yuk kita mulai, oh iya seperti biasa nomor terkecil adalah yang paling favorit ya…  Continue reading “10 Buku Terfavorit”

#diary (calon) Psikolog juga Manusia Ep.1

img_6706.jpg

Yap, sesuai janji saya yang saya sampaikan di postingan sebelumnya, sekarang saya mau mulai cerita tentang pengalaman saya berkuliah di Magister Profesi Psikologi. Sebelum mulai, saya akan membagi cerita ini ke beberapa episode, dan dia akan punya judul yang sama yaitu #Diary (calon) Psikolog Juga Manusia. Semoga saya bisa konsisten posting min. 2 minggu sekali. mungkin juga nanti dia akan jadi kategori sendiri dan InsyaAllah akan ada ilustrasi khsus hehe. Ok, daripada kelamaan, saya akan langsung cerita ya awalnya saya memutuskan untuk nerusin sekolah. Semoga bermanfaat… Here we go

Continue reading “#diary (calon) Psikolog juga Manusia Ep.1”